
Sinar mentari mulai muncul menerangi dunia manusia. Langit yang semula gelap samar samar berubah warna orange. Seberkas cahaya menerobos ke dalam kamar dua insan yang sedang berada dalam dunia mimpi.
Dara yang tengah tengah tidur sambil memeluk pria yang kini telah mengambil alih hatinya. Ia mengerjapkan mata kala merasa sinar mentari menyapanya. Ia tersenyum pada Arya lalu menuju kamar mandi. Setelah itu ia seperti biasa turun kedapur untuk memasak, setelah masakannya jadi ia naik ke kamarnya yang berada di lantai tiga untuk membangunkan sang suami.
"Mas,, mas Arya,,, bangun udah pagi loh,,, Mas kan mau ke luar negeri." Dara menggoyang kan tubuh suaminya berharap ia akan bangun.
"Iya sayang,,, sebentar lima menit lagi" ujar Arya dengan suara khas bangun tidur dan kembali memejamkan matanya.
"Ayo bangun mass,, nanti telat loh " Dara masih setia menunggu suaminya bangun. Ia tak mau Arya telat karena ini merupakan meeting yang sangat penting, yang akan memperebutkan tender yang besar.
"Iya iya,, mas mandi dulu ya" Arya bangun dan mengecup pipi Dara. Dara yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum malu dan memaki pipinya yang sudah seperti kepiting rebus karena malu.
Dasar pipi tak bisa diajak kompromi kenapa juga harus panas dan blushing. Jantung oh jantung!!! kau juga sama saja, selalu berdetak seperti aku habis berlari seperti Zohri sang atlet saja. Kamu ini jantungku atau bukan hahh?? Rutuk Dara
Aku sangat suka melihat kamu blushing. Aku akan menunggu saat yang tepat sampai aku bisa menjadikanmu istriku yang seutuhnya. Entah mengapa saat wanita lain mengejarku dan tergila gila padaku, aku merasa jijik dan tak nyaman Tapi denganmu sangat berbeda sayang,, aku sangat mencintaimu.
Arya masuk ke kamar mandi dan berendam sejenak didalam bath up berisi air hangat yang sudah disiapkan Dara tadi. Lalu ia membilas tubuh kekarnya dibawah guyuran air shower yang dingin.
Setelah mandi, Arya melilitkan handuk ditubuhnya yang hanya mampu menutupi sebagian tubuhnya dan memperlihatkan perut six pack nya. Ia berjalan keluar kamar mandi dan menjumpai Dara sedang bersandar di atas ranjang.
Dara mengalihkan pandangannya karena masih malu melihat Arya hanya memakai lilitan handuk dan memperlihatkan otot tubuhnya yang kekar bak atlet dan perut six packnya. Arya yang menyadari Dara malu hanya tersenyum devil dan berjalan ke walk in closet yang amat besar itu. Arya keluar dengan setelan jas hitam dan celana hitam yang semakin meningkatkan level ketampannya. Dara dibuat terpukau melihatnya, sungguh cipataan Tuhan yang sangat sempurna.
"Sudah puas melihat ketampanan suami mu ini? " Dara langsung sadar dari lamunannya kala Arya mengagetkannya.
"Ihh,, siapa juga yang liat kamu " Dara menunduk lalu berjalan kearah suaminya untuk memakaikan dasi. Dara agak kesusahan dan ia pun berjinjit karena Arya menjulang tinggi dihadapannya. Tinggi Dara hanya sampai bahunya Arya.
Arya menyadari itu dan ia ingin menjahili Dara. Arya pun sengaja berdiri tegak dan sedikit mendongakan wajahnya hingga membuat Dara semakin kesusahan memasangkan dasi padanya.
"Mas nunduk dikit dong,, aku susah kan masangnya " gerutu Dara yang masih berusaha memasangkan dasi.
"Ini udah nunduk sayang,, " Ucap Arya tapi nyatanya ia malah semakin menegakan badannya.
"Mas Arya sengaja ya!! " Dara menyerahkan dasinya pada Arya dan hendak pergi keluar kamar.
"Pasang aja sendiri" Dara merajuk dan berbalik meninggalkan Arya namun tangannya dicekal.
"Hahaha,, maaf sayang jangan marah ya,, mas kan cuma bercanda" Arya menangkup pipi Dara
"Pasangin ya,,, " pinta Arya
"Yaudah iya" Dara masih kesal
__ADS_1
Arya sedikit menunduk untuk memudahkan istrinya.
