Menikah Dengan CEO Yang Dingin

Menikah Dengan CEO Yang Dingin
Pagi Hari


__ADS_3

Dara dan Arya sedang ada di dalam mobilnya sekarang. Mereka akan melaju menuju hotel Arya. Tadinya Arya berniat akan langsung pulang ke Indonesia, namun Dara berkata ingin istirahat di dalam hotel. Sedangkan Rey? Dia masih mengerjakan tugas penting dari Arya.


Dara sudah menghentikan tangisnya sejak 30 menit yang lalu. Namun, masih terlihat jelas gurat sedih sekaligus amarah di wajahnya.


Begitupun dengan Arya, rasanya tubuhnya masih tersulut api. Amarah masih terpancar jelas dari manik matanya.


Kalau tadi istrinya tidak memohon sampai berlutut padanya maka ia akan menguliti Reynard dan membuangnya kelaut saat itu juga. Biar saja dia jadi makanan hiu atau paus.


Arya menghela napasnya, lalu mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Maaf, " Arya merasa bersalah, jika saja dia tidak mengikut sertakan Dara dalam meeting itu, maka semua insiden ini tak akan terjadi.


Hatinya terasa teriris belati saat mengingat Dara teriak memanggil namanya dan buliran air mata membanjiri pipi nya yang mulus.


Bibir yang tadinya mengembang senyuman berubah menjadi raut kesedihan.


"Kamu tidak bersalah,, " Senyum masih belum terukir di wajahnya.


Reynard biadab!! Kurang ajar! Aku tidak akan melepaskanmu, sekalipun kau adalah manusia berpengaruh di negeri ini.


"Aku telah gagal menjagamu, maafkan aku. " Ucap Arya. Dara menatap manik Arya yang menampilkan gurat kesedihan namun juga ada amarah disana.


"Aku tidak papa,, kamu jangan berkata begitu" Ia lalu bersandar pada dada bidang Arya. Menenggelamkan wajahnya disana, rasanya sangat tenang. Berada dalam posisi ini menyalurkan ketenangan tersendiri baginya.


"Aku berjanji akan menghancurkan manusia sialan itu!! Aku akan mencarinya sampai ke lubang tikus sekalipun!! " Amarah memenuhi raut wajah Arya sekarang. Rahangnya mengeras, yang dia inginkan sekarang hanya satu, KEHANCURAN REYNARD!.


"Jangan,, kamu akan memperkeruh masalah. Dendam tidak akan memperbaiki apapun.


Jangan bermain api jika tidak ingin terbakar " Dara membelai rahang Arya yang mengeras menahan gejolak amarah.


"Aku berjanji tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Aku akan membuat senyuman di wajahmu" Mendekap istrinya lebih erat lagi, seolah tidak boleh pergi kemanapun.


***


Arya menggendong istrinya ala bridal style memasuki hotel. Mungkin karena dekapan Arya sangat nyaman sampai membuat Dara terbuai dalam alam mimpi.


Arya tidak memperdulikan tatapan dari para pegawai hotel, apalagi tatapan memuja dari para wanita. Ia terus melangkah menuju kamar Presidential Suite.


Oh my God! Handsome!

__ADS_1


So handsome!!


He is very handsome!!


Begitulah yang ada di benak para wanita bule itu.


Seorang pegawai hotel membukakan pintu untuknya. Ia masuk dan merebahkan Dara dengan perlahan. Lalu Arya mendudukan dirinya diatas sofa empuk itu, ia mengambil ponselnya dari saku jasnya.


Ada pesan masuk dari Rey, Arya yang membacanya tersenyum puas.


***


Keesokan Harinya...


Matahari telah terbit dari ufuk timur. Disini hanya ada dua musim, karena ini bulan Oktober, maka sedang terjadi musim hujan di Singapura.


Hari masih pagi, hawa dingin menyeruak masuk kedalam kulit sepasang anak manusia yang sedang terlelap sambil saling berpelukan.


Dara bangun duluan, ia langsung membersihkan dirinya dalam kamar mandi. Ia masuk kedalam bath up dan memulai ritual mandinya, tak lupa ia menambahkan aroma terapi yang ada disamping bath up.


Setelah selesai, ia membilas dirinya dibawah guyuran air shower. Terasa sangat dingin, tadi malam baru saja turun hujan. Dara menengok kearah gantungan, tapi tidak ada bathrobe disana. Hanya ada handuk saja, mungkin bathrobe nya masih tertinggal di lemari. Dengan terpaksa ia memakai handuk itu yang hanya menutupinya dari dada sampai ke paha.


