Menikah Dengan CEO Yang Dingin

Menikah Dengan CEO Yang Dingin
Masakan Terlezat


__ADS_3

Hallo semuanya,, aku mohon kalian like dan komen ya😫 Soalnya aku nulis ini sambil nyesek rasanya. Tadinya udah jadi ceritanya, tinggal di Up aja, tapi nggak ada angin nggak ada hujan tiba tiba tak ada sinyal. Karena kesal akhirnya aku muat ulang HP aku. Pas dinyalain lagi, tiba tiba tulisannya hilang semua. Tadinya udah aku copy-paste buat jaga jaga, tapi copyan nya juga hilang.


Alhasil, aku nulis lagi dari awal. Mungkin bagi kalian itu gampang, tapikan sayang udah nulis sambil mikir cara menyusun kosakata sampai satu jam terus ilang gitu 😓Tapi sudahlah, yang penting sekarang bisa up.


Kalian kasih komentar, saran, dan masukan ya.


Terimakasih🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seorang gadis tengah melamun di dalam kamarnya. Ia sedang meratapi nasibnya. Ia tampak sangat sedih sambil menatap keluar jendela dengan mata yang sembab. Ia mengingat semua kejadian manis tentang keluarganya yang kini hanya tinggal kenangan di memori ingatan.


Ia mengambil foto keluarga di atas nakas yang berisi fotonya, ayahnya, ibunya dan adik laki lakinya yang masih SMP. Foto itu jelas memancarkan aura kebahagiaan yang kini sudah lenyap bagai ditelan bumi.


Rasanya sangat sakit saat keluarga kita dihancurkan oleh orang yang bahkan batang hidungnya saja kita tak pernah melihatnya.


Ya Tuhan apa salahku? Mengapa aku menghadapi ujian seperti ini? Rasanya hatiku sudah remuk untuk yang kesekian kalinya. Aku bahkan tak bisa hanya sekedar menyapa ibuku. Apa aku telah berbuat dosa di masalalu sampai Aku dihukum seperti ini? Sekarang aku sendirian, tak ada lagi tameng yang berdiri di garda terdepan saat aku terpojok akan masalah. Tak ada lagi tempat aku bersandar pada pahanya saat aku rapuh. Tak ada lagi tempat aku bercerita tentang suka dukaku


Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia membenci keluargaku? Aku bahkan tak pernah bertemu dengannya. Ibu,ayah,adikku aku merindukan kalian. Bisakah kalian kembali? aku ingin kita bersama sama dan bersuka ria seperti dulu. Ayah sudah meninggal, Ibu koma Dan adikku ntah dimana dia. Sekarang aku sudah tak bisa memendam semua ini sendirian. Biasanya aku selalu menyembunyikan masalahku dari sahabatku. Tapi kali ini aku sudah tak kuat lagi


Ya, itulah arti keluarga bagi Rani. Kehilangan keluarga bahkan lebih buruk dari kematian. Ia kini sudah tak bisa menimbun masalahnya.


Ia butuh tempat untuk berkeluh kesah, ia butuh bahu untuk bersandar.Rina sedang pergi ke Norwegia. Ia tak ada pilihan lain selain bercerita pada temannya, Dara.


Setidaknya, beban didalam hatinya akan berkurang sedikit dengan membaginya pada orang lain. Ia memutuskan untuk segera tidur agar besok bisa segera pergi ke rumah Dara.


🍀🍀🍀


Hari kini telah berganti pagi, Dara mengerjapkan matanya karena terkena pancaran sinar mentari yang menembus celah celah jendela.


Tatapannya tertuju pada jam diatas nakas yang menunjukan pukul 5.30. Ia sedang bahagia sekarang. Ia berencana memasakan sarapan istimewa untuk suaminya yang sedang terlelap disampingnya.

__ADS_1


Dara menyibakan selimutnya dan mengayunkan kakinya kearah kamar mandi untuk gosok gigi sekaligus cuci muka.


Saat ia keluar keluar dari kamar mandi, ia tersenyum simpul saat melihat suaminya yang masih terlelap dalam buaian mimpi.



Suamiku semakin tampan saja saat tidur begini. Haha, lainkali aku harus mengabadikan momen ini dengan memotretnya.


Setelah puas memandangi Arya yang semakin berkharisma saja saat tidur, ia melangkahkan kakinya menuju dapur.


