Menikah Dengan CEO Yang Dingin

Menikah Dengan CEO Yang Dingin
Mengaku


__ADS_3

Pagi sudah datang, malam yang gelap berubah menjadi terang. Sinar matahari dengan jahilnya menerpa wajah gadis yang sedang terlelap dengan nyenyak nya.


Dara menggeliat dalam tidur nya, merasa silau gara gara sinar matahari yang menerobos lewat gorden jendela. Pantas saja, gorden sudah terbuka lebar yang membuat sinar apapun leluasa masuk.


Perlahan ia membuka kelopak matanya, mengumpulkan kesadaran yang berserakan karena ulah suaminya semalam. Ia merasa tulang nya seolah remuk semua. Otot ototnya keram karena kelelahan pertama kali melayani suami diatas ranjang.


Ia melihat disampingnya, namun pria yang membuat nya semacam ini sudah tidak ada disana. Lalu matanya menyapu sekeliling ruangan, hal pertama ditangkap penglihatan nya adalah sosok pria bertubuh tinggi tegap yang sedang mengetikan sesuatu pada laptop nya.


Arya tersenyum pada istrinya yang baru bangun dari tidur panjangnya.


Dara pun menarik sudut bibirnya kala melihat senyum manis nan hangat yang dilemparkan suaminya. Namun senyum itu pudar dan berganti dengan rasa malu ketika ia ingat apa yang terjadi semalam. Bagaimana suaminya menggagahi nya dengan begitu mengagumkan. Dara pun heran, apa yang terjadi dengan dirinya sendiri, mengapa ia sangat bergairah semalam. Menikmati semua sentuhan yang diberikan Arya bahkan ia juga meminta lagi. Benar benar membingung kan.


Pipinya memancarkan semburat merah yang menambah pesona cantiknya walaupun baru bangun tidur.


Dara merasa pangkal pahanya terasa perih, ngilu dan sakit. Tapi sekujur tubuhnya serasa sangat lengket. Ia membungkus tubuhnya yang polos dengan selimut tebal, lalu perlahan berusaha bangkit. Namun, kewanitaan nya terasa amat perih hingga ia tersungkur ke lantai.


"Aww!! " pekik Dara kesakitan.


Arya yang mendengar pekikan istrinya langsung bangkit dari sofa dan menghampirinya.


"Masih sakit? " Mengelus puncak kepala Dara dengan sayang. Ia merasa bersalah karena istrinya menjadi kesakitan karena ulahnya.


Gadis itu mengangguk pelan.


"Mm.. aku ingin ke kamar mandi " Berusaha bangkit kembali, namun kembali duduk saat rasa perih semakin terasa saja.


"Biar aku bantu. "


"Nggak usah, aku bisa sendiri.. " Berusaha untuk bangkit, namun hal yang sama terulang lagi.


"Sudah aku bilang, biar kubantu " Arya geram dan tanpa aba aba mengangkat tubuh polos istrinya menuju kamar mandi.


"Apa yang kamu lakukan! Turunkan!! Kamu gila ya! " Gadis itu meronta ronta sambil memukul dada bidang Arya. Namun Arya enggan menggubris dan terus melangkah masuk dalam kamar mandi.


"Sudah diam! Nanti jatuh " Terlihat wajah tampan nya tersenyum nakal. Dara hanya mencebik kesal.


Pria itu membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi. Menurunkan nya perlahan dalam bath up yang telah diisi air hangat lima menit yang lalu.


"Kamu kenapa masih disini? " Tanya Dara, pasalnya Arya malah akan melepas busana nya dan bergabung ke dalam bath up.


"Mandi " Ucapnya singkat, padahal tadi pagi pagi buta dia sudah mandi duluan.

__ADS_1


"Nggak boleh, kamu keluar! " Tak dapat dipungkiri bahwa meskipun mereka sudah melakukan lebih dari ini, tapi Dara masih malu kalau harus mandi berdua.


"Kenapa? "


"Pokoknya nggak boleh! Kamu keluar sana! " Wajahnya mulai panik, karena ia tahu kalau mereka mandi bersama, hal yang semalam akan terulang lagi.


Aku juga tahu kalau kamu sudah mandi! Dasar tukang curi kesempatan!


"Iya -Iya " jawab Arya dengan raut kekecewaan. Lebih baik dia mengalah sekarang dari pada jadi santapan singa betina.


Ia pun keluar dan menutup pintu kamar mandi. Menatap tumpukan berkas yang harus dikerjakan, seolah tak ada habisnya. Pria tampan itu mendaratkan bokongnya disofa super empuk itu, memangku laptop dan mengerjakan proposal perusahaan.


Saat ini keempat orang itu tengah asik sarapan pagi di meja makan. Terlihat jelas wajah nyonya Puspa dan tuan Ferdi bahagia, tersenyum manis semanis selai pada roti yang mereka santap.


Sedangkan perempuan berkulit putih nan cantik yang menjabat sebagai istri Arya, hanya menunduk malu tanpa berkata sepatah kalimat pun semenjak turun dari kamar.


Arya? Dia berwajah datar seolah tak terjadi apapun. Sampai akhirnya sang ibu mertua membuka percakapan.


"Kok diam semuanya? " Pura pura tidak tahu situasi.


"Iya ma, seolah kita bukan manusia tapi keluarga patung " Sahut Tuan Ferdi.


Sepasang suami istri itu masih tidak bersuara. Dibawah meja sana jemari Dara saling bertautan karena gugup.