"Masih marah? " Arya bertanya saat Dara selesai memasangkan dasi.
"Nggak"
"Kok cemberut? "
"Habis nya kamu ngeselin"
"Yaudah mas nggak gitu lagi, kamu jangan marah ya sayang,, " Dara luluh dan mengangguk.
"Iya aku udah nggak marah lagi kok" ujar Dara sambil tersenyum manis.
Mereka melangkah menuju ruang makan dan Dara mengambilkan sarapan untuk Arya ,baru untuknya sendiri. Mereka sarapan tanpa ada percakapan apapun, hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar.
"Mas naik apa kesana?" Dara mengawali pembicaraan.
"Naik jet pribadi mas sayang, kenapa? " Arya mengusap sisa makanan di ujung bibir Dara dengan Ibu jarinya.
"Nggak papa cuma nanya aja " Dara dan Arya pun melanjutkan sarapan, keheningan kembali tercipta.
"Sayang, mas berangkat dulu ya" Dara hanya mengangguk tapi enggan melepaskan pelukan nya pada dada bidang Arya.
"Gimana mas mau pergi kalau kamu nggak mau lepas gini? "
"Bentar mas ,," Dara akhirnya bersuara setelah memeluk Arya hampir setengah jam.
"Yaudah kalau kamu nggak mau ditinggal, mas nggak jadi pergi aja, Biar urusan disana di handle sama sekretaris Mas "
"Jangan,, mas pergi aja tapi hati hati ya,, " Dara melepaskan pelukannya dan menengadah menatap manik mata Arya.
"Kamu nggak papa sendiri? Atau mau kerumah orang tua kamu dulu hem? " Arya khawatir meninggalkan Dara di rumah meskipun sebenarnya ada banyak pelayan dan pengawal dimana mana.
"Nggak,, aku disini aja kan ada banyak orang disini. Oh ya hari ini aku mulai kuliah ya,, " ucap Dara tersenyum
"Yaudah boleh,, tapi harus diantar sama pengawal dan kamu nggak boleh sendirian "
"Iya janji"
Merekapun berpelukan cukup lama, hingga Arya masuk ke mobil mewahnya Lambhorgini Veneno. Dara kini telah siap untuk menuju kampus nya.
__ADS_1
"Pak, antarkan saya ke kampus ya " Ucapnya pada sopir rumahnya.
"Baik Nona" Sopir itu pun melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang amat padat apalagi saat hari kerja.
Setelah beberapa menit, mobil sport mewah itu berhenti di gerbang kampus Dara. Dara turun dari sana dan tak lupa berterimakasih.
"Terimakasih pak"
"Sudah tugas saya Nona " Lalu sopir yang dulunya adalah pembalap mobil internasional itu pergi.
Memang seluruh sopir dirumah Arya adalah mantan pembalap internasional. Bahkan para pengawal dan penjaga adalah mantan mafia terbaik dan bodyguard hebat. Tentu saja mereka bersedia, karena ditawari gaji sepuluh kali lipat tanpa harus membahayakan nyawa ditambah dengan fasilitas premium yang ditawarkan. Hanya orang bodoh saja yang menolak.
Dara kini sedang berada di kantin kampusnya bersama Rina dan Rani.
" Dar, kamu kenapa lama nggak masuk kuliah? " tanya Rani sambil memakan lasagna pesanannya.
" Iya nih,, nggak kangen apa? " timpal Rina
"Maaf ya gaes,, suamiku nggak ngijinin aku kuliah setelah kejadian itu"
"Oh yaudah yang penting kamu udah boleh sekarang" ucap Rani senang.
Kemudian Rani pulang duluan karena ada urusan lain, sedangkan Rina masih bertemu pacarnya, sementara Dara akan pulang karena memang sudah tak ada jam kuliah lagi. Ia menghubungi sopirnya dulu karena tadi lupa menghubunginya dikarenakan terlalu larut dalam obrolannya bersama kedua sahabatnya.
"Pak tolong jemput saya sekarang ya. Maaf mendadak karena tadi saya lupa" ucap Dara dalam telefon
"Baik Nona saya kesana sekarang" ucap yang diseberan
Dara Fernandez
Arya Fernandez
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**Bersambung....
Please tinggalin komentar dikitttt ajaa yaaa**
__ADS_1