Saat sampai di dapur, Dara mengambil bahan bahan makanan dari dalam ruangan bersuhu dingin mirip sebuah minimarket yang didalamnya ada banyak sekali bahan bahan memasak yang memang sengaja disiapkan Arya agar ia tidak perlu pergi belanja sendiri.


Tentu saja itu demi keselamatan Dara.


Setelah itu ia mulai memotong sayuran dan bahan lainnya sampai seorang pelayan datang menghampirinya.


"Nona sedang apa? " tanya pelayan yang ternyata bernama bi Asih itu.


"Biar saya bantu Nona " tawar bi Asih, ia jadi merasa tidak enak pada Nona mudanya. Begitu banyak pelayan disini, tapi nonanya malah kerepotan.


"Baiklah, kalau begitu bantu potong sayuran aja ya" ucap Dara tersenyum.


"Baiklah Nona " Bi Asih pun mulai memotong sayurannya.


Sementara di kamar utama, Arya yang baru saja keluar dari kamar mandi mencium aroma yang mampu meningkatkan selera makannya. Ia tahu, ini pasti masakan istrinya karena jika pelayan yang memasak pasti baunya tak sesedap ini. Perutnya saja sudah bergemuruh layaknya petir saat hujan.


Arya berjalan menuruni tangga dengan aura ketampanan yang maksimal. Sungguh, siapapun yang melihatnya pasti akan menginginkannya. Ia sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya. Ia melihat istrinya sedang menunggunya di meja makan sambil tersenyum manis kearahnya.


"Ini kamu semua yang masak?? " Arya duduk di meja makan terkejut karena begitu banyaknya makanan di meja dan itu semua adalah makanan kesukaannya. Satu yang ada di benaknya sekarang. Bagaimana Dara tahu kalau ia menyukai semua ini?


"Iya, tapi dibantuin bi Asih juga" Arya langsung mengambil piring terlebih dahulu, bahkan sebelum Dara mengambilkannya.

__ADS_1


Ia mengambil makanan dalam porsi yang lebih banyak yang mana membuat Dara tersenyum senang.


"Kamu yakin mas, mau habisin semua itu sendiri? "Dara sampai menelan ludahnya karena tak menduga kalau hanya karena yang memasak dirinya, Arya bisa makan sebanyak itu.


Bagaimana kalau dia masak setiap hari? bisa bisa tubuh gagah Arya yang bak atlet profesional ini bisa berubah, yang tadinya six pack jadi one pack. Haha, Dara tertawa sendiri kalau membayangkannya.


"Mas nggak mau makanan paling lezat di dunia ini mubazir apalagi dimakan orang lain" jawab Arya sambil minimum orange juice nya.


Yang mana jawaban kejujuran dari Arya membuat Dara bahagia dan terharu. Sungguh sebuah keberuntungan bagi seorang istri jika makanan yang dibuatnya mampu memuaskan suaminya, bahkan sampai lahap begitu.


"Oh ya,, kamu jangan masak setiap hari ya" ucap Arya di sela sela makannya.


"Loh, kenapa? emang nggak enak ya? " Dara mengerucutkan bibirnya.


"Bukan begitu sayang, kalau kamu masak setiap hari, mas nantinya akan gemuk" ucap Arya yang membuat Dara kembali tersenyum bahkan tertawa saking bahagianya.


"Oh ya? kalau gitu coba tebak, mana makanan yang dibuat bi Asih dan mana yang aku buat? soalnya tadi bi Asih juga masak satu menu " tantang Dara sambil menaikkan satu alisnya.


"Ini semuanya yang masak kamu kecuali itu, itu yang masak pasti orang lain" tunjuk Arya pada piring berisi sup ayam. Dan tebakannya tepat sekali.


"Bagaimana kamu bisa tahu? " Dara sampai dibuat ternganga karena jawaban Arya yang sangat tepat, memang semua ini yang memasak adalah Dara sendiri kecuali sup ayam itu.


Karena sudah tak ada waktu, jadi Dara berinisiatif menyuruh bi Asih membuatnya.


"Kan aku sudah bilang, masakan kamu itu yang paling lezat didunia. " Arya masih melanjutkan acara sarapannya.


"Iya deh,, percaya " Merekapun melanjutkan sarapannya tanpa bicara apapun lagi seperti biasanya.


Para pelayanpun memang sudah tradisi kalau Arya dan keluarganya sedang makan, maka diwajibkan berada di paviliun belakang dan hanya datang saat dibutuhkan saja.


Bersambung,,,

__ADS_1


__ADS_2