Menikah Dengan CEO Yang Dingin

Menikah Dengan CEO Yang Dingin
Sesuatu Yang Sempat Tertunda (21+)


__ADS_3

Area 21+


Dia hampir sampai kamarnya, namun Arya berhenti sebentar. Ia merasa ada yang aneh dengan dirinya sendiri. Ada hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Namun Arya bukan orang yang bodoh sehingga tak mengerti apa yang terjadi.


Oh, tidak!! Jangan jangan mama mencampurkan obat perangsang dalam minuman yang tadi. Dasar orang tua!!


Ia menjambak rambutnya sendiri. Bagaimana bisa mereka berbuat demikian. Ini keterlaluan, Arya butuh istrinya sekarang. Ia harus menyalurkan semua ini.Yang membuat dia frustasi adalah, apakah istrinya bersedia dan sudah siap? Bagaimana kalau belum, maka tamatlah riwayatnya.


Begitupun dengan Dara, ia merasa ada hawa panas dalam tubuhnya. Rasanya gerah, panas, dan ia tidak nyaman. Dara tidak tahu menahu tentang urusan ini.


Akhirnya karena merasa sangat gerah, dia mengayunkan kakinya ke kamar mandi untuk mandi air dingin.


Setelah Dara usai mandi, ia keluar hanya memakai lilitan handuk yang membalut tubuhnya. Ia menatap cermin, namun hawa panas tadi tidak kunjung lenyap.


Sebenarnya apa yang terjadi denganku?


Pintu terbuka, Arya masuk dan mengunci pintunya. Ia sudah tidak kuat menahan hasrat ini, ia memutuskan untuk mandi air dingin.


Namun rencananya batal saat ia melihat istrinya dengan balutan handuk dihadapannya. Arya meneguk ludahnya, bagaimanapun ia juga lelaki dewasa normal yang punya hasrat, apalagi gara gara minuman sialan tadi.


Perlahan ia melangkah mendekati istrinya. Dara berbalik dan tersentak saat Arya sudah ada tepat dihadapannya. Tatapannya terlihat aneh, seperti menahan sesuatu. Wajahnya pun juga merah.


"Ka_kamu kenapa? " Ia gugup.


Tanpa terduga, Arya mendorong tubuh nya hingga menempel di dinding. Lalu mengukung dengan kedua tangannya.


"K_kamu mau apa mas? " Dara semakin gugup, jantungnya berpacu sepuluh kali lebih cepat dari biasanya.


Arya mendekatkan bibirnya ke telinga Dara dan berbisik pelan. Terpaan napasnya yang lembut mengenai leher istrinya.


"Aku ingin meminta 'itu' darimu sekarang " Bisik Arya, mencoba menahan hasrat yang telah diluar kendali. Dara membulatkan matanya. Sekarang? Suaminya akan meminta haknya sekarang? .


Arya mendekatkan bibirnya di daun telinga Dara. Sengaja menghembuskan nafas hangat disana yang membangkitkan bulu kuduknya.


Bibirnya terus menurun hingga sampailah pada leher putih dan mulus Dara. Mencium dan menghisap leher jenjang itu hingga meninggalkan bekas kemerahan.


Tangannya tak tinggal diam, mulai menggerayangi tubuh indah sang istri. Sebelum ke tahap yang lebih lanjut, Arya kembali meminta persetujuan istrinya.


"Apakah boleh? " Dara malu, ia menunduk tidak berani menatap Arya.


Lalu dengan perlahan dia mengangguk setuju. Arya serasa terbang dibuatnya.


Lalu tanpa tunggu lama, dia menggendong tubuh istrinya yang hanya berbalut handuk. Meletakannya diatas ranjang dengan hati hati.


Arya memulai permainannya dengan mencium bibir Dara. Awalnya perlahan, namun lama kelamaan berubah menjadi ciuman panas yang bergairah. Deru napas mereka saling bersahutan satu sama lain.

