
Seorang laki - laki dewasa tampan, telah usai mengerjakan urusan kantornya pada hari ini. Arya kini telah siap dengan setelah tuxedo hitam favorit nya. Dasi kupu - kupu hitam tergantung manis di leher. Kini ia berada dalam kamar pribadi dalam ruangan CEO di kantor.
Saat ini pria itu tengah menatap pantulan dirinya dalam cermin. Memastikan bahwa tidak ada kekurangan dan harus sempurna. Selesai mengamati dan melakukan pertimbangan sekejap, ia keluar kamar. Disambut sekretaris pribadinya, Rey juga telah siap dengan tuxedo yang tak kalah keren dari bosnya.
"Rey, siapkan mobil!. Kita kerumah dulu jemput istriku " Ujar Arya sembari membenahi dasinya. Lalu menarik sudut bibirnya, latihan tersenyum manis yang akan dia suguhkan pada sang istri nanti. Rey yang tak tahu apapun turut membalas senyum eksklusif tuan muda. Mendapat lemparan senyum semanis itu rasanya bisa dibilang langka bagi Rey selama bekerja pada Arya.
"Hey, jangan geer! " Tegur Arya menatap sekretaris nya. Memangnya siapa yang mau tersenyum padanya, orang Arya sedang latihan senyum kok.
"Maaf, maksud anda apa tuan muda? " Kening Rey mengernyit heran. Kan sudah tradisi jika orang melempar senyum maka kita harus menanggapi nya. Apa lagi kesalahan Rey kali ini.
__ADS_1
"Aku tidak tersenyum padamu!. Aku sedang melatih bibirku agar tidak kaku nanti " Jelas Arya dengan nada datar. Kembali pada tabiat awalnya saat bicara pada orang lain selain keluarga, datar, dingin dan menjengkelkan.
Sabar.. sabar Rey.. Anggap saja hanya angin lalu. Begitulah cara Rey selama ini bertahan dari segala sikap mengesalkan Arya. Meringis dalam hati dan menyemangati diri sendiri.
"Saya akan menyiapkan mobil dulu tuan muda " Kata Rey kemudian daripada menjawab perkataan tak berfaedah dari mulut Arya.
"Yasudah sana. Jika sudah siap beritahu aku" Perintah nya. Lalu melangkah mendekati balkon. Menatap bintang yang bertaburan di angakas. Seraya membayangkan wajah cantik istrinya, seperti apa kira - kira Dara malam ini?. Entahlah, yang jelas bagaimanapun itu, apapun yang dikenakan perempuan itu tetap menawan di mata Arya.
****
__ADS_1
Arya memasuki rumah nya dengan langkah yang sedikit tergesa gesa. Karena tadi ia sempat terjebak macet, ia terlambat menjemput istrinya untuk datang ke resepsi pernikahan Raga dan Rani.
"Dara! Cepatlah, kita sudah terlambat. " Belum ada sahutan. Arya masih menunggu di lantai bawah.
"Dara, turunlah ki--" Ucapa Arya tertelan akan seorang perempuan jelita yang baru saja turun dari kamarnya. Dara menapaki anak tangga dengan hati hati. Polesan make up yang sangat cocok padanya, ditambah dengan gaun biru yang sangat kontras dengan warna kulitnya. Membuat pria itu terpana tanpa bisa berkata kata.
"Mau berangkat sekarang? " Tanya Dara dengan gugup. Ia bahkan mengalihkan wajahnya kearah lain. Malu, ia sangat gugup kala suaminya mengamatinya hingga sedemikian rupa.
"I-iya, kamu sangat cantik. " Kata Arya dengan terbata. "Emm, maksudnya ayo kita berangkat. Ini sudah sangat telat. " Ia menggandeng tangan istrinya dengan perasaan bahagia. Ia senang, karena dulu tidak menolak perjodohan yang diatur keluarganya. Mungkin itu memang rencana Tuhan agar menyatukannya dengan tulang rusuk nya yang hilang.
__ADS_1
Mereka melangkah beriringan keluar dari rumah. Dara mengapit lengan suaminya dengan mesra. Siapa saja yang melihat mereka, pasti akan berdecak iri dibuatnya. Mereka mendekati mobil Arya yang terparkir di halaman.