
Hari sudah menjelang malam, sang surya mulai menyingsing di ufuk barat. Dara tengah berada dalam gazebo di balkon kamar nya, masih agak trauma dengan insiden tadi sore.
Namun ia sudah bertekad kuat tidak akan bercerita pada suaminya. Semoga saja Andra tidak melaporkan apapun. Setelah menguasai segenap hati dan emosi, gadis itu mengayunkan kedua kakinya keluar kamar. Mencari udara segar di taman belakang.
Saat melewati lorong lorong rumah yang sunyi dan sepi, tanpa sengaja suara gaduh terdengar nyaring di gendang telinga Dara. Menoleh ke kanan kiri, namun tidak ada seorang pun. Alhasil ia mengikuti asal mula suara itu.
Tampaknya berasal dari paviliun tempat tinggal para pelayan, gadis itu perlahan mendekat seraya membuka indra pendengaran nya lebar lebar guna mengetahui apa yang sedang berlangsung.
Sampailah ia di paviliun tempat para pelayan termasuk Maya, Asih, dan Lila serta beberapa orang lainnya menetap.
Tampaklah Hendro, sang kepala pelayan dirumah ini yang baru kembali dari kampung sedang memarahi para pelayan wanita.
"Ada apa ini? " Dara mengedarkan pandangan nya pada orang orang yang tengah menunduk takut dengan tangan gemetar dan keringat dingin di dahi mereka. Habislah riwayat mereka kali ini, saat pertama kali nona muda datang sudah tentu profesi mereka akan berakhir mengenaskan disini. Apalagi jika majikan nya tahu kesalahan fatal apa yang telah mereka perbuat.
"Selamat sore nona " Pak Hendro membungkukan tubuh nya memberi salam setelah sekian lama tak berjumpa nona muda.
"Pak Hendro apa kabar? Sudah kembali sejak kapan? " Dara tersenyum senang, setelah berminggu minggu akhirnya si kepala pelayan baik hati ini kembali mengisi rumah ini.
"Baru saja kemarin nona.. " Ucap Hendro.
"Ada apa ini? Mengapa mereka semua berjejer disini? " Alasan dirinya datang ke tempat ini akhirnya keluar juga, sebenarnya apa yang terjadi?
"Saya tengah memberikan hukuman pada para wanita ini nona muda "
"Loh kenapa? Apa salah mereka? " Para pelayan itu semakin kalut, tidak tahu harus berbuat apa untuk mempertahankan pekerjaan yang berharga ini. Sungguh tidak tahu terimakasih, padahal Arya menggajinya dua puluh kali lipat daripada pelayan di rumah elit lainnya.
"Mereka.. " Hendro tampak bimbang menjelaskan pada majikan nya.
"Katakan pak! "
__ADS_1
"Mereka... membicarakan nona muda " Ucap Hendro tertunduk. Dara tampak berpikir sejenak, ia pun penasaran apa yang orang lain gosipkan tentang dirinya.
"Memangnya apa yang kalian bicarakan tentangku? " Perempuan itu beralih menatap para pelayan wanita yang tertunduk malu sekaligus takut. Suara nona muda nya terdengar ramah dan lembut, namun entah mengapa ditangkap mereka sebagai ucapan terakhir malaikat maut.
Karena tidak ada yang bersuara, Dara kembali menarap pria disampingnya.
"Katakan saja pak, sebenarnya ada apa? Saya janji tidak akan marah " Ucap Dara meyakinkan.
"Mmm.. mereka bergosip tentang nona. Mereka berkata nona tidak pantas berada disamping tuan muda, melainkan mantan kekasih tuan muda dulu yang lebih pantas " Hendro sebenarnya dilarang keras mengatakan rahasia yang terpendam jauh lamanya di keluarga ini, namun apa dayanya sekarang? Ia terikat aturan yang mengharuskan menjawab sejujurnya tanpa menutupi apapun pada majikannya. Sungguh dilema yang membingungkan.
"Hah? Memangnya siapa mantan kekasih mas Arya? " Dara mengerutkan keningnya, ia tidak pernah tahu apapun tentang orang yang mengisi hati Arya dulu. Sepertinya hal ini sengaja ditutupi rapat rapat.
