
di kediaman Andra kini mereka sedang berkumpul di meja makan, menikmati hidangan makan malam sembari bercengkrama
Ratih sangat menyukai kehangatan di tengah-tengah Andra dan ibunya, membuat ia mengingat ibu dan bapak nya di kampung. Ratih belum memberi tahukan bahwa ia akan segera menikah bahkan lamaran waktu itu Ratih tak memberi tahukan ibu dan bapak nya.
sebenarnya ada rasa rindu di hatinya karena sudah lama ia tak menghubungi keluarganya, pasti ibu dan bapak nya merasa kebingungan karena Ratih tak memberikan kabar
Andra melihat ekspresi wajah Ratih yang berubah sendu membuat ia bertanya- tanya ada apakah gerangan yang membuat Ratih menjadi diam dan sendu
"sayang kamu kenapa?" Andra menggenggam tangan calon istrinya itu
pertanyaan Andra membuat Adrian dan ibu Airin menatap ke arah Ratih
"Hem...nggak apa-apa ko" jawab Ratih tersenyum yang di paksakan
"kamu gak bisa bohong dari aku sayang, katakan ada apa?"
"aku hanya rindu ibu dan bapak ku di kampung mas, sudah lama aku tak menghubungi mereka apa kabar mereka, Angga juga sudah pasti sekarang kuliah dan meninggalkan ibu bapak di rumah berdua" ucap Ratih sendu dengan menitikan air mata
"kenapa tidak kamu telfon atau vc saja sekarang" usul Andra
"iya nanti akan aku telfon ibu, kalau vc tidak bisa mas karena ibu ku tak memiliki ponsel Android" jawab Ratih jujur
"ma..kita pulang kampung saja ketemu nenek dan kakek Iyan juga kangen banget sama nenek dan kakek" Adrian ikut menimbrung pembicaraan kedua orang dewasa itu
"benar itu Ndra, kalian kan mau menikah sudah sepatut nya kalian meminta restu orang tua, terutama kamu Ndra yang harus melamar langsung kepada kedua orang tua Ratih untuk memberikan restunya" ibu Airin ikut menimbrung
"mama benar, sebaiknya kita ke kampung mu ya, sekalian mama ngelamarkan Ratih untuk ku. kita akan berangkat lusa bagai mana" tutur Andra menyetujui perkataan mama nya i tu
"mama setuju lebih cepat lebih baik, karena kalian akan menikah dalam waktu dekat ini kan"
Andra tersenyum melihat mamanya bersemangat untuk ke kampung halaman Ratih, Andr beralih pada Ratih yang hanya diam
"bagai mana sayang," tanya Andra
"apa mas tidak repot jika lusa kira ke kampung" tanya Rati merasa tak enak apalagi kekasihnya ini sedang melakukan misi yang sudah pasti akan sangat sibuk sekali
__ADS_1
"tenang saja, aku sudah serahkan semua pada Alex untuk menghendel " jawab Andra dan mengelus kepala Ratih
"benarkah mas, terimakasih banyak karena mas mengerti aku. makasih juga Tante yang dukung aku pulang " Ratih tersenyum bahagia
"sekarang panggil mama saja Rat, karena mama juga akan jadi mama kamu kan" ucap ibu Airin memerintah menantunya itu
"iya..ma.ma, terimakasih" Ratih mengubah panggilannya dengan masih kaku
"ya sudah habis kan makan nya ya, setelah itu kamu telfon dulu ibu mu di kampung" ucap ibu Airin dengan tersenyum karena melihat calon mantunya ini sudah bersemangat lagi
"iya ma" jawab Ratih dan mereka pun melanjutkan makan malam.
•
•
•
Ratih kini berada di kamar Adrian, kamar nya kini sangat luas berbeda dengan kamar waktu di kontrakan. fasilitas di kamar Adrian lengkap dengan meja belajar di sudut kamar berdekatan dengan jendela yang mengarah ke balkon.
