
Selang beberapa minggu mendapat pelatihan tentang permodelan, Rani dengan cepatnya menyerap semua materi, bahkan sekarang dia tengah menjalani pemotretan untuk iklan perusahaan Arya.
Disana ada Dara, Arya, dan Raga selaku partner kerja Arya pada bidang fashion.
"Rani sangat berbakat ya mas,, " Dara menatap suaminya.
"Iya sayang "Arya tersenyum.
"Bagaimana menurutmu Ga? " Arya bertanya pada Raga yang duduk diseberangnya.
"Dia cukup baik, tapi tunggu,, aku sepertinya pernah melihatnya " Raga menatap gadis itu lekat, mengingat ingat apa pernah bertemu dengannya sebelumnya, dia tak terlalu mengenali Rani karena make up yang memoles wajahnya.
"Dia teman istriku " Jawab Arya melirik Raga.
Oh, jadi dia gadis itu,, ternyata dia punya bakat jadi model juga selain bakat cerewet.
"Oh,, jadi dia temanmu? " Raga menatap Dara yang sedang meneguk jus didepannya.
"Iya,, dia sahabatku "
"Eh,iya kita belum betkenalan ya. Saat pernikahan kalian aku hanya melihatmu sekali waktu itu " Raga tersenyum, dia baru sadar jika ternyata gadis yang ada disamping Arya sangat cantik, dia terlalu mengamati Rani tadi sampai lupa disampingnya ada yang lebih indah.
"Namaku Raga, pebisnis di bidang fashion yang bekerjasama dengan perusahaan suami mu " Raga tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya, tanpa memperdulikan adanya tatapan tajam dari Arya.
"Aku Dara, senang bertemu denganmu " Dara menjawab uluran tangan Raga, Raga sempat tak berkedip beberapa saat melihat pesona istri sahabatnya, namun ia hanya mengagumi saja, tidak mungkin juga dia menyukai istri sahabatnya sendiri.
"Berhenti menatap istriku!! " Arya menarik pinggang istrinya agar lebih dekat padanya, Dara mendengus kesal, suaminya ini memiliki level cemburu tingkat dewa.
"Yaelah,, santai aja lah bro, siapa juga yang mau rebut istri lo " Ucap Raga.
"Sudahlah, ayo kita pulang sekarang " Ajak Arya menarik tangan istrinya.
"Baiklah,, " Ia beranjak bangun dari duduknya, menatap Raga dengan tatapan minta maaf, Raga hanya mengangguk memaklumi, dia yang paling tahu bagaimana sifat Arya sebenarnya, dingin, cuek, tapi jika dia sudah menyukai seseorang maka dia akan sangat lembut dan setia padanya, tidak akan berpaling meski hanya sejengkal saja. Jika sudah marah, maka seisi apapun akan dihancurkannya.
"Mas kamu jangan terlalu cemburu begitu, diakan temanmu " ucap Dara saat berjalan beriringan melewati lorong lorong gedung.
Aku sudah berusaha, tapi aku tidak bisa. Aku tetap saja marah saat melihatmu dekat dengan pria lain.
"Iya iya, maafkan aku "
"Yasudah,, ayo kita pulang " Mereka bergandengan tangan layaknya pasangan serasi, melangkahkan kaki menjauhi gedung dan menaiki mobilnya. Arya melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang amat padat.
Sementara disebuah gedung Arya, tempat para model profesional menggantungkan karirnya, Rani dengan lihainya berpose dengan berbagai gaya. Dia terlihat sangat elegan dengan berbagai balutan baju mewah buatan desainer ternama. Setelah beberapa sesi, Rani turun dan mencari keberadaan temannya.
Dimana Dara dan Tuan Arya?
__ADS_1
Dia hanya melihat Raga yang tengah sibuk dengan laptopnya, Rani masih belum mengenali jika Raga adalah orang yang menolongnya dulu.
Dia berjalan dan duduk berseberangan dengan Raga, rasa canggung menyelimuti dirinya.
"Maaf tuan,, apa anda melihat teman saya? " Raga masih menatap lurus laptopnya.
"Siapa? "
"Namanya Dara,, " Ucapnya.
"Oh, dia sudah pergi bersama suaminya " Sekarang Raga menatap gadis didepannya, Rani juga menatapnya, dia seperti mengenali pria dihadapannya ini. Mencoba mengingay ingat kejadian akhir akhir ini yang pernah menimpanya. Ya, dia ingat sekarang, dia adalah pria yang muncul bak Ironman yang menyelamatkan nya tempo lalu.
"T_tuan, kau adalah orang yang menolongku waktu itu kan? " Rani menatapnya dalam, membuktikan bahwa yang dilihatnya benar adanya.
"Dan kau gadis itu? Siapa namamu itu? Emm,, Rani ya? " Raga ingat sekarang.
