
"Lepaskan!! apa kamu sudah tidak waras!
Ada banyak orang disini!! " Berusaha mendorong bahu Arya, namun tenaganya kalah telak.
"Aku tidak akan melepaskan nya sebelum kamu memaafkanku "
"Aku tidak marah!! "
"Yasudah, kalau tidak mau. Biarkan saja kita jadi bahan tontonan "
Arya gila, bagaimana kalau ada wartawan yang tiba tiba muncul dan memotret kekonyolan nya.
Dia kan orang yang terkenal, bisa bisa hancurlah citra Fernandez Groub.
"Hah!! Iya iya aku memaafkan mu " Dara pasrah.
"Serius? "
"Iya! Sekarang lepaskan " Arya agak menjauh dari sang istri. Dara yang kesal langsung menjauh, berjalan sambil menghentakan kakinya.
Mencari tempat yang agak lengang agar terhindar dari rasa malu yang hinggap padanya saat ini. Sungguh suami keterlaluan, kenapa juga berbuat seperti itu di mall sebesar ini.
Arya mengejar istrinya. Tampaknya, Dara sedang duduk pada sebuah meja di salah satu restoran disana.
"Sayang... katanya sudah tidak marah? " Arya ikut duduk.
"Kamu gila! "
"Maafkan aku.. "
"Hm"
"Masih marah? "
"Hm"
"Kenapa hanya menjawab 'hm' saja? "
"Hm"
"Baiklah, kali ini aku serius meminta maaf.
Aku akan menuruti apa saja yang kamu inginkan, asalkan maafkan segala kesalahanku " Kali ini benar benar serius, tidak main main lagi.
Dara berpikir sejenak, ia ingin membalas Arya juga.
Dia sudah bersikap seenaknya padaku.. Oke suamiku tersayang.. bersiaplah menerima pembalasan ku..
"Apa saja? " Menaikan satu alisnya.
"Iya, apa saja. Katakan kamu ingin apa? "
"Baju mahal, tas branded, atau sepatu, atau _"
"Aku tidak butuh semua itu " ucap Dara. Lagipula kalau barang barang macam itu sudah menumpuk segunung di lemarinya.
"Lalu? "
"Katakan padaku, kenapa kamu tidak suka makan jamur? " Dara sangat penasaran.
Tiba tiba raut wajah Arya berubah menjadi dingin.
"Ada apa? "
"Bisakah kamu tanyakan yang lain? " Mood Arya hilang saat membicarakan makanan yang mengandung jamur.
"Sebenarnya kenapa? Aku sangat penasaran? "
Arya masih belum siap memberitahu kan alasan kebencian nya pada jamur. Ini berhubungan dengan masa lalu nya yang pahit. Arya sudah tak ingin mengungkit itu lagi, ia sudah bahagia sekarang.
Dan semoga saja.. tidak ada pengacau yang mengganggu.
"Aku tidak ingin membahasnya" Raut wajahnya masih dingin. Nada bicaranya sudah tak manis lagi.
"Baiklah.. tidak apa kalau tidak ingin cerita. Aku akan menunggu " Dara paham situasi, sepertinya suaminya ini punya masa lalu yang kelam. Terlihat jelas saat ia menanyakan hal itu.
"Baiklah... aku ingin makan.. " Dara berusaha mencairkan suasana yang sempat menegang beberapa detik yang lalu.
"Katakan.. ingin makan apa? "
"Seafood "
__ADS_1
"Oke "
Akhirnya mereka memesan seafood seperti yang diinginkan Dara.
Usai makan makanan favorit, perut sudah merasa kenyang. Kini tibalah saatnya nona muda mengerjai suaminya. Bukan apa apa, hanya saja ia masih kesal dengan kejadian yang tadi.
"Mas ayo kita kesana... " Dara menunjuk salah satu toko yang menjual beraneka macam topi.
"Kamu ingin membeli topi? "
"Iya " Lalu menarik tangan suaminya mendekati toko itu.
Mereka masuk, disambut kepala toko disini. Pria paruh baya itu dengan mudah mengenali Arya, karena toko ini berjalan juga dibawah naungan si tuan muda.
"Selamat datang tuan muda, nona muda " Pria itu membungkuk hormat saat menyambut Arya, layaknya menyambut seorang kaisar.
"Hmm " Dingin dan pendiam nya keluar lagi. Bahkan kepala toko itu hanya bersikap biasa, ia sudah hafal sifat manusia aneh ini.
"Jangan seperti itu.. balas dengan ramah " Menyikut perut suaminya dan berbisik pelan.
"Aww! Iya iya "
"Terimakasih sudah menyambut saya pak " Tersenyum secerah lampu kristal yang menyinari toko ini.
Pria itu sampai tak dapat berkata kata beberapa saat, terkejut karena ia baru saja meraih rekor tinggi, yaitu menjadi orang yang mendapat perlakuan dan senyum hangat dari seorang Tuan Muda Arya Fernandez.
"Kenapa diam saja! " Ucap Arya setengah berteriak
"Emm..ah tidak.. maafkan saya tuan " Sudah keringat dingin saja, padahal belum diapa apakan.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu tuan? "
"Istriku yang ingin belanja " Melirik Dara.
