
Raga masih melajukan mobilnya dengan diikuti instruksi dari Rani. Raga mulai curiga saat Rani memberikan arah kerumah temannya, Arya. Apa dia temannya Arya? Ah, tidak mungkin.
Tidak mungkin ia temannya Arya, diakan hanya punya dua sahabat yaitu aku sama Geri. Dia bahkan nggak mau deket deket sama cewek. Ah, mungkin rumah teman gadis ini bertetangga dengan Arya.
"Belok kanan,, " Instruksi Rani untuk yang kesekian kalinya. Raga pun mengikuti nya, ia sebenarnya ada meeting, tapi ini menyangkut nyawa jadi ia tak bisa tinggal diam.
"Stop!! " Ucap Rani, dan Raga pun menghentikan mobilnya didepan rumah mewah Arya.
Eh,,inikan rumah Arya.
"Terimakasih tuan,, tapi maaf aku buru buru,, Aku sangat takut " Rani langsung keluar dari dalam mobil Raga setelah mengucapkan kalimat itu.
"Hei tunggu!! Kau pasti salah alamat,, itu rumah temanku!! " Teriak Raga tapi terlambat, Rani sudah jauh darinya.
Ah dasar gadis bodoh! Bagaimana dia bisa salah alamat. Itukan rumahnya Arya, tak mungkin Arya punya teman wanita. Begitulah yang ada dibenak Raga, ia sampai tak ingat kalau sahabatnya itu sudah menikah, pasalnya ia hanya pernah melihat Dara sekali saat pernikahan dan itupun hanya melihat saja, tidak menyapanya. Ia pun melajukan mobilnya ke kantor Arya untuk meeting penting.
Sementara di taman belakang rumah, Dara sedang membaca novel sambil makan camilan. Ia ditemani oleh salah satu pelayan wanita yang bernama Maya, ia seumuran dengan Dara jadi Dara suka mengajaknya karena bila diajak ngobrol cepat nyambung.
"Maya, kenapa hanya membaca saja? Ayo makan juga camilannya" Dara merasa tak enak karena daritadi ia makan sambil membaca novel, sedangkan Maya hanya membaca saja.
"Terimakasih nona,,tidak usah untuk nona saja " Ia merasa tak enak jika harus berbagi makanan dengan majikannya, selain itu kurang sopan, para pelayan lain juga cemburu karena ia dekat dengan Nona muda.
"Ayo makanlah Maya,, kalau tidak aku akan marah padamu!! " Dara memaksa sambil menyodorkan camilan pada Maya, akhirnya Maya pun menerimanya daripada kena masalah.
"Terimakasih Nona " ucap Maya.
Selang beberapa menit mereka mengobrol, ada salah satu pelayan yang datang menghampiri mereka.
"Maaf nona, dollar ada seorang gadis yang ingin berjumpa dengan nona "ucap pelayan itu.
"Siapa? " Dara masih belum ingat jika Rani akan datang hari ini.
__ADS_1
"Maaf nona, saya lupa menanyakan namanya, tapi dia seumuran dengan nona "
"Oh,bagaimana aku bisa lupa, hari inikan Rani akan kesini" Dara menepuk keningnya.
"Aku akan keluar, Maya kau siapkan makanan dan camilan ya" ucap Dara
"Baik nona "
Dara pun berjalan kerumah utama, ia antusias sekaligus penasaran apa yang akan diucapkan temannya.
"Dara!! " Rani langsung berlari memeluk Dara yang baru saja turun dari tangga.
"Yaampun kamu kenapa Ran? Apa ada masalah? " tanya Dara penasaran namun Rani tak menjawabnya melainkan terus memeluknya semakin erat.
"Duduk dulu " Dara mendudukan Rani disebelahnya dan memberinya minum.
"Nih minum "
"Kamu kenapa Ran? " Dara mengelus punggung Dara.
"Sssttt,,, ada apa? cerita sama aku " Dara terus menenangkan Rani, ia membujuknya agar mau bercerita padanya. Setelah beberapa saat, akhirnya Rani mulai mengatakan curahan hatinya.
"Ayahku dibunuh,,, hikss hikss " ucap Rani lalu mengusap air mata yang sudah membanjiri pipinya sejak tadi.
