
pagi ini adalah acara lamaran yang di selenggarakan di rumah Ratih, karna ibu Sumarni juga ingin merayakan acara lamaran untuk anak pertama nya itu meski pun ini bukan kali pertama ibu Sumarni mengadakan lamaran karna Ratih bukan lagi seorang gadis melainkan seorang janda
seperti layaknya di desa, acara pun di bantu oleh para tetangga ibu-ibu yang sibuk di dapur untuk membuat makanan karna di desa Ratih belum ada yang namanya katering- katering seperti di kota semuanya masih alami menggunakan tenaga para tetangga
sedangkan para bapak- bapak sibuk memasang tarup di depan rumah, meski hanya acara lamaran namun Andra meminta untuk di adakan secara mewah. tak lupa ibu Airin pun memberi tahu adik ipar nya itu ia sudah sangat gatal untuk memanasi balik adik ipar yang tak tahu malu itu.
"gue harus hubungi Alex, seperti nya om Pratomo anteng-anteng saja setelah perusahaan cabang beralih menjadi milik ku. apakah dia bisa setenang itu" gumam Andra yang berada di kamarnya meski di luaran orang- orang sedang riuh karna sibuk namun Andra tak ambil pusing itu
ia pun menelfon Alex untuk menanyakan ke adaan pamannya itu
"hallo...Lex gue ada pertanyaan buat loe" ucap Andra setelah telfon di angkat oleh Alex
"ada apa bro, bukan kah ini hari bahagia loe di sana. loe mau tanya apa" tanya Alex
"kenapa om Pratomo gak ada hubungi gue sama sekali, apakah dia bisa setenang itu setelah perusahaan cabang jadi milik gue balik" tanya Andra pasalanya ia merasa heran sampai detik ini om nya itu tak terlihat uring-uringan
"oh soal itu, loe gak tahu aja setiap hari dia di kantor utama marah- marah dan uring-uringan bahkan karyawan lainnya pun kena imbas nya termasuk gue, dia sudah seperti orang stres asal loe tahu. mungkin dia gengsi aja kalau hubungi loe hanya untuk marah- marah" ucap Alex menjelaskan hal sebenarnya
"benarkah....nyokap gue juga ngundang om Pratomo di acara lamaran gue. kira- kira dia bakal dateng gak ya" tanya Andra pada Alex
"pasti dia datang lah, kan loe ponakannya gimana sih" Alex terlihat kesal dengan pertanyaan yang di ajukan Andra
"ya mana tau, dia kan udah gak pernah anggap gue ponakan sejak bokap gue sakit dan meninggal" ujar Andra merasa kesal
"ya loe tunggu aja, ya udah ya gue masih banyak kerjaan. gara- gara loe gue harus ngurusi kerjaan loe di resto juga. gue cuma bisa kasih loe selamat aja tapi nanti loe bakal bikin acara di sini juga kan" Alex merasa kesal
"elah loe sama sahabat sendiri perhitungan...,tenang aja gue bikin acara gede juga di situ nanti" jawab Andra santai meski sahabatnya itu kesal
"ya udah, udah dulu ya bay" Alex langsung mematikan telfonnya sepihak
"sue...main matiin telfon gitu aja emang di fikir siapa bosnya" Andra mencebik kesal
ia pun meletakan ponselnya di atas kasur, Andra melihat ke luar pintu ia merasa penasaran dengan riuh nya orang- orang yang sedang melakukan aktifitas mereka di luar
Andra yang merasa penasaran pun keluar dari kamarnya, ia merasa takjub dengan yang ia lihat gotong royong dan saling membantu antara tetangga masih kental di sini. ini kali pertama Andra melihat pemandangan seperti ini
"mas...kamu lihatin apa" tanya Ratih yang kini sudah berada di sampingnya
"nggak, aku takjub aja lihat keakraban antara sesama tetangga yang saling membantu ketika tetangga nya memiliki acara" ucap Andra masih menatap para bapak- bapak yang sedang mendirikan tarup di depan rumah Ratih
"nama nya juga di desa mas, ya memang begini masih menjunjung tinggi kebersamaan saling tolong menolong ,meskipun di desa sangat keras ketika mendengar omongan tetangga yang tak enak. sangat berbeda dengan di kota yang rata- rata tetangga nya bodo amat dan bahkan mungkin kalau ada yang meninggal pun orang tak akan tahu saking bodo amatnya" ucap Ratih membandingkan antara di desa dengan di kota
"iya, kebanyakan orang di kota sibuk dengan urusannya masing- masing. tetapi di sini meski pun rumah nya ada jarak yang sekitar 3 meteran antar rumah tetapi ketika tetangganya sedang repot semua membantu ya" Andra masih menatap para bapak- bapak itu
•
•
__ADS_1
dan ada satu bapak- bapak yang baru duduk untuk mengambil air minum.