"Ah ya.. anda ingin membeli apa nona? "
"Emm... aku ingin topi seperti yang dipakai aktor korea itu.. aduh siapa ya namanya aku lupa " Mengerutkan keningnya.
"Oh ya nona.. saya tahu.. sebentar saya ambilkan "
Pria itu kembali membawa sebuah topi, tapi sayangnya hanya tersisa warna merah muda.
"Maaf nona, hanya tersisa warna ini saja "
"Tidak apa, suamiku pasti akan menyukainya " Dara tersenyum riang.
Apa!! Aku? Maksudnya apa? Arya
Apa! Jadi tuan muda yang akan mengenakannya?
"Apa maksudmu sayang?." Arya terkejut.
"Tentu saja kamu yang akan memakai topi ini" Mengambil topi itu dan memakaikan nya ke kepala Arya.
"Tidak tidak " melepas topinya.
"Aku tak akan memakai ini! " tegas Arya.
Dara menunduk dan berkaca kaca.
"Tapi aku ingin kamu mengenakan nya " lirih Dara dengan mata yang selalu bisa membuat Arya luluh.
"Tapi_" kalimatnya terpotong.
"Aku mohon.." Sebulir kristal bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Sayang jangan menangis.. " menghapus air mata berharga dari pipi istrinya.
"Baiklah.. aku akan memakainya "
"Benarkah? " matanya berbinar senang, rencana nya akhirnya berhasil juga.
"Iya " ucap Arya malas. Dara langsung mengambil topi itu dan menaruhnya di kepala Arya. Dia terlihat sangat lucu. Dara terbahak bahak dalam hatinya.
Hahaha.. suamiku sangat lucu.
Selesai membayar, mereka menyusuri mall mencari barang lain yang diinginkan Nona Muda. Arya terus cemberut, ia malu menggunakan topi terkutuk ini.
"Kenapa aku harus memakai ini! " protes Arya.
"Kan tadi kamu sudah setuju.. "
__ADS_1
"Tapi kenapa harus warna merah muda!"
"Karena hanya tersisa itu "
"Kita bisa beli di toko lain kan.. "
"Tapi aku suka yang ini.. "
"Kenapa aku harus pakai topi? "
"Kamu ingat pelayan yang tadi? "
"Yang mana? Yang di toko baju itu? "
"Iya, dia terus memerhatikanmu dan aku tidak suka itu. Jadi kamu harus pakai topi " Akhirnya menemukan kata kata yang akan membungkam mulut suaminya.
Arya tersenyum cerah sekarang.
"Oke.. aku tahu aku tampan "
Mereka terus melangkah kesana kemari. Arya sudah lelah, namun entah apa yang dicari istrinya. Sudah lebih dari satu jam, tapi tidak kunjung ketemu.
"Sebenarnya kamu mencari apa? Aku sudah lelah "
"Lelah? aku saja masih kuat "
"Lihat itu! " Dara menunjuk salah satu manekin, dimana tergantung satu dress berwarna abu - abu. Ada ibu ibu yang sedang menyentuh nya.
"Kenapa? Kamu ingin itu? "
"Iya, ambilkan untuk ku. Aku akan duduk disini " Dara duduk pada salah satu bangku panjang di sampingnya.
"kenapa kamu malah duduk disini? "
"Aku lelah.. ambilkan sana aku mau yang itu "
"Hmm... baiklah "
Arya melangkah mendekati manekin itu. Sepertinya ibu itu juga ingin membelinya.
"Hei apa yang kau lakukan! " protes ibu itu.
Pasalnya tiba tiba saja Arya menyomot dress itu tanpa permisi.
"Saya ingin membelinya " dingin dan tegas.
"Mana bisa! Aku duluan yang menyentuhnya! "
"Istriku menginginkannya! " nada bicaranya mulai naik.
"Aku duluan! Aku ingin membelinya pria lembek! "
Duh, sepertinya ibu itu tidak tahu siapa yang berada dihadapannya. Sekarang hanya mood tuan muda yang menentukan nasibnya.
"Apa katamu!! "
"Pria lembek, mana ada pria sejati yang memakai topi merah muda!! "
Arya melirik topi diatas kepalanya.
Sial, dia lupa sedang memakai topi terkutuk ini.
"Beraninya kau!! "
"Apa! Mau apa hah!! "
Mereka terus saja adu debat. Karena situasi mulai memanas, Dara pun menghampiri dan melerai dua manusia keras kepala itu.
"Sudah sudah.. "
"Bu, maafkan suamiku ya.. sebenarnya aku yang memintanya membeli dress ini.
Ibu boleh mengambilnya.. " Dara berucap penuh kesopanan.
"Oh, jadi begitu. Yasudah.. ambil saja nona.
Saya tidak masalah.. "
"Lihat! Bahkan istrimu lebih sopan daripada kau "
Kalau kau bukan wanita maka aku akan mencekik mu disini!. Arya
__ADS_1
Setelah perdebatan dengan ibu tadi, kini mereka akan pulang. Arya sudah merah padam menahan marah sekaligus malu, bahkan topinya sudah enyah entah kemana.
Bersambung...