"APA?!! Apa yang kamu katakan!! ceritakan dengan jelas! " Dara menutup mulutnya saking kagetnya dengan apa yang diungkapkan sahabatnya itu.
"Iya Dar,, ayahku dibunuh dan ibuku juga dibuat koma lalu adikku diculik ntah dimana,, hikss,, hikss,, " Rani mulai menangis lagi.
"S_siapa yang melakukan itu??!! " Dara masih terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Aku juga tidak tahu,, waktu itu ayah dan ibu keluar rumah naik mobil, tapi mobil mereka rem nya tidak berfungsi dan akhirnya masuk sungai. Tapi menurut polisi itu adalah sabotase seseorang yang tidak suka pada keluargaku. Sedangkan waktu itu saat aku kuliah, adikku sendirian dirumah, mereka menculik adikku dan sekarang entah dimana dia,, " Rani menceritakan semua masalahnya pada sahabatnya. Entah Dara bisa membantunya atau tidak, yang ia inginkan sekarang adalah berbagi dengan sesama wanita. Ia sudah tak kuat menimbunnya terlalu lama.
__ADS_1
"Yaampun Rani,, kamu yang sabar ya. Semua pasti ada jalan keluarnya. Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hambanya Ran,," Dara juga terpukul mendengar nasib menyedihkan yang tertimpa pada sahabatnya.
"Maaf ya Dar, seharusnya aku nggak cerita masalah pribadi aku sama kamu, tapi aku bingung mau cerita ke siapa lagi. Aku udah nggak kuat nyimpen ini sendiri " Rani menatap Dara dengan tatapan sendunya ditambah dengan mata sembabnya yang semakin membuat Dara iba padanya.
"Ran, dengar ya, kamu itu sahabatku. Sudah seharusnya kita saling membantu saat ada masalahkan, Aku malah senang kamu mau berbagi sama aku. Selama ini kamu selalu menyimpan masalah sendiri tanpa mau berbagi "
"Makasih ya " Mereka berpelukan lagi,, saling melepas rindu karena beberapa saat tak bertemu. Bagi Rani, Dara dan Rina adalah sahabat terbaik yang pernah ada. Mereka selalu ada dalam suka dan duka, tak pernah ada niatan untuk meninggalkan sedikitpun. Begitulah arti persahabatan bagi mereka, sangat berharga melebihi harta sebanyak apapun.
"Ran,, makan dulu ya " Dara tahu Rani belum makan, terlihat dari wajah dan bibirnya yang pucat.
"Nggak,, aku nggak mau Dar "
"Aku tahu kamu belum makan, ayolah sedikit saja. Demi aku ya " Dara terus memaksa dan menyodorkan sendok didepan mulutnya.
Akhirnya Rani pun memakan suapan darinya.
Setelah makan dan berbicara, kini Rani merasa lega telah membagi masalahnya dengan orang lain.
"Makasih ya udah mau dengerin aku "
"Iya sama sama " Dara tersenyum.
"Terus bagaimana soal Ibu kamu? " Dara khawatir dengan Ibu nya Rani yang diketahuinya sedang koma.
"Ibu masih koma dirumah sakit," Rani menunduk sedih mengingat keadaan ibunya yang sudah lama terbaring tidak berdaya dirumah sakit. Sementara biaya perawatan begitu mahal dan semua tabungannya sudah habis untuk biaya oprasi ayahnya dulu dan ibunya sekarang.
"Emm,, kamu punya biaya? " Dara ragu karena melihat kondisi Rani saat ini sepertinya dia sedang butuh dana. Tapi ia juga berhati hati dalam berkata agar tak menyinggung perasaannya.
Rani menggeleng, ia memang sudah kehabisan uang sekarang. Mengingat ia sudah banyak pengeluaran untuk oprasi dan membayar orang untuk mencari adiknya yang hilang.
"Kamu tenang aja ya,, Aku akan bantu kamu kok sebentar ya " Dara masuk kedalam kamarnya, ia keluar membawa amplop coklat tebal berisi uang yang niatnya akan ia berikan pada Rani. Ia berharap Rani akan menerima bantuannya.
__ADS_1
**Bersambung,,,,
Maaf lama dan jarang up, author banyak tugas sekolah. Serius deh☺**