"kopi mas...?" tawar bapak itu
"terimakasih pak, bapak saja saya sudah tadi" jawab Andra dengan tersenyum sopan
bapak itu pun mengangguk lalu meminum segelas kopi yang ia tuang tadi dari sebuah teremos air panas, yang memang di peruntukan untuk kopi agar tetap panas
"Ratih calon suaminya ganteng, beda sama Yasril dulu. hebat kamu pilih calon suami udah ganteng kaya lagi" puji bapak itu entah itu pujian atau sebenarnya sindiran
"ah bapak bisa aja, ya namanya jodoh mana ada yang tahu pak. mas Yasril saja sekarang sudah bahagia sama istrinya kok" ucap Ratih merendah dan mengatakan bahwa suaminya sudah bahagia bersama istri baru nya
"lah...Yasril sudah nikah toh, bapak kira belum" ucap bapak itu yang terkejut, mungkin saja bapak itu mendengar berita bohong dari orang sehingga membuat nya kaget
"iya pak, malah mas Yasril sekarang di kota yang sama dengan kami" ucap Ratih apa adanya ia tak mau ada gosip tak sedap yang membuat namanya menjadi jelas
"oh, gitu ya sudah bapak lanjut kerja lagi ya" bapak itu pun meninggalkan mereka berdua yang tengah duduk di kursi teras rumah. dan bergabung dengan yang lainnya untuk melanjutkan pekerjaan
"denger sendiri kan mas, pasti bapak itu tadi gak tahu dan ngira kalau aku yang ninggalin mas Yasril cuma buat sama kamu. tanpa aku tahu omongan orang hanya dengan melihat ekspresi bapak itu aku sudah yakin" ucap Ratih memberi tahu Andra
"ya biarkan saja sayang, toh kenyataannya tidak seperti itu" Andra menanggapi santai meski gosip jelek tentang calon istrinya itu
Ratih pun berdiri dari duduknya dan hendak berjalan masuk ke dalam
"mau kemana" tanya Andra yang melihat Ratih berdiri
"boleh deh,dari pada bosen" Andra pun menggandeng tangan Ratih dan mengikutinya menuju dapur di mana para ibu- ibu tengah masak
•
•
•
sesampai nya di dapur Andra di buat takjub lagi melihat para ibu- ibu yang sedang sibuk terlihat di luar dapur masih ada di buatkan tenda dari terpal untuk masak di luar menggunakan kayu bakar, karna untuk memasak nasi yang lumayan banyak tidak akan cukup hanya menggunakan kompor gas.
jadi memerlukan kayu bakar untuk membuat nasi cepat matang,
" sayang kita keluar yuk, mas penasaran sama tenda di luar" ucap Andra mengajak Ratih
" ya udah ayok" Ratih pun menyetujui
mereka pun keluar menuju tenda di belakang, mereka berdua mengucapkan permisi kepada ibu- ibu yang bagian masak di dalam. terlihat para ibu- ibu yang berada di dalam tersenyum dan mempersilahkan namun saat mereka sudah melewati para ibu- ibu itu pun saling berbisik
ada yang memuji dan ada yang sinis, yah begitulah ibu- ibu yang sifat nya berbeda- beda.