Andra sengaja menaruh meja belajar di sana agar Adrian ketika belajar tidak merasa bosan dan dapat melihat pemandangan luar hingga membuat anak itu menjadi bersemangat untuk belajar. tak lupa Andra pun membelikan komputer untuk melengkapi meja belajarnya meski mungkin di usia Adrian saat ini hanya bermain game saja
karena komputer sudah di lengkapi sensor, dan akan mati secara otomatis. yang akhirnya Ratih pun menyetujuinya.
"Iyan tidur ya, sudah malam besok sekolah" Ratih menyelimuti anak nya itu lalu ia mengusap kepala Adrian
"iya...selamat tidur ma" ucap Adrian patuh
"selamat tidur sayang, baca do'a dulu sebelum tidur" Ratih mengingatkan
Adrian pun membaca do'a sebelum tidur, Ratih tersenyum melihat putranya itu sudah selesai membaca do'a dan mulai memejamkan matanya
Ratih menyalakan lampu tidur lalu ia berjalan menuju saklar yang berdekatan dengan pintu kamar. Ratih mematikan lampu utama kamar sehingga hanya menyisakan lampu tidur saja.
Ratih pun keluar dari kamar Adrian lalu ia menuju kamarnya karena di lantai dua ada 3 kamar yang salah satunya di tempati Adrian. jadi di lantai dua yang menempati kamar Andra, Ratih dan Adrian. sedangkan ibu Airin di bawah karena sudah tak memungkinkan untuk naik turun tangga lagi
__ADS_1
Ratih masuk ke kamarnya dan menutup kembali pintu kamar nya, ia mencari ponselnya di nakas meja samping tempat tidurnya
Ratih mencari nomor telfon ibunya di ponsel miliknya, setelah menemukan Ratih pun langsung menghubungi nomor itu
cukup lama Ratih menunggu panggilan di angkat, mungkin saja ibunya sudah tidur fikir Ratih
hingga panggilan ke tiga barulah telfonnya di angkat
"hallo" suara wanita paruh baya di seberang sana
"hallo...Assalamualaikum Bu"
"Waalaikummussalam, Ratih kok baru hubungi ibu sih sudah berbulan- bulan kenapa baru hubungi sekarang, kamu gak kenapa-kenapa kan di sana" suara ibu Sumarni di seberang sana bertanya tanpa jeda membrondong Ratih dengan segala pertanyaan
"Alhamdulillah aku baik- baik aja bu, maaf karena baru bisa hubungi sekarang karena aku lumayan sibuk Bu di resto" jawab Ratih tak ingin menceritakan perlakuan Yasril padanya tempo waktu lalu
"syukurlah kalau kamu tidak apa-apa, Adrian gimana Rat"
"Alhamdulillah, Adrian baik Bu sekarang tambah pintar dalam pelajaran"
"ibu sendiri bagai mana kabarnya" tanya Ratih mempertanyakan keadaan ibunya itu
"Alhamdulillah ibu baik Rat, kapan kamu pulang nak" tanya ibu Sumarni karena ia sudah merasa rindu dengan cucunya
"insya Allah lusa Bu aku pulang" jawab Ratih tak memberi tahu kan bahwa ia akan pulang bersama Andra dan ibu nya
"benarkah kamu pulang lusa, wah ibu haru nyiapin banyak makanan untuk Adrian nih kan dia doyan makan" ibu Sumarni terkekeh mengingat sang cucu yang makannya banyak
Ratih pun ikut terkekeh mendengar penuturan ibunya itu
"ya sudah Bu aku tutup ya telfonnya, sudah malam" ucap Ratih hendak mengakhiri panggilan telfonnya
"ya sudah, ibu tunggu ya lusa"
"iya Bu, Assalamualaikum"
__ADS_1
"waalaikummussalam"
Ratih mengakhiri panggilan telfonnya, lalu ia menaruh ponselnya di nakas kembali setalah itu ia mulai membaringkan tubuhnya pada kasur empuk dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut