
Malam hari, kini Dara tengah duduk diatas ranjang nya sambil memainkan ponselnya. Ia baru saja pulang dari kantor Arya tadi pukul 6 sore. Arya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan lilitan handuk di pinggangnya yang mana membuat Dara bersemu merah
"Mas cepet pakai baju sana!! " ucap Dara setengah berteriak dan tak mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Kenapa? " tanya Arya sambil tersenyum nakal.
"Ih Sana!! cepet,,itu makanannya udah dateng " ucap Dara saat ia ingat bahwa delivery order nya sudah datang 10 menit yang lalu.
"Iya,,iya " Arya mengalah dan berjalan menuju walk in closet untuk berganti baju. Dara masih bermain ponselnya, tiba tiba ada pesan masuk dari Rani.
📨Rani: Dara, maaf ganggu kamu. Kenapa kamu nggak pernah masuk kampus akhir akhir ini?.
📨Dara: Maaf Ran, suamiku belum mengizinkan aku untuk kuliah. Ada apa emang?.
📨Rani: Dar, Rina lagi ke Norwegia. Aku sendirian sekarang, kalian berdua nggak ada disamping aku. Aku bingung mau cerita ke siapa lagi,, 😞
Kenapa dengan Rani? apa dia sedang ada masalah ya?
📨Dara: Kamu ada apa Ran? cerita aja sama aku,,
Sepertinya memang ada sesuatu. Tidak seperti biasanya Rani seperti ini. Dia adalah gadis yang tegar dalam mengatasi cobaan hidupnya.
📨Rani: Maaf Dar, aku nggak bisa cerita disini,, kamu besok bisa nggak dating ke kampus?
📨Dara: Maaf, aku nggak bisa. Tapi kalo kamu mau ketemu diluar atau dirumah aku bisa.
📨Rani: Yasudah, aku kerumah kamu aja ya.
📨Dara: Oke,, nanti aku kirim alamat rumahku yang baru.
📨Rani: Makasih Dara,,
Dara menghela nafasnya, ia sedang berkecamuk dalam pikirannya. Ada apa dengan sahabatnya? Sejauh dia mengenal Rani, ia adalah gadis yang tangguh dan pantang menyerah. Bahkan, ia selalu membela Dara saat ada masalah dan saat Tasya dulu menyakitinya. Ah, dia jadi ingat Tasya, Bagaimana nasibnya sekarang? apa yang Arya lakukan pada Tasya? Ia sampai lupa menanyakan hal penting seperti itu.
__ADS_1
Yang jelas, ia berpikir bahwa kelakuan Tasya waktu itu memang mepampaui batas.
Tapi ia juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan Tasya.
Tak lama kemudian, Arya keluar dari walk in closet dengan pakaian santainya. Ia menggunakan kaos distro warna navy dan celana panjangnya. Ia berjalan menghampiri istrinya dan mengajaknya turun untuk makan malam.
"Eh,, mas ngagetin aja " Dara terkejut saat tiba tiba suaminya sudah ada dihadapannya dan menggenggam erat jemarinya.
"Kenapa kamu melamun? " Arya membelai lembut pipi Dara.
"Nggak papa, ayo turun!! " Ajak Dara lalu melingkarkan tangannya pada lengan Arya.
Merekapun turun dengan Dara yang melingkarkan tangannya pada lengan Arya dan kepalanya bersandar manja pada Arya. Entah mengapa ia sangat bahagia saat berada disamping Arya. Ia merasa diinginkan dan dicintai. Ya, meskipun Arya belum mengungkapkannya secara terang terangan padanya.
Mereka pun duduk di meja makan dan memandang segala jenis seafood sudah terhidang diatas meja yang sudah disiapkan oleh pelayan tadi.
" Mas kenapa beli seafood sebanyak ini? " tanya Dara heran, apakah sesuka itu Arya dengan seafood sampai membeli sebanyak ini?
Bagaimana suamiku tau kalau Aku sangat menyukai seafood? Apa bertanya pada mama dan papa? Atau kak Arjuna?
"Eh,,jangan, aku hanya heran bagaimana kamu tahu kalau aku sangat menyukai makanan laut? " Ucap Dara sambil menatap lobster dan udang favoritnya.
