
Sekarang mereka tengah berkumpul diruang keluarga sambil memakan martabak yang dibawa Dara tadi.
"Dek,, kenapa Arya nggak ikut? " Arjuna membuka pembicaraan.
"Dia lagi keluar kota,, tapi nanti katanya mau jemput,, " ucap Dara sambil mengunyah makanan.
"Hati hati lo,, nanti suamimu kepincut cewek lain " Goda Arjuna, Dara langsung memukul lengannya.
"Awww!!" Pekik Arjuna.
"Itu tidak mungkin!! " Ucapnya setengah berteriak.
"Mungkin saja,, orang istrinya galak seperti ini, suami mana yang betah "Arjuna tertawa terbahak bahak.
"Hihhh,,,kakak menyebalkan!! " Dara memukuli kakaknya dengan bantal yang ada di sofa, Tuan Satya dan Nyonya Sara hanya tertawa melihat kelakuan menggemaskan putra putri mereka.
"Sudah,, sudah,, kalian ini ya. Nggak ada habisnya bertengkar. Mending nonton televisi tuh ada sinetron yang bagus " Ucap Nyonya Sara menunjuk televisi yang menayangkan sinetron.
"Ah itu membosankan ma,, mending nonton bola " Usul Arjuna.
"Papa setuju!! " Tuan Satya berteriak sambil mengacungkan jarinya.
"Ayo ganti ma,, " Arjuna merengek meminta remote nya namun nyonya Sara tak memberikannya.
"Enak aja,, enakan juga nonton sinetron " ucap nyonya Sara, Dara hanya memperhatikan tak ada niatan ikut serta.
"Dara bantuin kakak dong!! " pintanya
"Males ah,, " Dara memilih melanjutkan makannya.
"Yahh,, yaudah dehh, "
Mereka pun menghabiskan waktu bersama, menikmati hangatnya mempunyai keluarga. Saling mengulang kejadian yang sering terjadi dirumah ini dulu. Pertengkaran Dara dan Arjuna, rebutan makanan, rebutan remote tv, dan lainnya itu adalah rutinitas keluarga ini yang telah berkurang saat Dara menikah. Bahkan Arjuna sampai membatalkan meeting nya setelah mengetahui kedatangan Dara.
"Kakak,, ayo kita jalan jalan ke danau seperti dulu, sambil memancing ikan,, " ucap Dara menatap Arjuna, ia akui kakaknya ini memang menyebalkan, tapi ia tahu Arjuna sangat menyayangi nya.
Dara merindukan masa masa saat ia masih bersama kakaknya dahulu.
"Hemm,,, boleh juga,, ayo kita pergi sekarang " Arjuna langsung ke gudang mengambil peralatan memancing nya, dia dan adiknya punya kebiasaan unik yaitu memancing tanpa adanya umpan. Memang susah, mereka tak pernah mendapat tangkapan sebelum akhirnya Arjuna membeli umpan dari penjual disana. Kebiasaan yang aneh.
"Sudah siap? " Dara menyusul kakaknya ke gudang.
"Tentu saja,, ayo " Mereka melangkah ke ruang keluarga untuk pamit pada papa dan mama nya.
"Pa, ma, Dara sama kak Arjun mau mancing dulu ya " Pamit Dara.
"Iya hati hati sayang "
Arjuna dan Dara keluar dari rumah keluarga Mahendra. Mereka berjalan kaki, karena danau nya memang tak terlalu jauh dari sana. Arjuna memakai kaos santai lengan pendek sambil menenteng peralatan pancing. Sementara Dara berjalan disamping nya membawa sling bag miliknya.
"Jauh juga ternyata ya kak " Sambil menghapus keringat yang menghiasi wajah cantiknya.
"Itu karena kamu sudah lama tidak jalan kaki kemari " Ucap Arjuna.
