Menikah Dengan CEO Yang Dingin

Menikah Dengan CEO Yang Dingin
Makan Malam


__ADS_3

Malam Minggu pukul 19.00


Raga telah siap dengan setelan jas berwarna navy, ia menyisir rambutnya lumayan lama, entah mengapa dia gugup malam ini.


Padahal Raga biasa berkencan dengan para gadis gadis cantik. Tapi untuk kali ini, dia merasa ada yang berbeda.


Hemm,,, aku ganteng juga ya ternyata.


Tidak kalah sama Arya si kutub utara itu.


Batin Raga sambil memandang dirinya didepan cermin.


Lalu ia mengambil ponsel dan dompetnya diatas nakas. Berjalan keluar dari kamarnya, tapi tunggu, sepertinya ada yang kurang?.


Raga berbalik dan mengambil jam tangan mahalnya yang ada diatas meja. Ia memakainya lalu keluar, berniat akan menjemput Rani dirumahnya.


Sementara dirumah Rani, dia sudah siap dengan dress berwarna biru tua tanpa lengan. Rani menyisir rambut panjangnya yang tergerai sampai bahu.


Rani menatap dirinya di cermin, dia sangat gugup sekarang. Ini adalah pertama kalinya dia makan malam dengan seorang laki laki, selain ayahnya dulu.


Rani sudah memesan taksi online tadi, ia tak tahu bahwa Raga akan menjemput nya.


Ia melangkah keluar ruangan dan menuruni anak tangga dengan hati hati.


Afdal ada di sofa ruang tengah sedang bermain game nya terpukau dengan kecantikan kakaknya. Dalam benaknya ia berpikir, akan kemana kakaknya? Tidak biasanya dia berpenampilan seperti itu.


"Kakak mau kemana? " Tanya Afdal saat Rani sudah ada didepannya.


"Kakak ada urusan " ucap Rani.


"Mau ketemu sama pacarnya ya? " Goda Afdal sambil cengengesan.


"Ih,, kamu ini ya! Kamu masih kecil tidak tahu apa pun jangan ikut campur " Rani menjewer telinga adiknya yang sok tahu ini.


"Aww!! sakit!! Lepas kak " pekik Afdal, Rani pun melepaskannya.


"Makannya jangan nakal,, kamu dirumah dulu ya,, kunci pintunya dan jangan buka kecuali kakak yang datang " Peringat Rani, walaupun musuh keluarganya sudah dibantai oleh Arya tapi biar bagaimanapun ia takut terjadi sesuatu pada Afdal.


"Iya kak " ucap Afdap, lalu mengadahkan tangannya ke Rani, Rani mengernyitkan keningnya. Maksudnya apa?


"Uang jajan? " tanya Afdal dengan polosnya.


"Yaampun ini sudah malam!! Memangnya mau beli apa " Tidak habis pikir dengan adiknya ini, tadi baru saja makan dua piring, sekarang malah minta uang lagi.


"Aku tadi pesan makanan online kak,, " ucap Afdal dengan santainya.


"Ini,, tapi jangan keluar rumah ya " Rani memberikan dua lembar uang seratus ribu.


"Siap kakak ku!! "


Rani lalu melangkah ke ruang tamu, dia duduk di sofa menunggu taksi online pesanannya datang.


Tiba tiba terdengar suara klakson mobil dari pekarangan rumah nya. Rani mengintip dari jendela, tapi itu tidak terlihat seperti taksi, pikirnya. Yang benar saja, tidak mungkin itu taksi jelas jelas itu adalah mobil sport keluaran terbaru dari perusahaan Tuan Arya, Rani tahu karena ia yang menjadi modelnya waktu itu.


Siapa dia? Apa salah alamat?

__ADS_1


Rani keluar dan menutup pintu, berjalan mendekati mobil mewah itu dengan rasa ragu, semoga saja itu bukan musuh lain keluarganya yang menyamar.


Saat Rani ada disamping jendela mobil, perlahan kacanya turun dan memperlihatkan Raga yang tersenyum secerah matahari padanya. Raga terlihat begitu cool. Rani yang terpukau tanpa sadar juga tersenyum kearahnya. Sepersekian detik berikutnya ia sadar dan memperbaiki raut mukanya.


"Ekhmm,, sedang apa kamu disini? Apa salah alamat? " tanya Rani dengan polosnya.


"Yaampun,, aku kesini untuk menjemputmu " Raga memainkan matanya, gadis ini keterlaluan polosnya.


"Tapi aku sudah pesan taksi online " Rani menolak dengan halus agar pria ini tidak tersinggung.


"Ck,, cancel saja,, lagipula kita kan akan dinner bersama, berarti berangkat juga bersama kan? " ucap Raga.


"Baiklah kalau begitu " Rani menyalakan ponselnya dan membatalkan pesanan nya tadi, sebenarnya ia merasa sedikit bersalah pada driver taksi itu.


"Masuklah " Raga membuka pintu mobilnya dari dalam, Rani masuk dan duduk disampingnya. Raga langsung melajukan mobilnya menuju tempat spesial yang sudah dia persiapkan.


Setelah beberapa menit perjalanan, kini Raga dan Rani sampai di sebuah restoran mewah berlantai lima.


Raga turun dan membukakan pintu untuk gadis incarannya ini. Rani keluar, menatap sekeliling, restoran ini sangat mewah pasti makanan mahal dan porsinya sedikit, untung saja dia bawa kartu kredit, pikirnya.


"Apa yang kamu pikirkan? " Raga melihat Rani yang tampak memandangi sekeliling.