"Apanya? " sahut Arya santai seraya memasukan sesuap nasi dalam mulutnya.


"Tidurnya? " Dengan sengaja nyonya Puspa menggoda dua manusia ini.


"Nyenyak " Arya berucap datar dan dingin. Sebenarnya dia marah karena kelakuan dua orang tuanya ini, tapi dia juga harus berterimakasih, hanya karena inisiatif papa dan mamanya, akhirnya pria tampan ini memperoleh apa yang seharusnya diraihnya sejak lama.


"Pasti kalian tidur pagi ya.. " Goda nyonya Puspa. Nyatanya memang begitu, mereka baru tidur jam empat pagi tadi, karena Arya yang seolah tak ada puasnya meminta lagi dan lagi.


"Jam 8 " Nyonya Puspa langsung terkejut dan refleks menggebrak meja. Membuat orang yang sedang sarapan disana terlonjak kaget.


"Apa!! Jam delapan!! " Sungguh ia tak percaya, usahanya yang dirintis dengan segenap tenaga dan susah payah malah berakhir naas.


Tidak mungkin kan efek obat itu tidak berpengaruh? Jelas jelas ia membelinya dari apotek ternama dikota ini, dan sudah dipastikan belum lewat tanggal kadaluarsa.


Bagaimana mungkin terjadi? Nyonya Puspa bahkan sengaja mencampurkan dosis tinggi sejumlah sepuluh pil perangsang.


Ah, sepertinya mereka harus menunggu lama untuk menggendong cucu. Padahal ia selalu iri pada teman searisan nya yang sudah memiliki lima orang cucu.

__ADS_1


"Ada apa ma? Kenapa kaget begitu? Memangnya kenapa kalau kita tidur jam delapan? Iya kan sayang " Arya menatap istrinya meminta pembenaran.


Haruskah aku bohong? Atau jujur saja ya.


Akhirnya Dara mengangguk membenarkan. Mengikuti rencana suaminya yang sebenarnya ingin membuat sang pelaku mengakui perbuatan nya.


"Apa! Jadi bener, yaampun papa... " Nyonya Puspa sontak terduduk lemas dikursi seraya memegang kepalanya. Usahanya benar benar gagal sekarang. Pulang dari sini dipastikan apoteker yang memberi obat sialan itu akan habis nantinya.


"Padahal mama sengaja tambahin banyak dosis dalam teh itu... Tapi malah nggak ada untungnya. Apa apoteker itu salah kasih obat ya? Tunggu saja nanti saat pulang dari sini aku akan memberinya pelajaran !" Wanita paruh baya itu terus mengoceh tanpa sadar bahwa ia telah membeberkan segalanya.


Tuan Ferdi meletakkan telunjuknya di depan bibir mengisyaratkan agar tutup mulut. Kalau ketahuan Arya maka habislah mereka.


"Oh, jadi benerkan mama sama papa yang merencanakan ini semua? " Arya sudah menduganya, mana ada orang yang berani mengerjainya selain pasangan lanjut usia ini.


"Ya, maaf. Habisnya mama pengin segera gendong bayi.. "


Memangnya salah kalau seorang ibu yang anaknya sudah dewasa dan beristri menginginkan seorang cucu? Jawabannya tentu adalah tidak. Namun, cara mereka lah yang keterlaluan. Seharusnya tidak usah berkonspirasi seperti itu, cukup katakan saja pasti beres.


"Yasudah.. kali ini aku maafkan. Tapi jangan ulangi lagi ya " Kenapa sekarang seolah Arya yang orang tuanya dan mereka adalah anak anaknya?


Baru kali ini Dara melihat tingkah orang tua yang minta maaf pada anaknya semacam ini. Bahkan sepasang suami istri yang sudah membina rumah tangga lebih dari tiga puluh tahun itu, menunduk seperti ketahuan mencuri mangga tetangga.


Dalam hati Dara tak kuasa menahan gelak tawanya. Ada ada saja kelakuan keluarga ini.


"Yasudah.. Papa sama mama pulang dulu ya " Tuan Ferdi tersenyum, beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan sang istri untuk kembali ke kediamannya sendiri. Andai saja tidak ada meeting penting pagi ini tentunya dia akan betah berlama lama dirumah putra tunggalnya.


"Kenapa buru buru pa, ma. Disini saja dulu.. " Dara yang sejak tadi diam menunduk mulai berani membuka suara. Rasa malu sudah ia tepis jauh jauh, lagipula apa yang terjadi sudah terjadi.


"Papa ada meeting penting dengan klien hari ini sayang.. Lagipula mama nggak mau ganggu kalian.. " Tersenyum manis pada menantu kesayangan nya.


"Yasudah... hati hati ya " Dara dan Arya mencium punggung tangan sepasang suami istri itu sebelum meninggalkan rumahnya.


Mereka pun melangkah keluar dari kediaman Arya Fernandez. Dalam hati nyonya Puspa ia ragu, apakah yang dikatakan putra menyebalkan nya tadi kebenaran atau kebohongan. Rasanya tidak mungkin kalau obat dengan dosis tinggi seperti itu tidak berpengaruh apapun. Seharusnya mereka tidur saat pagi hari kan?. Ah, sudahlah yang penting sudah usaha. Soal hasil biar Tuhan yang menghendaki.


Bersambung...


Arya Fernandez



Dara Fernandez

__ADS_1



__ADS_2