
"Yasudah.. mulai sekarang kamu harus lebih hati hati lagi. Mulai sekarang akan ada sepuluh bodyguard yang mengawalmu " Tegas Arya sambil mengelus puncak kepala istrinya.
"Ah, tidak tidak aku mohon jangan tambah lagi, kak Andra saja sudah membuatku jengkel apalagi jika sepuluh... " Gadis itu memohon dengan tatapan anak anjingnya yang bisa meluluhkan hati siapapun yang dipandang.
Yang benar saja! Memangnya aku ini putri raja? Atau anak sultan?
"Emm.. baiklah, tapi sebagai gantinya aku minta bayaran " Menyeringai licik.
Yaampun... sudah kaya begitu masih saja minta bayaran sama istri.
"Baiklah, sebentar aku ambil dompet dulu " Dara akan mengambil tasnya yang berada diatas nakas, namun tiba tiba Arya menarik tangan nya dan mengunci tubuhnya sampai merapat ditembok.
"Kamu pikir aku ini miskin, sampai mau kamu bayar pakai uang? " Pria itu mendekatkan mulutnya yang setengah terbuka di telinga Dara, menghembuskan nafas hangat yang membuat siapapun bergidik ngeri.
"Lalu.. katanya tadi minta bayaran " Ia mulai gugup sekarang, sudah menduga apa yang akan terjadi setelah ini.
"Aku minta bayaran yang lain... " Arya mulai menyusuri leher jenjang putih nan mulus sang istri dengan bibirnya. Sesekali memberikan hisapan dan gigitan kecil yang membuat perempuan itu meringis menahan geli sekaligus sakit.
Arya sudah amat bergairah sekarang, nafasnya berat bahkan wajahnya pun memerah karena hasrat. Tangan yang bertengger manis di pinggang ramping istrinya mulai naik keatas, memainkan gundukan pada dada gadis itu dengan lembut. Bahkan bibir mereka entah sejak kapan sudah saling bertautan. Mengecap satu sama lain dengan mesranya. Entah mengapa hawa dingin AC sudah tidak terasa, hanya ada hawa panas dimana mana. Dara mengalungkan kedua tangan mungilnya pada leher kokoh Arya, entah mengapa skill ber*iuman nya semakin lihai saja.
Pria yang hasratnya sudah diujung tanduk itu langsung menggendong istrinya tanpa berkata apapun. Menurunkan nya diranjang king size dengan hati hati tanpa melepas pagutan mereka.
Tak butuh waktu lama, kini kedua insan yang sedang memadu cinta itu sudah polos tanpa sehelai benangpun yang melekat pada tubuh mereka. Dara hanya memejamkan matanya kala tangan suaminya meremas kedua buah dadanya, terus men*ium, menghisap dan sesekali menggigit dengan rakusnya. Membuatnya merasakan sensasi geli, nikmat dan aneh bersamaan. Di bagian perut bagian bawahnya terasa ada gelenyar aneh yang sedang melanda.
"Ahh... " Satu desahan lirih lolos dari bibir merah mudanya saat Arya tak sengaja menggigit ****** nya dengan keras.
Tak ingin membuang waktu lagi, pria itu mulai melebarkan paha istrinya. Bersiap memasukinya dengan hati hati. Dara gugup saat ini, meski ini bukan yang pertama kalinya, namun masih melekat jelas dalam ingatannya bagaimana rasa sakit yang melanda saat ia Arya merenggut keperawanan nya.
"Aku akan perlahan.. " Ujar Arya lembut saat melihat air muka Dara.
Ia mulai mengarahkan kejantanannya pada kewanitaan istrinya. Perlahan lahan, sampai akhirnya semuanya bisa masuk memenuhi milik perempuan itu.
Dara sedikit meringis, namun entah kenapa sudah tidak terasa sakit lagi sekarang. Mungkin karena ini adalah yang kedua kalinya.
__ADS_1
Arya mulai memaju mundurkan miliknya dengan perlahan, namun lama kelamaan ritmenya berubah cepat karena gairah yang sudah diubun ubun. Sambil kedua tangannya meremas benda kenyal ditubuh istrinya dan bibir mereka yang saling beradu.
Bahkan keringat yang membasahi kedua. tubuh polos itu sudah tidak terasa apapun. Hanya kenikmatan yang ada. Seluruh titik sensitif gadis itu dikendalikan oleh pria yang sedang menindihnya.
"Ahh.... " Lagi lagi desahan lolos dari bibir gadis itu. Arya sudah tidak terkendali, ia berpacu terlalu cepat sampai istrinya gagal mengimbangi permainan nya.