__ADS_1


Ia mencium, menghisap, ******* bibir merah ranum itu. Sudut bibir Arya terangkat saat gadis manisnya memberikan akses untuk menjelajah rongga mulutnya. Dara yang awalnya hanya diam ketika Arya menyerangnya, kini mulai memberanikan diri membalas meski sedikit kaku. Pagutan itu berakhir saat Dara mulai kehabisan napas.


Keduanya terengah dengan napas yang memburu. Dara tahu jika suaminya menginginkannya saat ini. Terlihat jelas dari bola matanya yang kian menggelap menahan gejolak.


Bibir Arya semakin turun, mencium dan menghisap di leher jenjangnya, membuat Dara melenguh merasakan sensasi aneh yang pertama kali dirasakan saat disentuh laki laki. Meninggalkan beberapa bekas kissmark di leher itu, kulitnya yang putih membuatnya terlihat jelas. Tangannya mulai bergerilya menggerayangi tubuh indah sang istri. Dara terkesiap saat Arya tanpa diduga melepaskan handuk yang membalut tubuhnya dengan sekali tarikan.


Tangannya mulai mengelus perut rata Dara dan terus naik keatas. Gadis itu mencoba menghalangi dadanya yang kini terekspos tanpa penghalang dengan kedua lengannya.


Rasa malu sekaligus takut benar benar tidak bisa terelakan.


"Jangan ditutupi sayang! Ingat! Aku suami kamu, jadi aku berhak atas apapun yang ada ditubuh kamu termasuk ini " Bisikan Arya membuatnya semakin merinding.


Ragu ragu, Dara melepaskan tangan dari dadanya dan membiarkan pria itu puas memandangi tubuhnya yang sudah telanjang. Arya tertegun sekejap saat menatap pemandangan yang tersuguh di depan matanya. Tangan pria itu bergerak menyentuh kedua bukit kembar istrinya.


Arya merasakan kenikmatan yang belum pernah dirasakan nya saat bibirnya mencium, menghisap dan ******* puncak payudara istrinya. Kenikmatan begitu terasa saat tangan kanan nya meremas lembut benda kenyal satunya. Dara melenguh merasakan nikmat yang mendalam, Arya begitu lihai membuatnya terguncang.


"Mas.. " Lirih Dara yang mirip sebuah desahan membuat gejolak dalam diri Arya semakin membuncah.


"Ssstt... jangan menahanku. Aku sudah tidak kuat lagi sekarang.. " Suaranya tercekat.


Tangannya masih setia bermain di buah dada istrinya. Bibirnya tak henti hentinya mengendus leher Dara, menghisapnya dan kembali menciptakan bekas merah.


Ia kemudian bangkit dan melepas busana yang masih tersisa di tubuhnya. Kini keduanya sama sama polos tanpa sehelai benangpun.


"Akhh... berhenti bermain disana... " Desah Dara yang merasakan gelenyar aneh dalam tubuhnya saat jemari suaminya dengan lihai bermain di daerah kewanitaan nya.


Arya tidak menggubrisnya, ia terus bermain disana. Hingga ia melebarkan paha istrinya dan bersiap memasukinya dengan hati hati.


"Tunggu! " cegah Dara.


"Ada apa..? " Sungguh, Arya tidak dapat menundanya walau sedetik saja.


"Aku takut... "


"Aku akan melakukannya dengan perlahan sayang.. "


Arya semakin membuka lebar paha istrinya supaya memudahkan memasukinya. Arya mulai mengarahkan kepunyaannya pada milik Dara.


"Aarrgghhh " Ringis Dara kesakitan saat baru kepalanya yang masuk. Cairan bening lolos dari pelupuk matanya.


"Tahan ya! Ini akan sedikit sakit... " Menghapus air mata gadis itu yang sesaat lagi tidak akan menjadi gadis.


Perlahan tapi pasti, Arya menggerakan tangannya kebawah dan berhenti tepat di pinggul gadis itu. Menahannya sembari menyentak miliknya agar masuk dengan sempurna di dalam sana.


"Arrggghhh... sakit... "

__ADS_1


Dalam sekali hentakan, pria itu berhasil membobol keperawanan istrinya. Terlihat darah yang mengalir dari dalam sana.