"Tidak ada "


"Ayo masuk,, " Lalu menggandeng tangan Rani memasuki restoran.


Mereka ada di lantai paling atas, tapi tidak terlalu ramai disana. Hanya ada tujuh meja yang terisi manusia.


Raga dan Rani duduk, makanan sudah tersedia diatas meja. Rani heran, makanan sudah tersaji sebelum mereka datang tapi terlihat masih hangat.


"Kenapa? Kamu tidak suka makanannya? " ucap Raga.


"Aku memesannya lima menit sebelum kita datang " ucap Raga santai.


Orang kaya memang bebas.


Mereka memakan makanan mewah itu, Raga terlihat gusar, dia bingung pada dirinya sendiri mengapa sangat gugup saat ada didepan Rani, apalagi saat ia ditatap dengan manik mata hazelnut yang indah itu.


Rani juga gugup, tapi ia berhasil menyembunyikan raut wajahnya dan bersikap biasa saja. Ia pikir akan makan malam di kafe biasa yang ramai pengunjung, tapi nyatanya dia diajak ke tempat eksklusif, hanya orang kelas atas yang mampu kesini.


Rani memang berasal dari keluarga mampu, tapi dia tak terlalu suka menghamburkan uang. Termasuk dinner di tempat seperti ini.


"Mmm,,, setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat " Keheningan berakhir saat Raga membuka percakapan.


"Kemana? " Rani menaikan satu alisnya.


"Kamu akan segera mengetahuinya " Ia ragu menyatakan niatnya, tapi Raga adalah tipe orang yang tak suka bertele tele.


"Oke " Mereka melanjutkan makan, suara denting sendok dan garpu terdengar jelas mengingat pengunjung disana tidak suka keramaian.


Tanpa mereka sadari, ada empat pasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Mereka adalah Dara dan Arya.


Arya baru saja pulang dari kantor bersama istrinya. Arya berinisiatif mengajak Dara makan disini.


Mereka tertawa dalam diam melihat Rani dan Arga yang saling diam dan gugup.

__ADS_1


"Mereka sangat lucu " Dara berbisik di telinga suaminya, melihat sahabatnya yang cerewet saat bersamanya tapi terlihat begitu diam sekarang.


"Benar sekali sayang,, sahabatku yang sok tahu dan playboy jadi seperti kucing anggora " Arya memelankan suaranya.


Dara hafal sifat sahabatnya, ia akan cerewet pada orang yang sudah dikenalnya lama, tapi akan jadi pendiam dan misterius saat bersama orang baru.


Tak lama kemudian Raga beranjak dari duduk dan menggandeng Rani keluar ruangan.


"Ayo kita ikuti mereka,,, " ajak Arya, ia akan beranjak namun tangannya dicekal.


"Jangan,, nanti kita mengganggu " Cegah Dara.


"Tapi aku penasaran bagaimana aksi sahabatku yang menyebalkan itu " Arya mengiba dengan tatapannya.


"Baiklah ayo,,," Mereka mengikuti Rani dan Raga dengan diam diam dari belakang.


Kembali ke Rani dan Raga,


Raga menuntun Rani ke suatu tempat yang sangat indah. Disana ada satu meja dengan hiasan lilin dan berbagai macam makanan. Di sekeliling dipenuhi beraneka bunga, namun yang paling dominan adalah mawar merah.


Rani memandang sekeliling, pikirannya berkecamuk bertanya apa yang sedang terjadi. Apakah Raga akan melamarnya?


Ada apa ini? Tunggu! Apakah dia akan...


Raga berjongkok di depannya, mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Ia membuka kotak merah itu dan terpampang jelas isinya adalah sebuah cincin berlian. Motifnya sangat rumit dan indah.


"Sebelumnya maaf apabila aku mengejutkanmu,, tapi aku adalah tipe orang yang tidak suka bertele tele. Jadi,,, maukah kau menjadi pendamping hidupku? "


Raga serius sekarang. Meskipun dia playboy, tapi jika dia sudah yakin pada seorang wanita maka ia akan gerak cepat. Rani tersentak dengan apa yang dilontarkan pria dihadapannya.


Dia menegang disana. Bingung apa yang akan dikatakan sebagai jawaban.


Raga masih berjongkok dan menatap penuh harap padanya.


"Bagaimana? Kau,,, bersedia? "


Raga sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Rani akan menolak, namun melihat sorot mata Raga yang serius ia menjadi mempertimbangkan nya.


Ia teringat permintaan ibunya sebelum koma, yang meminta agar mencari seorang pria yang bisa menjaga dan melindunginya.


Tanpa diduga oleh Raga, Rani mengangguk setuju. Jantung Raga serasa akan lompat dari tempatnya. Hatinya seakan ditumbuhi bunga yang bermekaran. Ia luar biasa bahagia sekarang.


"Kau,,,, serius? " Raga bangkit, matanya berbinar cahaya.


"Iya, tapi aku punya syarat "


"Katakan! "


"Aku tidak ingin buru buru menikah,, kau tahukan aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri "


"Baiklah,, aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu saat yang tepat " Rani tersenyum mendengar jawaban Raga.


Tanpa diduga Raga tiba tiba memeluknya. Rani terkejut, meskipun begitu ia membalas perlakuan Raga.


Mereka tidak sadar ada dua pasang mata yang sedang mengintai dari kejauhan. Ya, itu adalah sepasang suami istri, Arya dan Dara.

__ADS_1


Mereka tampak bahagia melihat adegan yang ditontonnya.


Bersambung,,,,


__ADS_2