Tidak lama kemudian ada beberapa preman yang entah muncul darimana tiba tiba menghadang mereka. Arjuna langsung sigap melempar peralatan pancing nya dan melindungi Dara dibelakang punggung nya.
"Kakak,, itu siapa? " Dara ketakutan,, ia tiba tiba jadi teringat akan kejadian penculikan nya tempo lalu.
"Kamu tenang ya dek,, kakak bisa atasi ini " Arjuna menjadikan dirinya sebagai tameng untuk Dara.
__ADS_1
"Kakak,, bagaimana ini? " Dara bersembunyi dibalik punggung tegap kakaknya.
"Siapa kalian!! "Teriak Arjuna, para preman itu malah tertawa lepas.
"Saya tanya siapa kalian!!!" Teriak Arjuna untuk yang kedua kalinya.
Tanpa aba aba para preman kampung itu menyerang Arjuna. Mereka berjumlah tiga orang, sedangkan Arjuna hanya seorang diri. Dara berdiri dipinggir jalan sambil berniat menghubungi seseorang.
Tapi sialnya, ponselnya lowbat. Ingin teriak tapi disana sangat sepi, karena ini adalah jalan menuju danau alami.
Bagaimana ini!!!
"Tolongg!!! " Teriak Dara, namun tak ada satu pun manusia disana.
"Tolongg!!! " Dara senantiasa berteriak.
Salah satu preman yang mendengar teriakan Dara menghampirinya sambil mengeluarkan pisau dari sakunya.
"Mau apa kau!!! " Dara ketakutan, berusaha menjauh dari pria itu.
"Diamlah gadis manis,, " Pria itu mengeluarkan senyuman iblisnya, lalu semakin mendekati Dara.
"Kakak!! " Arjuna menoleh, ia melihat adiknya sedang ditodong pisau dileher nya.
"Lepaskan adikku!! "
"Katakan apa yang kalian inginkan aku akan memberikannya tapi jangan sakiti adikku!! "
"Berikan dua ratus juta " ucap salah satu dari komplotan itu.
"Baiklah,, tapi lepaskan dulu adikku " Pria yang menodong Dara dengan pisau tadi melepaskannya. Arjuna mengambil dompet nya dan mengeluarkan sepucuk kertas dan pulpen. Ia menulis nominal dua ratus juta dalam cek itu dam memberikannya pada salah satu preman.
"Kakak aku takut,, " lirih Dara yang berada dalam dekapan kakaknya.
"Sssttt,, tenanglah mereka sudah pergi,, sekarang kita pulang ya "Arjuna mengelus kepala adiknya penuh sayang.
"Kakak, bagaimana dengan uang mu tadi? " Dara menengadah menatap kakak nya yang babak belur karena habis adu jotos tadi.
"Tenang saja,, itu bisa diatur nanti yang penting kamu tidak papa kan? " Dara mengangguk.
"Kakak,, aku mohon jangan ceritakan ini pada suamiku " Dara memohon dengan tatapan mengiba pada Arjuna. Karena jika sampai Arya tahu, maka mungkin saja dia tak akan membiarkan Dara keluar rumah lagi.
"Baiklah,, kakak tidak akan beritahu ya "
"Sekarang kita pulang ya " Ucap Arjuna, Dara pun mengiyakan, ia masih syok juga dengan kejadian tadi.
"Iya kak " Mereka berjalan beriringan menuju rumah, hancur sudah rencana memancing yang diidamkan Dara. Sampai akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah, Arjuna dan Dara ragu untuk masuk. Mereka takut orang tuanya akan kaget melihat kondisi mereka. Apalagi Arjuna banyak mendapat memar dimana mana.
"Jangan takut,, katakan saja yang sebenarnya oke " ucap Arjuna meyakinkan adiknya. Dara mengangguk. Merekapun masuk. Tuan Satya dan Nyonya Sara ada diruang tamu sambil makan camilan, mereka terkejut melihat keadaan Arjuna yang babak belur.