"I_iya dan kau tuan Raga? " Rani senang, ia bertemu orang baik yang sangat berjasa baginya, andai saja Raga tidak datang waktu itu mungkin ia dan adiknya akan disekap orang jahat sekarang.
"Panggil saja aku Raga " Dia tersenyum ramah, menunjukan sisi lain dari dirinya.
"Tapi aku merasa sungkan " ucap Rani.
"Kau akan membuatku sungkan kalau memanggilku tuan atau pak, memangnya tampangku setua itu " Rani tersenyum simpul menanggapi ucapannya, orang ini punya selera humor juga rupanya.
"Iya, aku adalah partner bisnisnya di bidang fashion, sekaligus sahabat baiknya " Raga meneguk secangkir kopi di depannya.
"Senang bertemu denganmu " Perbincangan pun berlanjut, mereka sampai lupa waktu bahwa ini sudah sore.
"Aduh ini sudah sore,, aku harus pulang sekarang " Rani panik menatap jam tangannya yang menunjukan pukul lima sore. Adiknya pasti sudah menunggu dirumah, apalagi dia belum menjenguk ibunya hari ini.
"Aku harus pulang, permisi " Dia mengambil tas dan ponselnya dengan terburu buru.
"Biar aku antar saja " Raga bangkit mengambil ponsel dan kunci mobilnya.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri "
"Tapi aku ingin mengantarmu " Ucap Raga tegas, ia hanya tidak mau kejadian buruk menimpa searah gadis sepertinya.
"Baiklah ayo " Karena tidak ingin membuang waktu, akhirnya Rani mengiyakan saja. Toh, pasti adiknya takut sendirian dirumah.
Raga dan Rani sudah berada didalam mobil Raga sekarang. Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Keduanya sama sama diam, masih canggung hanya untuk sekedar mengobrol layaknya teman biasa.
Wajar saja, Rani bukanlah orang yang gampang berteman dengan orang, ia butuh waktu adaptasi yang lama dengan sesuatu yang baru. Sementara Raga bersikap biasa saja, dia biasa mengantar wanita pulang sepanjang hidupnya.
"Kau,, " Mereka mengatakan hal yang sama bersamaan.
__ADS_1
"Kau saja " Masih bersamaan.
"Kau duluan saja " Mereka berucap bersamaan lagi.
"Baiklah aku tidak jadi, kau bicara saja " Ucap Rani, daripada seperti tadi lebih baik dia diam saja.
Apa yang harus aku katakan? Sebenarnya aku hanya ingin basa basi saja. Batin Raga.
"Dimana rumahmu? " akhirnya Raga punya ide pembicaraan.
"Lurus saja, nanti kuberitahu " Rani menatap lurus kedepan.
"Kau ini kebiasaan ya, sama saat aku mengantarmu dulu " Raga tertawa renyah.
"Oh ya, bagaimana kau bisa dikejar preman preman itu? " Raga masih teringat kejadian tempo lalu.
"Oh,, itu masalah keluarga, tidak bisa kuceritakan,, tapi masalah itu sudah selesai Rani tidak biasa jika menceritakan masalah pribadinya pada orang lain, dia waktu itu terpaksa bercerita pada Dara karena dalam mode sangat rapuh.
Huhh,, masih saja pelit bicara.
"Katakan sesuatu, kau tahu sejak kejadian itu aku tidak bisa tidur nyenyak karena penasaran, jika aku sudah penasaran maka aku akan sangat ingin mengetahui hal itu " Raga berbohong sedikit, sebenarnya dia tidur dengan nyenyak sepanjang malam.
"Ini alamat rumahku " Dia menunjukan alamatnya.
Huhh,, Dia mengalihkan pembicaraan
"Kenapa kau mengalihkan pembicaraan? "
Huff! Rani menghela nafasnya.
"Baiklah, sebenarnya ada orang yang berniat jahat pada keluargaku, aku menjadi model untuk membiayai ibuku yang koma dirumah sakit. Aku tinggal bersama adikku sekarang, ayahku sudah meninggal " Rani menunduk sedih.
"Maaf membuat mu bersedih lagi? " Raga sedikit terkejut dengan apa yang dilontarkan Rani, gadis sepolos dia mengapa ada orang yang tega menghancurkannya?
"Tidak papa "
"Kita sudah sampai " Raga menghentikan mobilnya didepan rumah Rani.
"Aku pergi dulu " ucap Raga.
"Terimakasih ya " Rani tersenyum dan turun dari mobil itu, setengah berlari menghampiri adiknya yang berdiri diambang pintu.
**Bersambung,,
Maaf kalo kali ini ceritanya agak nggak nyambung+kurang menarik, author lagi pusing hari ini 😓**
__ADS_1