
Ratih menggeliatkan tubuhnya ia tampak heran mengapa posisi tidur nya berubah padahal tadi ia tertidur dalam posisi duduk
Ratih pun melihat ke arah samping di mana Adrian tidur, Ratih melihat Andra yang juga tengah tertidur di samping Adrian
"pasti mas Andra deh tadi yang benerin posisi tidur ku" ucap Ratih berbisik
"jam berapa sekarang" Ratih menatap jam yang menempel di dinding kamar Adrian yang sudah menunjukan pukul 6 sore
"hah..udah jam 6 sore, ya ampun aku tidur kok lama banget ya" kaget Ratih
"Iyan bangun, mas bangun" Ratih membangunkan Adrian dan Andra secara bergantian
"eghhh...kenapa sih ma" ucap Andra masih dalam mata terpejam
"bangun dulu" ucap Ratih
"mas bangun udah sore" Ratih membangun kan Andra
"kenapa sih sayang" Andra pun terbangun dari tidurnya
"udah sore, kasian mama di bawah sendirian" ucap Ratih yang langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri
tanpa menghiraukan dua orang yang berada satu kamar itu, yang penting Ratih sudah membangunkan nya
setelah 15 menit membersihkan tubuhnya Ratih pun keluar dari kamar mandi, ia masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya
Ratih pun sudah selesai memakai pakaiannya yang terlihat simpel, Ratih memoles wajahnya dengan makeup tipis dan terakhir memoles bibir nya menggunakan lipbalm saja agar tak terlihat menor
setelah selesai Ratih menyisir rambutnya dan membiarkan rambut bergelombang ya itu jatuh terurai, dan terakhir sentuhan vitamin untuk kulit tubuhnya Ratih menggunakan body lotion untuk kulit tangan dan kaki nya
"udah selesai, tinggal turun ke bawah. kasian kalau mama nunggu makan malam kelamaan" ucap Ratih lalu bergegas keluar dari kamarnya
Ratih mihst ke kamar Adrian yang ternyata sudah tak ada siapa- siapa di kamar itu , akhirnya Ratih pun memutuskan untuk turun ke bawah
sesampai nya di ruang keluarga Ratih melihat ibu Airin yang tengah duduk di ruang keluarga
"ma .." panggil Ratih sembari menghampiri ibu Airin yang tengah duduk sendirian itu
"kenapa sayang, baru bangun ya" tanya ibu Airin dengan senyuman yang mengembang di bibirnya
__ADS_1
"iya ma, maaf ya jadi mama sendirian di bawah" ucap Ratih tak enak
"nggak apa- apa, kamu pasti juga capek kan " ibu Airin mengelus lembut rambut calon menantunya itu
"oh iya ma, mas Andra sama Adrian mana ? tadi Ratih liat ke kamar Adrian nggak ada mereka di kamar" tanya Ratih karna ia melihat rumah yang sangat sepi
"mereka ke depan, kata nya mau beli camilan. sebentar lagi juga paling udah pulang" jawab ibu Airin
"oh gitu, pantes aja sepi" Ratih menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari menonton tv yang di putar ibu Airin
"bagaiman di kampung, apa ibu dan bapak menghubungi mu lagi kapan mereka akan ke mari" tanya ibu Airin
"belum ada kabar ma, Ratih pun kemarin udah coba telfon tapi nggak di angkat sama sekali" jawab Ratih dengan wajah lesu nya
"mungkin mereka masih sibuk kali, sabar aja toh persiapannya juga kan sudah hampir selesai dan masih ada waktu 2 Minggu lagi sampai hari H nya" ibu Airin mencoba untuk menenangkan hati Ratih yang sudah pasti tengah gundah itu
"iya ma..." jawab Ratih
setelah percakapan itu terdengar suara ribut di depan yang sudah pasti itu adalah suara Adrian
"mama...Oma ..." panggil Adrian dan mereka yang di panggil pun menengok ke arah sumber suara
"banyak banget nak beli camilan nya" tanya Ratih.
