Menikah Dengan CEO Yang Dingin

Menikah Dengan CEO Yang Dingin
Kunjungan Mama dan Papa


__ADS_3

Kini sepasang suami istri itu tengah berada di dalam mobil. Arya hanya diam tanpa berkata sepatah kalimat pun. Tampaknya, dia masih tersinggung dengan yang tadi.


Dara dapat menyadari itu. Apakah dia sudah keterlaluan karena menjahili suami nya sendiri? Ah, Dara jadi serba salah sekarang.


"Mas? " Berusaha mencairkan suasana.


"Hm? "


"Kamu marah? "


"Tidak " ucapnya singkat.


"Maafkan aku... "


"Aku tidak marah "


"Bohong! kamu masih marah padaku.. "


Arya menghentikan mobilnya di pinggir jalan, untung saja jalanan sedang lengang. Jadi aman aman saja.


"Aku tidak marah padamu.. " mengelus dan mengecup kening istrinya.


"Lalu, kenapa kamu diam saja? "


"Aku masih kesal dengan orang yang tadi "


"Jadi tidak marah padaku? "


"Tidak... "


"Bolehkah aku minta satu hal? "


"Katakan! "


"Jangan membalas ibu itu, dia tidak bersalah." Padahal baru saja Arya ingin menyuruh Rey mencari tahu tentang wanita cerewet itu.


"Hem.. baiklah "


Mobil kembali melaju menuju rumah elit milik Arya. Saat setengah perjalanan, ponsel Arya berdering.


"Ponselmu berdering.. "


"Tolong angkat.. aku tidak bawa earphone "


Dara mengambil benda pipih lebar itu dari saku jas Arya. Tertera di layar kaca itu, 'Mamaku Tersayang'. Lalu menempelkan dekat dengan telinganya.


Oh, ternyata mama Puspa yang menelpon.


"Mama Puspa yang menelpon " ucap Dara. Arya menoleh sebentar dan kembali menatap lurus kedepan.


"Angkat saja.." Dara menyeret tombol hijau itu keatas.


"Hallo ma, ada apa? "


"Kok kamu sayang? Arya mana? "


" Dia sedang menyetir mobil. "


"Oh, mama dan papa akan berkunjung kesana"


"Kapan ma? "

__ADS_1


"Sekarang, ini kami akan siap siap.. "


"Oh, baiklah. Nanti aku kasih tahu ke suamiku"


"Sampai jumpa nanti sayang.. "


Memasukan benda itu dalam saku jas Arya.


"Apa yang dikatakan mama? "


"Mereka akan berkunjung kerumah"


"Kapan? "


"Sekarang"


Hah.. yaampun pasti mereka merencanakan sesuatu, kalau tidak mana mungkin tidak ada angin tiba tiba datang kerumahku. Arya


Di Rumah Kediaman Tuan Ferdi Fernandez..


Nyonya Puspa yang baru saja menelpon Dara meletakan ponselnya diatas meja. Tuan Ferdi ada disampingnya.


"Gimana, mereka setuju kan? " Tuan Ferdi nampak sangat penasaran.


"Iya pa, tadi mama udah telfon Dara. Kita akan kesana sekarang. " Nyonya Puspa juga tampak girang, entah apa yang mereka rencanakan.


"Oke, ayo kita siap siap " Menarik tangan istrinya menuju kamar.


"Tunggu.. kita harus membawa buah tangan nanti "


"Iya, nanti kita beli di jalan. " Lalu mereka masuk kedalam kamar utama di rumah itu. Bersiap siap untuk menemui anak dan menantunya.


Flashback on..


"Ma, ganti dong channel nya.. " tuan Ferdi merengek, ia ingin sekali menonton pertandingan bola. Mau merebut remote nya? Maka nyonya Puspa tidak akan memberinya jatah nanti malam.


"Ih, nggak boleh!! Ini lagi seru pa. Lihat tuh, istrinya akan melahirkan.. kasihan ya " Nyonya Puspa tampak prihatin. Tapi tiba tiba ia ingat sesuatu, putranya sudah menikah lebih dari satu bulan. Tapi kenapa belum ada kabar bahagia.


"Yaampun ma.. kayak nggak pernah melahirkan saja " Memutar bola matanya malas.