"Ampun nona... maafkan saya, saya tidak bisa berkata lebih dari ini. Saya juga sudah menerima konsekuensi atas tindakan saya kali ini. Dipastikan setelah ini pasti saya akan dibuang dari sini " Hendro menangkupkan kedua tangannya didepan dada. Pria itu sudah pasrah apa yang akan menimpanya setelah ini. Ia merutuki kebodohan nya sendiri. Bagaimana bisa ia mengingkari janjinya untuk menjaga rahasia?.
Perlu kalian ketahui, Hendro memang kepala pelayan yang cekatan, terampil dan dapat dipercaya. Namun, ia agak susah untuk menutup mulutnya. Lengah secuil saja, dipastikan ia akan ditendang Arya dari rumah ini.
"Yasudah tidak papa, saya pastikan pak Hendro tidak akan dipecat dari sini. Tenang saja ya " Dara sebetulnya penasaran dengan siapa mantan kekasih suaminya. Tapi yasudah lah, masa lalu tetaplah masa lalu. Ia juga yakin Arya tidak akan berpaling darinya.
***
"Orang ini adalah preman bayaran Reno Saputra untuk menyabotase rem mobil anda tuan " Ucap Rey penuh hormat. Sedangkan pria babak belur yang jatuh tersungkur tepat di depan Arya hanya bisa membisu. Sudut bibirnya terlampau perih untuk sekedar berkata kata. Pria bertubuh kekar itu sungguh menyesal berani bermain main dengan Arya. Ia tidak menyangka jika CEO satu ini punya anak buah sesadis dan sekejam Rey.
"Rupanya bocah ingusan itu masih belum menyerah " Arya tertawa sarkas sambil menggelengkan kepalanya. Ia salut pada bocah bau kencur itu, pantang menyerah walaupun sudah mendekam dalam jeruji besi.
"Berapa lama sialan itu ada dalam penjara? "
"Sebenarnya hanya enam bulan tuan muda, tapi karena pengacara profesional kita berhasil memberatkan kasusnya, mungkin saja selamanya. " Jawab Rey.
"Hmm. Urus pria bedebah ini! " Suara bariton yang dingin nan tegas serasa menusuk pendengaran preman bayaran Reno.
__ADS_1
Jika saja ia tidak mengikuti keinginan narapidana itu, tentunya ia sedang bahagia sekarang dirumah.
"Tuan.. saya mohon tuan... ampuni saya ,saya janji tidak akan mengulangi kejahatan saya lagi " Pria itu berlari dan bersimpuh dibawah kaki Arya. Arya hanya tersenyum sinis.
"Hey, bawa dia! " Perintah Rey pada dua orang pengawal yang berdiri siaga disamping pintu.
"Baik tuan! " Jawab mereka serempak, lalu menyeret pria yang berlumur darah itu keluar ruangan.
"Rey, pastikan keamanan istriku! Jangan biarkan hal seperti tadi terulang lagi! " Tukas Arya lalu melenggang pergi.
"Baik tuan muda "
***
"Kamu sedang apa? " Arya mendekat dan merangkul istrinya dari belakang. Membelai pelan perutnya yang datar. Dara yang sedang melihat pemandangan dari balkon pun hampir jantungan dibuatnya.
"Aku.. sedang melihat awan " Entah mengapa jawaban itu yang terlintas di benaknya.
"Aku sudah tahu semuanya " Ucapan pria itu membuat istrinya langsung berbalik menghadapnya dan memberi tatapan penuh tanda tanya.
"Kamu diserang kan tadi sore? " Arya memang sudah tahu kejadian sebenarnya, bahkan gerombolan preman tadi mungkin sudah habis dimangsa Rey. Ayolah, hal sepele macam itu tentu dengan mudah tuan muda mengetahuinya, meskipun Andra tidak melaporkannya.
Ihh!! Kak Andra mengingkari janjinya. Padahal kan aku sudah suruh dia untuk tutup mulut.
Seolah paham apa yang sedang berkecamuk di pikiran istrinya, Arya berkata,
"Andra tidak melaporkan apapun. Aku tahu dari Rey " Jelas Arya sebelum gadis itu membuka mulutnya.
Apa pikiran ku transparan? Padahal kan aku belum bicara apapun.
__ADS_1
"Maafkan aku mas... " Hanya itu yang bisa dikatakannya untuk situasi saat ini. Ia menunduk takut, jangan sampai Arya menambah bodyguard lagi untuknya, satu saja sudah menjengkelkan apalagi kalau dua atau lebih.
Bersambung...