Andra dan Ratih pun sudah berada di tenda, nampak terlihat para ibu- ibu tengah berkumpul sembari bercengkrama meski tangan mereka sedang aktif memegang pekerjaannya masing- masing. ada yang bagiannya memasak nasi, ada juga yang sedang membersihkan daging dan mengiris daging, ada juga yang sedang mengupas bawang.
__ADS_1
mata Andra tertuju pada bapak- bapak yang sedang mengaduk sesuatu
"sayang itu bapak- bapak lagi ngapain" tanya Andra pada Ratih
"oh itu, mereka lagi bikin dodol mas" jawab Ratih sembari melihat yang di tunjuk Andra tadil
"dodol, yang kaya dodol Garut itu ya" tanya Andra antusias
"ya sejenis itu" jawab Ratih dengan tersenyum
"kita ke situ yuk! mas mau lihat pembuatannya" Andra terlihat semakin antusias
"ya sudah ayo" Andra pun bersama Ratih menghampiri empat orang bapak- bapak yang sedang mengaduk dodol dengan bergantian, dua orang mengaduk dan dua orang istirahat karna sehabis mengaduk juga
Andra nampak antusias melihat bapak- bapak itu dengan penuh tenaga mengaduk dodol yang setengah matang, dengan peluh keringat yang membasahi tubuh mereka. karna api yang panas dan asap dari api itu yang terkadang membuat mata perih
Andra meminta izin pada bapak itu untuk ikut mencoba mengaduk adonan dodol yang baru setengah matang
"pak boleh saya coba mengaduk" tanya Andra
"waduh mas, sampean kan yang punya acara masa mau ikut ngaduk. ini lumayan berat loh" bapak itu merasa tak enak karna Andra adalah yang punya acara
"nggak apa- apa pak, saya mau coba soal nya di kota nggak ada yang begini" Andra masih antusias
"kamu yakin mas, ini berat loh" Ratih pun merasa tak enak dengan calon suaminya itu bagai mana pun juga dia itu orang kota dan gak pernah kerja ngaduk begitu
"nggak apa- apa mas bisa kok, boleh ya pak" Andra masih berharap
"yowes, boleh tapi kalau gak kuat jangan di paksa Yo mas" peringat bapak itu
"asikk,,,mana sini pak" Andra sangat antusias bahkan sikap nya seperti anak kecil yang mendapat hadiah permen dari orang tuanya
Ratih tersenyum melihat sisi lain dari Andra yang terlihat lucu menurutnya. Andra mulai mengaduk adonan dodol dengan penuh semangat bahkan Andra tak mau berhenti meski tubuhnya berkeringat akibat panas dari api tungku, dan mata nya perih terkena asap dari api yang kadang mati itu dan harus di dorong dahulu kayu itu ke dalam dan harus di tiup agar api menyala.
namun itu semua tak menjadi semangat Andra surut justru ia malah semakin semangat hingga dodol itu matang, dan di angkat lalu di cetak di cetakan loyang.
Andra mendapat bagian dodol yang ia buat tadi, ibu- ibu membawakan piring untuk dodol itu lalu setelah di isi barulah di berikan untuk Andra
"ini untuk saya Bu " tanya Andra tak percaya
"la Iyo mas, sampean kan yang ngaduk tadi jadi sampean juga harus nyobain" ucap ibu itu memberikan piring berisikan dodol
"wahhh...makasih Bu" Andra menerima piring berisi dodol itu dengan antusias
"sayang yuk kita duduk di situ sambil makan dodol buatan ku" ajak Andra ia tak meminta persetujuan Ratih Andra langsung menarik Ratih untuk duduk di sebuah kayu yang masih berada di dalam tenda tetapi di bagian ujung
mereka pun makan dodol itu bersama, terlihat mereka saling bercanda dan tawa. membuat orang yang ada di tenda itu ikut tersenyum melihat pasangan itu
__ADS_1