"Emm.. pa, mama jadi ingat sesuatu deh"


"Apa? "


"Arya dan Dara sudah menikah lebih dari satu bulan..tapi kenapa belum ada kabar baik ya? "


"Maksudnya.. hamil? " Ya, benar sekali tuan Ferdi. Ayah dari Arya Fernandez sekaligus pebisbis legenda ini sangat cepat menangkap arah pembicaraan.


"Iya...mama pengin segera menggendong cucu " Tak dapat dipungkiri bahwa nyonya Puspa merindukan masa kecil Arya, sekarang bayi mungil itu telah tumbuh menjadi pria dewasa yang dingin.


Nyonya Puspa menitikan air matanya jika mengingat masa kecil putranya. Saat ia pertama kali makan, belajar berjalan, pertama kali jatuh, saat Arya mengucapkan kata 'mama' untuk pertama kali itu semua tak luput dari pandangan kedua orang tua ini. Dan sekarang.. dia sangat dewasa dan menyebalkan.


"Mama jangan nangis.. sabar saja ya " Mengusap air mata istrinya.


"Bukan itu.. mama hanya teringat masa kecil Arya pa " suaranya serak sambil mengusap air mata yang kembali jatuh di wajahnya yang mulai keriput.


"Iya ya... tidak terasa sekarang Arya sudah beristri " Tuan Ferdi ikut terharu.


"Tunggu! Jangan jangan mereka belum.. " Tuan Ferdi menebak, karena ia yang paling mengenal putra menyebalkan nya.


"Iya pa.. jangan jangan memang belum " menepuk keningnya sendiri.

__ADS_1


"Haduh.. anak itu ya memang.. " Tuan Ferdi menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Emm.. gini saja kita buat rencana untuk mereka " Ide jenius melintas di otak Nyonya Puspa.


"Apa? " Lalu istrinya membisikan sesuatu di telinga tuan Ferdi. Ia tersenyum dan mengangguk ngangguk menandakan setuju.


"Oke.. itu ide yang bagus. Sekarang cepat telpon Arya!" Nyonya Puspa pun mengambil ponsel nya untuk menghubungi putranya.


Flashback off...


***


Dara tengah membaca sebuah novel bergenre romantis sambil duduk bersandar di ranjangnya. Dara amat suka membaca, itu adalah hobinya sedari kecil. Tak heran jika ia sangat cerdas di kampus.


Sementara Arya tengah mengerjakan laporan perusahaan dalam laptopnya. Dia tampak sangat serius, bahkan ponselnya berdering saja dia tak sadar.


"Mas, ponselmu berdering... "


"Benarkah? " Meraih ponsel yang ada diatas meja, ternyata benar. Nomor itu bahkan sudah menelpon lima kali ke ponselnya.


Arya menggeser tombol hijau keatas.


"Hallo? "


"... "


"Ya, baiklah. Aku menyerahkan semuanya padamu "


"..."


"Ya. " Telepon ditutup.


Dara menatap Arya dengan pandangan seolah bertanya 'siapa yang menelpon? '


"Rey, dia yang menelpon ku. Ada sedikit masalah dengan cabang perusahaan di Jerman " Arya berucap santai, ia yakin sekretaris nya bisa menghandle semua.


"Oh.. "


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.


Tok... tok... tok...


Dara bangkit dari ranjang king size nya dan mendekati pintu. Ia memutar handle pintu dan ternyata diluar ada bi Lila.


"Maaf mengganggu nona, tapi di ruang tamu ada orang tua tuan muda " Bi Lila bicara sambil menunduk.


"Baiklah bi.. kami berdua akan turun segera " Bi Lila mengangguk lalu melenggang pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Dara berbalik badan, dan mengayunkan kakinya mendekati sofa.


"Ada apa? " tanya Arya.


"Papa dan mama sudah sampai, lekaslah turun.. "


"Baiklah.. aku akan turun lima menit lagi. Kamu duluan saja " Arya lalu kembali mengetikan sesuatu pada laptopnya.


Dara menghela napasnya, suaminya ini selalu saja sibuk. Tapi ia maklum, lagipula toh Arya bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan nya dan keluarga ini.


Jadi, mengertilah keadaan suami. Tapi bukan berarti suami harus selalu bekerja ya, dia juga wajib punya waktu untuk keluarga☺.


Dara turun duluan untuk menyambut kedatangan mertua tercinta nya. Ia berjalan menapaki anak tangga. Menuju ruang tamu dimana ada tuan Ferdi dan nyonya Puspa yang sebenarnya ada niat terselubung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2