"Maafkan aku.. aku akan bergerak perlahan..."


Ia mulai memaju mundurkan miliknya dengan perlahan. Desahan demi desahan terus bersahutan seiring dengan tempo permainan Arya. Hentakan demi hentakan membuat Dara mendesah merasakan sakit, nikmat dan geli bersamaan. Sungguh perasaan yang sulit didefinisikan. Mereka saling menuntut untuk mendapatkan nikmat yang lebih, entah berapa dosis obat perangsang yang diberikan ibu mertuanya. Dara juga menikmatinya, entah apa yang terjadi dengannya.


Arya menahan diri agar tidak terlalu kasar dan brutal sehingga istrinya bisa mengimbanginya. Ia tidak ingin egois ini adalah yang pertama kalinya bagi Dara.


"Akkhh.. pelankan.. " Meringis kesakitan sekaligus nikmat saat Arya semakin bergerak dengan ritme cepat.


"Akkhhh... "


"Maafkan aku.. " Mencium kening Dara.


Arya merasa tubuhnya menegang saat pelepasan luar biasa itu terjadi. Ia menyemburkan benihnya pada rahim Dara.


Cairan putih itu menyeruak masuk dalam. Semoga saja pasukan itu cepat membuahi yang ada didalam Dara. Berharap mereka akan segera berkembang menjadi bayi mungil yang lucu sebagai pelengkap hidup.


Satu ronde telah usai, Arya terengah sambil berbaring disamping istrinya yang telah ia sahkan menjadi wanita dewasa. Bahkan penyatuan mereka belum terlepas.


"Mas.. lepaskan dulu.. " Ia merasa tak nyaman, mengingat ini adalah yang pertama kalinya.


"Biarkan saja.. nanti kita lanjut beberapa ronde lagi " menyeringai.


Apa!! Beberapa ronde lagi? Satu saja Dara sudah kuwalahan.


"Baiklah.. tapi lepaskan dulu.. " Arya menarik kepemilikannya dari kewanitaan Dara. Udara segar terasa masuk kedalamnya saat penyatuan itu terlepas.


Beberapa menit istirahat, Arya menginginkannya lagi. Dia mulai menindih tubuh putih mulus itu.


"Ayo kita mulai ronde kedua.. " Menyeringai tipis. Efek obat itu tampaknya masih berpengaruh.


Merekapun memulai ronde yang kedua. Udara yang dingin kerena hujan dan dinginnya AC sudah tidak terasa, keringat bercucuran dari tubuh polos mereka.


Ditengah rintik hujan dan sinar lampu yang redup, Dara menyerahkan hal yang paling berharga sebagai seorang wanita pada suaminya dengan bahagia. Sesuatu yang telah ia jaga ketat selama ini akhirnya jatuh pada orang yang telat, suami sahnya sendiri.


Malam yang panas ini bercampur dengan desahan dan lenguhan yang bersahutan dari kedua insan yang sedang dimabuk cinta. Biarlah malam yang indah ini menjadi milik mereka. Dua anak manusia yang mulai saling menanam perasaan cinta dalam lubuk hati terdalam.


Keduanya baru tidur saat jam 4 pagi, Arya seoalah tak pernah puas dan meminta lagi dan lagi. Tubuh Dara bagai candu untuknya. Gadis itu hanya pasrah melayani suaminya. Bukankah ini memang sudah kewajibannya? Lagipula Arya berhak menuntut apa yang seharusnya menjadi miliknya.


"Terimakasih sudah menjaganya.. " Mengecup kening istrinya yang terkulai lemas karena ulahnya. Dara hanya mengangguk sebagai jawaban. Arya senang ternyata dugaannya tidak salah bahwa Dara masih suci.


Bersambung...


Mohon maaf jika terlalu vulgar, atau mungkin ada yang tidak pantas. Sebelumnya aku sudah ingatkan ini hanya untuk dewasa 🙏.

__ADS_1


__ADS_2