MENGAPA SELALU WANITA YANG TERSAKITI

MENGAPA SELALU WANITA YANG TERSAKITI
Bab 46


__ADS_3

pagi ini di kediaman Andra penghuni rumahnya sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampung Ratih


"sayang sudah siap" tanya Andra ketika masuk ke dalam kamar Ratih


"sudah mas" jawab Ratih sembari menenteng koper nya


"ya sudah ayo kita turun sekalian samperin Adrian di kamar nya" Andra mengambil alih koper yang di bawa Ratih tadi lalu mereka keluar dari kamar dan kini menuju kamar Adrian


"cklek..." Ratih membuka pintu kamar Adrian" Yan sudah selesai " tanya Ratih ketika melihat anak nya itu tengah memakai sepatunya


"udah ma.." Adrian lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri ibunya itu


"ya sudah ayo kita turun, koper Iyan sudah di bawah kan" tanya Andra


"sudah om" jawab Adrian dengan senyumnya


"ya sudah kalau gitu"


mereka pun turun ke bawah, terlihat ibu Airin pun sudah bersiap dan tengah duduk di sofa ruang tamu, ia tersenyum ke arah anak- anaknya itu. ibu Airin melihat sudah seperti keluarga bahagia


" mama sudah siapa" tanya Andra pada ibunya itu


"sudah nak, sekarang ayo kita berangkat karna kalau ke siangan nanti bisa-bisa jalanan lebih macet" ucap ibu Airin yang mendapat anggukan dari Andra


mereka pun keluar dari rumah dan menuju mobil, Andra sengaja membawa mobil yang lebih besar agar muat untuk mereka dan membawa 4 koper. dan agar mama nya juga merasa nyaman bisa istirahat dengan nyaman meski di dalam mobil


"pak Mamat, tolong bawakan kopernya ya" perintah Andra pada satpam rumahnya itu


"baik den" pak Mamat langsung menjalankan perintah dari majikannya itu


mereka berempat pun masuk ke dalam mobil dengan Andra sebagai supirnya sedangkan ibu Airin lebih memilih di kursi penumpang belakang karna ia ingin sembari berbaring di belakang, Adrian juga duduk bersama sang Oma untuk menemani Oma nya itu


Ratih duduk di depan samping kemudi, setelah pak Mamat selesai memasukan koper-koper itu. Andra mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah mewah miliknya, ia pun mengklakson tanda pamit kepada pembantu di rumahnya serta pak satpam

__ADS_1


pak Mamat pun menutup kembali gerbang rumah majikannya itu lalu menguncinya kembali.





di perjalanan tak terasa sepi karna Adrian yang bercanda dengan sang Oma di belakang, sementara Andra dan Ratih hanya menyimak saja candaan mereka.


sesekali Andra menggenggam tangan Ratih seolah tak ingin melepaskannya, perjalanan lumayan lengang meski ada sedikit macet di titik-titik tertentu. namun ke adaan itu sama sekali tak menyurutkan kebahagiaan mereka terutama Adrian yang akan bertemu kakek dan nenek nya


"ma..paman Angga apa ada di rumah?" tanya Adrian pada Ratih saat tengah berhenti bercanda


" paman Angga kuliah sayang, di kota B" jawab Ratih yang tahu memang dari dulu ke inginan Angga adiknya itu untuk kuliah di kota B


"berarti kita gak ketemu paman Angga dong ma" Adrian tampak kecewa karna selama ini dia sangat dekat dengan Angga pamannya itu


"ya mungkin saja, nanti kita vc aja ya sayang" hibur Ratih pada anak sulung nya itu


"lumayan masih 8 jam lagi" jawab Andra saat melihat jam digital yang berada di mobilnya


"ya udah Iyan mau tidur aja deh, bosen ngantuk Oma juga udah tidur" ucap Adrian lalu membaringkan tubuhnya di samping sang Oma


"iya sebaiknya Iyan tidur aja, biar gak bosan" ucap Ratih


akhirnya tak ada lagi obrolan antara ibu dan anak itu karna Adrian sudah terlelap dalam tidurnya


"sayang..." panggil Adrian


"hmm..kenapa mas" tanya Ratih yang melihat ke arah dirinya


"aku ada niat untuk bantu bapak dan ibu buka usaha, menurut mu bagaimana" tanya Adrian pada Ratih

__ADS_1


"usaha, usaha apa mas la wong bapak sama ibu ku aja petani" tutur Ratih seakan lucu karna ia pun tak tahu ibu dan bapak nya itu menginginkan usaha apa dan usaha apa yang cocok buat mereka


"ya gak apa-apa sayang, memang petani tidak boleh memiliki usaha" tanya Andra


"ya gimana mas, aku aja gak tahu bapak dan ibu mau usaha apa soalnya selama ini gak pernah ada obrolan soal itu" jawab Ratih menjelaskan


"aku akan buat kan usaha yang sesuai dengan di kampung, di kampung mu apa pendapatan terbesar" tanya Andra pada Ratih karna ia belum tahu sama sekali pendapatan di desa itu apa


"sebagian besar sawit mas, cuma ada juga yang tanaman palawija dan karet. cuma sebagian besar sawit" jawab Ratih memberi tahu


"ya sudah nanti mas buka kan usaha untuk penimbangan sawit yang untuk kebun-kebun pribadi bukan milik perusahaan" ucap Andra menemui solusinya


"tapi mas itu kan biaya nya besar" Ratih merasa tak enak harus merepotkan calon suaminya itu


"gak apa-apa sayang, kasian kan bapak sama ibu sudah tua sudah waktunya pensiun dari pekerjaan beratnya, kamu gak usah merasa gak enak begitu aku ikhlas kok sayang dan aku gak menuntut untuk mengembalikan apa yang aku kasih karna aku tulus bantu bapak sama ibu" ucap Andra menjelaskan ia tahu ke khawatiran dan ketidak enakan Ratih, untuk itu Andra menjelaskan agar Ratih mau menerima


"ya sudah, kalau begini aku bisa apa mas aku cuma bisa pasrah saja" Ratih pun menghembuskan nafasnya lalu bersandar di sandaran kursi


Andra mengelus kepala Ratih lembut, ia tersenyum pada calon istrinya itu .


"ya sudah kamu istirahat saja perjalanan masih jauh, nanti aku cari tempat istirahat untuk makan siang dan kalau sudah ketemu akan aku bangunkan" ucap Andra masih tetap fokus menyetir


"nggak mas, aku gak ngantuk lagian aku mau temenin kamu mas kasian kalau kamu sendirian gak ada yang ngajak ngobrol" Ratih menolak perintah dari Andra karna ia tahu pasti Andra juga merasa lelah jika tak ada yang mengajaknya ngobrol karna itu bisa berbahaya untuk mereka semua jika ke adaan Andra lelah tak ada yang mengingatkan


"aku gak apa- apa sayang" Andra berusaha meyakinkan


"gak mas, udah mas fokus nyetir aja" ucap Ratih tetap menolak ia memencet tipe yang ada di dalam mobil Ratih mencari lagu yang menurutnya bagus




setelah menemukan itu Ratih menyalakannya, di mobil itu seketika tak ada kesunyian lagi karna Ratih memutar lagu di dalam mobil meski dengan suara pelan karna terlalu bahaya juga jika suara musik di dalam mobil terlalu kencang

__ADS_1


karna akan mengganggu pendengaran ketika ada kendaraan di belakang ketika hendak menyalip. Andra tersenyum melihat Ratih yang asik mengikuti alunan musik itu terlihat Ratih mengikuti alunan lagu yang di bawakan penyanyi itu.


__ADS_2