Hingga akhirnya pelepasan luar biasa itu terjadi. Arya dengan senang hati kembali menyemburkan benihnya pada rahim istrinya. Berharap semoga mereka cepat tumbuh menjadi bayi mungil yang lucu dan menjadi pelengkap hidup pasangan ini.
Pada akhirnya setelah percintaan panas mereka, kini keduanya terlelap dengan saling merangkul satu sama lain. Hanya selimut tebal yang membungkus tubuh polos mereka, meskipun udara terasa masih panas.
***
Pagi hari setelah percintaan panas mereka tadi malam, kini sepasang suami istri muda itu tengah menghabiskan waktu luangnya di taman dekat rumah mereka.
Kedua insan itu tampak serasi dan romantis dengan tangan saling bertautan erat selama menyusuri jalanan taman yang lumayan ramai, karena ini adalah hari minggu.
Dipandang dari jauh, pepohonan hijau nampak sangat asri menyejukan mata yanh memandang. Ditambah lagi kumpulan bunga bunga mawar, melati, kamboja dan lainnya.
"Lihat itu! " Tunjuk Dara pada salah satu kedai es krim ramai pembeli.
"Itu.. aku ingin es krim mas... " Rengek Dara sambil bergelayut manja di lengan kekar Arya. Untung saja tidak ada yang melihat kelakuan konyol mereka.
"Yasudah.. sebentar " Ia mendudukan perempuan cantik itu di bangku panjang dekat bunga mawar. Sementara Arya sudah melangkah mendekati penjual es krim itu.
Karena antrean amat panjang bagai ekor ular, Arya yang tidak sabaran malah menerobos antrean pembeli lain.
"Heh!! Antri dong pak, enak saja main nyerobot!! " Teriak wanita itu dengan kesal.
Dasar menyebalkan! Kalau kau bukan wanita dan disini tidak ramai orang, kupastikan kau akan kuhancurkan! Gerutu Arya dalam hati.
"Iya - iya " Ia lalu kembali mengambil antrean paling belakang.
Cukup lama Arya mengantre, hampir setengah jam namun masih ada dua orang di depannya. Ia sudah tidak tahan lagi.
__ADS_1
"Heh, kalian mau uang? " Tanya Arya pada dua orang di depannya.
"Mau lah pak! " Jawab mereka serempak, dilihat dari penampilan nya sepertinya pria tampan ini adalah orang berkuasa.
"Ini, sekarang kalian minggir. Saya mau beli " Arya menyodorkan masing masing lima lembar uang seratus ribuan pada mereka. Tentu saja mereka menerima dengan hati bersahaja. Padahal harga eskrim hanya lima belas ribu, tapi mereka dapat lima ratus ribu. Sungguh, rejeki memang tidak akan lari kemanapun.
"Terimakasih pak! " Arya pun melangkah maju dan mendekat pada penjual yang sudah tua itu. Memesan eskrim yang membuatnya menanti sekian lama.
"Ini pak.. " Pria paruh baya itu menyerahkan sekantong kresek berisi eskrim.
"Terimakasih ini uang nya " Arya menyerahkan uang dari dalam dompetnya.
"Terimakasih pak, tapi kalau bapak berkenan saya ingin menyampaikan sesuatu " Penjual itu tersenyum ramah.
"Yaya, katakan saja "
"Sebaiknya jangan terlalu mengandalkan uang anda untuk segalanya pak. Uang tidak selalu bisa memecahkan masalah. Akan ada saatnya dalam hidup anda, dimana uang setumpuk gunung pun tidak bisa membantu anda " Pria berjenggot putih itu berkata dengan nada serendah dan sesopan mungkin.
"Maksud bapak apa? " Arya mengernyitkan dahinya.
"Uang bukanlah segalanya. Mungkin saja akan ada saatnya uang tidak akan berguna untuk anda. Tapi, kesabaran dan cintalah yang akan memecahkan masalah yang menimpa anda pak. Tapi saya berdoa semoga bapak dan keluarga tetap bahagia selamanya "
Arya tampak merenungkan apa yang dikatakan penjual eskrim tadi sambil menunduk. Memang benar, selama ini dia menggunakan uang dan kekuasaan nya demi tercapainya apa yang diinginkan nya. Termasuk menerobos antrean tadi. Tapi apakah yang dilakukan nya ini salah? Tentu saja salah, namun mungkin Arya belum menyadarinya.
Saat ia hendak menjawab pria tua yang sudah beruban tadi, orang itu sudah lenyap entah kemana. Bahkan uang yang diberikan Arya masih tergeletak rapi diatas meja tanpa disentuh sedikitpun. Arya heran, ia menoleh ke kanan dan kirinya namun tidak menemukan pria itu. Sungguh membingungkan.
Bersambung...
Dara Fernandez
__ADS_1
Arya Fernandez