
Siang hari yang panas dengan agenda kegiatan yang padat. Matahari berada tepat diatas kepala. Seorang pria muda tampan nan rupawan, tengah duduk di kursi kebesaran nya seraya menyusun laporan bulanan perusahaan pada laptopnya.
Sepersekian menit berikutnya, pintu terketuk dan perlahan terbuka. Menampilkan sesosok sekretaris berbadan kekar dengan jas yang membalut tubuhnya sempurna. Siapa lagi jika bukan Rey?.
"Selamat siang tuan muda " Sapa Rey sembari menunduk hormat. Tangan kanan nya membawa sebuah kertas yang sepertinya mirip sebuah undangan.
"Hmm.. ada apa Rey? " Sahut Arya tanpa menoleh padanya, jemarinya masih dengan lincah berlarian di tombol keyboard pada benda persegi panjang itu.
"Maaf jika mengganggu waktu anda. Namun, saya membawa undangan dari tuan Raga " Pria itu mendekat pada bos nya, tangan kanannya mengulurkan undangan berbalut emas itu.
"Apa ini? " Arya mulai membukanya.
"Kalau dilihat dari cover nya sepertinya itu adalah undangan pernikahan tuan " Tebak Rey. Mana berani dia membuka benda itu sebelum tuan mudanya.
Arya sedikit terkejut dengan tangan yang tetap berusaha membuka perekat pada amplop itu.
Ia pun membukanya. Tebakan Rey memang selalu tepat sasaran. Ternyata isi dari kertas yang berada di tangan Arya adalah undangan pernikahan Raga dan Rani. Terbukti dari adanya foto pre wedding di halaman utamanya. Ternyata mereka sudah ijab kabul, hanya tinggal resepsi saja malam ini.
"Sial!. Mengadakan ijab kabul tidak mengundangku. Hanya saat resepsi saja " Ia mendengus kesal. Padahal waktu pernikahan nya dengan Dara, ia melibatkan Raga dan Geri sebagai saksi.
"Yang saya dengar, acara ijab kabul itu dadakan dan hanya keluarga terdekat saja yang hadir tuan " Imbuh Rey.
"Baiklah, kembali bekerja!. Oh ya, nanti malam aku ingin kau menjadi sopirku dan istriku. " Kata Arya.
"Tentu saja tuan.. " Ucapnya lalu berlalu dari hadapan tuan mudanya.
Kalau bukan aku memangnya siapa lagi. Batin Rey dalam hati.
Selepas kepergian sang sekretaris, Arya mengambil benda pipih dari dalam saku jasnya. Kemudian menghubungi istrinya.
"Hallo? "
"Bersiaplah, nanti malam adalah acara resepsi Raga dan Rani "
"APA!! Kenapa baru kasih tahu sekarang!! Aku belum menyiapkan apapun mas. Aku harus pakai apa malam ini. Aduh... bagaimana ini!!! "
Arya menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena istrinya terus saja mengoceh disana. Bisa rusak gendang telinga Arya yang selama ini dijaga agar sehat sejahtera.
"Ngga usah bingung sayang.. Pakai apapun kamu pasti cantik " Gombal!.
"Tapi ini acara penting jadi aku harus pakai pakaian yang layak dan sopan. Kalau nggak nanti _ "
__ADS_1
"Belanja saja di mall bersama Andra. Sudah ya, aku mencintaimu..." Pria itu dengan cepat mematikan ponsel nya. Jika ingin hadir tepat waktu pada acara yang digelar sahabatnya, maka ia harus segera menyelesaikan tumpukan berkas rumit ini.
***
Hari ini adalah hari paling melelahkan sekaligus paling menyakitkan bagi Andra. Setelah mengejar musuh siang ini, sore nya ia sudah wajib mengikuti nona muda nya berbelanja ke mall.
Dara tidak sendiri, ia ditemani Rina yang juga baru tahu tentang kabar pernikahan Rani melalui undangan yang diterimanya pagi tadi.
Kedua perempuan itu terkejut bukan main, baru saja kemarin Rani berkata belum mau ke jenjang yang lebih serius. Sekarang malah ia sudah menjadi istri orang.
"Kenapa ya Rani nggak kasih tahu kita? " Dara membuka percakapan seraya terus melangkah ke bagian mall yang lebih dalam.
"Yang aku dengar sih, neneknya tuan Raga yang memaksa dia untuk menikah secepatnya " Ucap Rina asal.
"Neneknya? " Menatap antusias pada gadis disampingnya.
"Iya, kemarin aku telfon Rani. Katanya disuruh tanya pas hari resepsi aja "
"Terus? "
"Terus apanya! Udah ayo kita beli " Kesal.