Ternyata feeling ku benar,, haha. Wahai otakku yang cerdas, bekerjalah seperti ini terus ya! Agar istriku bisa bahagia bersamaku.
"Itu hanya feeling ku saja yang mengatakan kalau kau suka seafood, ternyata otakku pandai dan cerdas ya,, haha" Arya tertawa
"Ih,, sombong!! " Dara mendelik kesal atas asumsi yang dinyatakan Arya.
Tapi memang tak dapat dipungkiri bahwa pria yang sekarang menjadi suaminya ini memang sangat cerdas, tampan, dan berbakat. Buktinya saja, ia mempunyai perusahaan dan anak perusahaan yang sangat sukses dan sangat dipandang dalam dunia bisnis. Perusahaan yang sangat banyak dan besar yang bergerak pada banyak bidang, dan dari semua bidang itu ada 3 bidang bisnisnya yang sukses menggebrak dunia perbisnisan yaitu otomotif, properti dan fashion. Sementara bisnisnya yang lain mengikuti dibelakang. Perusahaan Arya bahkan sudah berkembang hingga ke negara negara maju di mancanegara seperti Singapura, USA, Arab, Dubai, Inggris, Brunei, Australia, China, Jerman, Jepang, Korea dan Malaysia serta beberapa negara di belahan dunia lainnya.
Maklumlah, Arya adalah lulusan terbaik dari Harvard University di jurusan bisnis dan managemen pada masanya ,jadi wajar saja dia sangat lihai dalam berbisnis. Semua yang dikembangkan dan dirintisnya pasti maju. Apalagi dengan tambahan pengetahuan dari papanya yang merupakan pebisnis handal. Arya telah merintis karirnya dari awal tanpa bantuan papanya, bahkan ia pernah menjadi karyawan biasa pada sebuah perusahaan kecil, hingga sekarang ia menjadi sangat sukses seperti sekarang.
__ADS_1
Dara sangat bangga pada suaminya ini. Darimana Dara tahu semua itu? Ia membaca arsip dan data di ruang kerja Arya secara diam diam saat suaminya pergi, jadi ia tahu semuanya. Ya, memang itu yang diharapkan hatinya, ingin mengenal suaminya lebih dalam lagi dan ia menemukan semua itu pada ruang kerja Arya. Dara masih saja melamun,hingga Arya menyadarkannya.
"Hello!! kenapa melamun hemm?? " Sedari tadi Arya melihat istrinya sedang melamun saat ia sendiri sedang berusaha mengupas kerang.
"Eh,, nggak papa,, ayo makan "Dara gelagapan karena ketahuan telah melamunkan kehebatan suaminya.
"Kamu nggak alergi udang??" Arya sendiri menyukai udang, tapi ia takut Dara alergi udang, karena ada beberapa kasus yang ia temukan bahwa pecinta seafood juga ada yang malah alergi pada udang, misalnya saja Raga temannya yang suka seafood tapi alergi pada udang.
"Nggak,,aku nggak punya alergi mas " ucap Dara sambil mengambil lobster dengan saus tiram kesukaannya.
"Syukurlah,, mas pikir kamu alergi juga sama udang " Arya mengambil udang dihadapannya dan melahapnya.
"Emangnya siapa yang alergi sama udang? " tanya Dara heran karena ada kata ' juga ' yang terselip pada kalimat Arya.
"Raga, temanku dia suka seafood tapi alergi pada udang. Aku takut jika kamu juga punya alergi yang sama" Arts berucap sambil mengunyah udang dalam mulutnya.
"Raga? " Pasalnya Dara tak pernah mendengar Arya menceritakan tentang teman temannya.
"Oh iya, kamu belum kenal ya. Dia salah satu sahabatku sejak lama dan juga bekerja sama dengan perusahaanku dalam bidang fashion"
"Ohh" Hanya itu yang diucapkannya.
"Ada satu lagi banana Geri, nanti kapan kapan kamu aku kenalkan sama mereka. Udah sekarang makan, keburu dingin nanti " ucap Arya menyudahi pembicaraan.
"Iya mas " Dara pun melahap lobster dihadapannya yang terlihat sangat menggoda untuk memanjakan lidahnya. Makan malam pun terjadi tanpa percakapan lagi, hanya ada suara denting jam karena suasana rumah sangat sunyi.
Bersambung,,,
__ADS_1
**