"Astaga nak,, kamu kenapa? " nyonya Sara bangkit, memeriksa keadaan anaknya.
"Mama ambil obat dulu ya " Nyonya Sara berlari mengambil kotak obat di dapur.
"Kamu kenapa?Kok bisa seperti ini? " tanya Tuan Satya panik.
"Nggak papa pa, tadi ada kecelakaan kecil di jalan " Lalu nyonya Sara datang membawa kotak P3K dan mulai mengobati putranya.
"Katakan bagaimana bisa sampai begini? " tanya nyonya Sara.
__ADS_1
"Tadi ada preman yang nyegat kita ma, terus Arjuna lawan tapi mereka malah nodong Dara pakai pisau, jadi Arjuna memberikan mereka uang " tutur Arjuna.
"Astaga!! Kamu nggak papa kan nak? " Menatap putrinya yang duduk disamping Arjuna.
"Nggak ma,, Dara nggak papa kok" ucap Dara sambil tersenyum, tak mau membuat orang tuanya khawatir. Tak lama kemudian suara bel pintu berbunyi, Dara yakin itu adalah Arya. Ia pun panik, jangan sampai Arya mengetahui insiden hari ini.
"Pa,, ma,, Dara mohon jangan kasih tahu mas Arya tentang kejadian hari ini " Dara memelas.
"Baiklah sayang, tapi Arjun kamu masuk ke kamar ya, kalau Arya tahu kamu babak belur pasti ia akan curiga " Ucap Tuan Satya.
"Iya pa " Arjuna beranjak, namun ia dicekal Dara.
"Makasih ya kak, dan maaf jadi membuat kakak seperti ini " Dara meneteskan air matanya.
"Jangan menangis, kalau matamu sembab maka Arya akan tahu nanti. Kakak baik baik saja " Arjuna menghapus air mata adiknya, ia terasa teriris hatinya saat melihat Dara mengeluarkan air mata.
"Iya kak " Dara menghentikan tangisnya, marapikan penampilannya dan menerbitkan senyuman nya.
"Nah gitu dong,, kakak pergi dulu " Arjuna memasuki kamarnya.
"Mama buka pintu dulu ya " Nyonya Sara berjalan kearah pintu dan membukakan nya. Terpampang jelas Arya dengan Rey dibelakangnya.
"Ayo nak masuk dulu,, pak Rey juga masuk ya "
"Terimakasih ma " Arya dan Rey masuk kedalam, ia melihat istrinya sedang duduk bersama papanya.
"Sayang ayo kita pulang " Ajak Arya.
"Loh,, nggak makan dulu nak? " tanya tuan Satya.
"Nggak pa, Arya sudah lelah sekali. Ingin segera istirahat " Tuan Satya memerhatikan mata Arya yang merah, mungkin dia sedang ngantuk berat.
"Baiklah hati hati nak " Dara dan Arya berpamitan pada kedua orangtua nya.
πππΊπΊππ
Sekarang Dara dan Arya tengah berada dalam mobil sport keluaran terbaru milik Arya. Mereka duduk saling merangkul dibelakang, sementara Rey yang menyupir didepan.
Arya memerhatikan istrinya, wajahnya tampak lain dari biasanya. Dia tampak seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kamu kenapa? " tanya Arya sambil membelai lembut surai istrinya.
"Aku nggak papa " Dara tak berani menatap manik Arya, ia menunduk kebawah.
"Jangan menyembunyikan apapun dariku,," ucap Arya lembut.
"Aku beneran nggak papa "
"Tatap mataku! " Dara menatap mata Arya, Arya bisa membacanya jika istrinya sedang ketakutan.
"Yasudah kalau begitu " ucap Arya final.
Tidak papa jika tidak mau cerita padaku, tapi aku pasti akan mencari tahu nanti.
**Bersambung,,,
#Nanti author akan buat visual tokoh yang lengkapnya ya π**
__ADS_1