Ya Tuhan.. kapan neraka ini akan berakhir?.
Kumohon gantilah hukumanku dengan mengejar seribu musuh sendirian, daripada mengikuti para gadis ini..
Andra meringis menahan kesal dalam hatinya.
Pasalnya, mereka memang sangat sangat sangat menjengkelkan. Hampir dua jam mereka disana, terus keluar masuk boutique dan pertokoan. Namun, tak ada satupun yang dibeli setelah memasuki 25 toko. Setelah melakukan pertimbangan dengan seribu kali perdebatan, akhirnya mereka memilih kembali masuk pada toko yang pertama. Huh!! Rasanya Andra ingin berteriak sekencang kencangnya sekarang. Ingin sekali dia menegur nona mudanya, andai saja dia tidak diancam dilempar ke kandang harimau oleh Arya.
Sabar... sabar.. sabar.. Andra yang tampan jika kau marah marah maka pupus sudah harapanmu untuk menandingi aktor Hollywood.
Andra pernah membaca pada sebuah blog, jika sering marah marah, maka wajah akan menjadi keriput dan terlihat tua.
"Lihat ini Rin, bagus nggak? " Dara menempelkan sebuah gaun berwarna merah muda yang sangat pas pada tubuhnya.
"Emm.. " Ia mengetuk ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Berusaha memberi penilaian yang akurat.
"Ngggak, jangan yang ini. Ini nggak cocok sama kamu " Ucapnya.
"Terus yang mana lagi? Aku bingung nih " Ia sudah putus asa. Dalam hati, ia ingin sekali tampil sesempurna mungkin dihadapan suaminya. Selain untuk memupuk percaya diri, juga untuk menjaga reputasi Arya karena pastinya disana banyak media. Mengingat Raga adalah salah satu pengusaha di bidang fashion yang terkenal di negara ini.
__ADS_1
"Yang ini aja " Rina mengambil sebuah gaun berwarna biru dari gantungan. Lalu menempelkan nya pada tubuh sahabatnya. Warnanya sangat kontras dengan kulit putih Dara.
"Bagus juga, yaudah aku pilih yang ini aja " Kemudian gadis itu membawa pilihannya dan Rina ke kasir. Mengeluarkan black card untuk membayar. Kasir itu tertegun, kartu ini hanya dimiliki oleh beberapa orang saja.
Yaampun, nona ini membayar dengan kartu itu. Dia belanja di toko kami dengan kartu itu!!
"Ada apa mbak? " Tegur Dara ketika melihat raut wajah perempuan di depannya.
"Ah tidak, maafkan saya nona " Ia dengan hati hati meraih kartu itu, lalu memulai transaksi nya.
"Ini silahkan nona " Perempuan dengan rambut pirang karena cat itu menyerahkan dua paper bag dan kartu unlimited itu pada Dara.
Dara dan Rina pun keluar dari pertokoan itu dengan tangan yang menenteng paper bag masing masing. Menghampiri Andra yang menunggu duluar toko.
"Maaf kak, kakak kelamaan ya nunggunya " Ucap Dara yang merasa tak enak karena melihat mimik wajah Andra yang tampak kelelahan.
"Tidak nona, mana mungkin saya kelelahan. Saya kan kuat " Ucap pria itu dengan bangganya.
"Benar kak? Kalau kak Andra mau istirahat dulu juga nggak papa kok "
Belum sempat Andra menjawab, Rina sudah terlebih dahulu menyahut.
"Ih, kamu gimana sih? Kak Andra ini kan bodyguard kamu, sudah seharusnya dia menjaga kamu! " Sahut Rina. Sebenarnya, ia hanya tidak ingin berjauhan dengan Andra, gadis itu mulai menyimpan perasaan pada mafia hebat itu.
"Iya nona, yang dikatakan teman anda benar"
"Yaudah kalau begitu, ayo Rin " Ajak Dara seraya menggandeng tangan sahabatnya.
"Mau kemana lagi nona? " Andra terkejut.
"Beli sepatu sama barang barang yang lain! " Teriak Rina yang sudah jauh di depan.
Ya Tuhan..
Andra kembali mengeluh dalam hati. Dalam ekspektasinya, acara belanja ini sudah usai. Tapi realitanya, mereka akan menempuh rintangan yang lebih menantang di depan.
Wahai sepasang kakiku, bersabarlah... Setelah pulang nanti kita akan memanggil Mbah Minto, tukang pijit langganan kita. Oke?.
Bersambung...
Mohon maaf akhir akhir ini jarang up. Beberapa hari yang lalu author seperti kehabisan ide. Mood hancur š¤Jadi nggak bisa nulis lagi.
__ADS_1