Ia tidak memperhatikan apapun, hingga ia tidak sadar bahwa Arya sudah ada dibelakangnya. Arya baru saja kembali dari lantai dasar.


"Sayang.. " Panggil Arya sambil tersenyum nakal. Dara yang membelakanginya pun terkejut. Perasaan tadi tidak ada orang.


"Kenapa kamu disini? " Dara masih memunggungi suaminya. Jantungnya terasa akan benar benar keluar sekarang.


"Kenapa aku disini? Tentu saja karena ini adalah kamar kita " Ia berjalan mendekati Dara. Semakin dekat, semakin dekat, hingga ia memeluknya dari belakang. Meletakan tangannya pada pinggang ramping istrinya. Dan menumpukan dagunya di bahu Dara.


Nafasnya yang hangat, membuat bulu roma Dara bangkit. Ia gugup, jantungnya berpacu semakin cepat. Apakah Arya akan meminta haknya sekarang? Pagi pagi begini? Jujur saja ia tidak siap.


Masih di posisi yang sama, bahkan Arya memajamkan matanya. Melingkarkan tangannya pada perut Dara tanpa berkata apapun. Ia nyaman dalam posisi ini.


Terpaan nafas hangat dan lembut Arya semakin membuat Dara bergidik ngeri.


"A_aku akan g_ganti baju dulu. Bukankah kita akan pulang hari ini? " Berusaha melepaskan tangan Arya yang mendekap erat perutnya.


"Kita tidak akan pulang " Suaranya terdengar serak, tangannya sesekali bergerak mengelus perut istrinya. Hingga membuat lilitan handuk Dara dibagian dadanya hampir merosot jika ia tidak memegangnya.

__ADS_1


Dara berusaha mencari akal agar selamat dari situasi ini. Ia memang belum siap, tapi seandainya Arya menginginkannya ia juga tak akan menolak, karena sudah kewajibannya melayani suami. Tapi bukan pagi pagi begini!


"Emm,,, baiklah kita tidak akan pulang. Bagaimana kalau kita jalan jalan hari ini " Sebuah ide muncul agar situasi kembali normal.


Lalu melepaskan tangan Arya dan berbalik menghadapnya. Sambil tangannya mencegah agar lilitan handuknya tidak jatuh.


Senyum di wajah Arya pudar, dan berganti wajah kesal karena Dara melepaskan pelukannya.


"Kamu tidak mau menemaniku? Siapa kemarin yang berkata ingin membuatku tersenyum lagi. " Dara memasang wajah imutnya dan tak lupa jurus puppy eyes andalannya.


Untung saja ia ingat kata kata Arya kemarin yang berjanji, akan membuatnya tersenyum lagi setelah kejadian itu.


"Baiklah, ayo kita jalan jalan " Wajahnya masih terlihat masam.


"Tidak usah, kamu tidak ikhlas " Dara pura pura merajuk lalu melangkah ke walk in closet. Ia tahu, adegan ini akan membuat Arya tidak ngambek lagi padanya.


"Eh,, tunggu. Baiklah maafkan aku, hari ini kita akan jalan jalan " Kali ini ia tersenyum cerah, secerah matahari yang sedang menyinari dunia.


"Benarkah?? " Dara berbalik, menatap manik Arya yang memancarkan aura kejujuran.


Sudah tidak ada amarah di matanya. Entah apa yang dilakukannya pada Reynard.


"Iya " Arya mengangguk.


"Baiklah,, aku akan ganti baju dulu,, kamu juga mandi sana! "


"Ada sesuatu yang kamu lupakan. "


"Apa? " Dara mengernyitkan keningnya. Tanpa berkata sepatah kata pun Arya tiba tiba mencium bibirnya singkat lalu berjalan dengan santainya ke kamar mandi. Meninggalkan istrinya yang sedang melotot dan pipi yang semerah tomat.


Bersambung...


Mohon maaf jika update nya kelamaan. Apa kalian tahu, membuat satu episode saja rasanya otak ini berasap 😌.


Jadi maklumin saja ya. Apalagi author punya kehidupan nyata yang penuh tantangan 🤐.


Aku ucapkan terimakasih untuk kalian yang sudah dukung aku, like, komen, vote dan rate 5.


(Mohon maaf author memang lebay 😀)

__ADS_1


__ADS_2