"nggak apa- apa lah sayang, biar Rian juga puas makan camilan ya" bukan Adrian yang menjawab tetapi malam Andra yang menjawab pertanyaan Ratih
"oh iya, nih sate ayam sama sate kambing mamang," Andra menyerahkan kantong kresek yang berisi 4 porsi sate itu
"ya udah aku bawa ke belakang ya sekalian ambil piring" Ratih pun berlalu meninggalkan mereka bertiga di ruang keluarga
Ratih membawa kantong keresek itu ke dapur, ia mebuang setiap bungkus sate kedalan piring masing- masing. setelah selesai Ratih membawa empat piring berisi sate itu ke ruang keluarga karna mereka akan memakannya di sana, Ratih menaruh di nampan dan meminta bi arum membawakan air mineral ke ruang keluarga
"bi tolong bawakan air putih nya ke ruang keluarga ya, kita mau makan di sana" pinta Ratih
"baik non" bi Arum pun mengambil gelas dan teko untuk ia bawa
"ini satenya, mama pasti sate ayam kan" Ratih menyerahkan sate ayam untuk ibu mertuanya itu
"Iyan juga sate ayam kok ma" ucap Iyan Ratih yang mendengar itu pun langsung memberikan sate ayam milik Adrian
__ADS_1
sisa dua piring yang berisi sate kambing itu adalah milik ratih dan Andra, mereka pun makan di ruang keluarga bi Arum sudah menaruh air putih di meja yang berada di ruang keluarga
"bi Arum, kalian ambil sate di mamang untuk kalian makan malam ini ada tiga bungkus yang sudah saya pesankan tadi" ucap Andra pada bi Arum
"terimakasih ndoro tuan nanti saya ambil, kalau begitu saya undur diri kebelakang" ucap bi Arum lalu ia pun pergi ke dapur dan setelahnya mengambil pesanan yang sudah di pesankan oleh majikan mereka untuk mereka makan malam ini
sedangkan di ruang keluarga mereka menikmati makanan nya masing- masing dengan saling bercengkrama, membicarakan banyak hal yang tak terlalu penting hanya obrolan- obrolan ringan sja
"jadi kapan kalian akan ke butik lagi untuk fiting baju pengantin" tanya ibu Airin
"mungkin besok ma, tadi nya sih mau malam ini cuma tiba- tiba saja Alex mengirimkan beberapa berkas di kantor yang harus aku kerjakan malam ini" jawab Andra di sela- sela makan nya
"ya sudah, kamu kerjakan dulu pekerjaan mu kasihan juga Alex kalau harus menghendek semua nya sendiri" ucap ibu Airin memberikan pengertian
"iya ma, malam ini akan aku selesaikan" jawab Andra
"jadi mas malam ini akan lembur" tanya Ratih
"ya mau tidak mau, demi kelancaran pernikahan kita nanti agar tak ada yang mengganggu nanti di sela- sela acara" jawab Andra dengan tersenyum
"iya sudah, " Ratih hanya bisa mengiyakan bagai mana pun juga tanggung jawab Andra akan perusahaan sangat besar apalagi dia adalah CEO nya sendiri
•
•
•
**Cuots
ku berjalan menyusuri jalan berliku melewati semua halang dan rintangan, berharap akan menemukan kebahagiaan.
begitu banyak cobaan yang harus ku hadapi hingga aku tak dapat lagi menilai diri ku sendiri, aku ini siapa dan aku bagai mana
aku hanya dapat merenung dalam diam di ruangan sempit, gelap, pengap dan tanpa cahaya. aku berharap akan ada seseorang yang mengulurkan tangannya untuk menyambutku membantu ku keluar dari ruangan yang sangat menyiksa ku
aku berharap uluran tangan itu yang akan menjadi cahaya ku dan membawa ku kedalam pelukannya, memberikan ketenangan untuk jiwaku yang selama ini dalam kurungan, membasuh luka yang selama ini aku rasakan
menjadikannya mentari di dalam hidup ku ketika aku terbangun dari tidur ku dan menjadikannya bulan untuk menemani ku di dalam tidur lelap ku**.
__ADS_1