Menikah Dengan CEO Yang Dingin

Menikah Dengan CEO Yang Dingin
Teh Herbal


__ADS_3

Dara melangkahkan kakinya mendekati sofa. Terlihat punggung kedua mertuanya yang tampak sedang bercanda ria.


"Mama, papa " tersenyum cerah.


"Eh sayang... " Nyonya Puspa memeluk menantu kesayangan nya ini. Melepas rindu setelah lama tak bertemu.


"Dimana Arya? " Melepas pelukannya, Dara duduk di sofa berseberangan dengan mertuanya .


"Sebentar lagi juga akan datang ma, " Pelayan membawa dua cangkir teh hangat, meletakkan nya diatas meja. Lalu melangkah kembali ke dapur.


"Itu dia! " seru tuan Ferdi sambil menunjuk kearah Arya.


Arya berjalan santai mendekati ketiga orang itu, lalu duduk disamping sang istri.


"Ada apa papa dan mama kemari? " nada bicaranya datar, membuat tuan Ferdi langsung menoyor kepala putra nya.


"Aww!! " pekik Arya memegang pelipis nya.


"Kamu ini ya! Orang tua datang bukan nya disambut, malah bertanya ada apa! " Kesal.


Putra menyebalkan nya ini memang belum berubah, kadang hangat kadang sedingin es. Semua itu tergantung mood si tuan muda.


"Iya iya...maaf "


"Sudahlah... pa.. ma.. minum dulu tehnya " Mengambil salah satu cangkir dan memberikan secara bergantian pada mereka.


Setelah berbincang bincang cukup lama di ruang tamu, kini Nyonya Puspa dan Dara akan memasak di dapur.


Dara mengambil bahan bahan untuk memasak ayam bakar. Ia terlihat sangat cekatan, keringat yang membasahi dahi nya semakin menambah level kecantikan nya.


Nyonya Puspa kagum padanya.


Betapa beruntung nya dia memiliki menantu yang cantik, baik dan pandai memasak juga. Sungguh pilihan yang tepat, tidak ada yang menyangka anak orang kaya bisa mandiri.


Awalnya ia pikir Dara adalah gadis manja yang mengandalkan orang tua, sekaligus tak bisa memasak. Sejak lama wanita ini mengidamkan menantu yang pandai bertempur di dapur.


"Kamu pandai memasak ya sayang.. " Tersenyum kearah Dara sembari memotong sayuran. Dara menoleh kearah ibu mertua nya.


"Nggak ma.. biasa saja.. sebenarnya dulu aku tidak bisa memasak, tapi mama Sara selalu memaksa ku untuk belajar.. jadi sekarang aku bisa " Memotong ayam menjadi beberapa bagian, bahkan celemek yang digunakan nya sudah kotor tidak karuan.


"Beruntungnya Arya punya istri seperti kamu.." Dara hanya tersenyum menanggapi ucapan nyonya Puspa yang menurutnya berlebihan.


Cukup lama memasak di dapur, namun tidak kunjung selesai. Tiga puluh menit sudah berlalu, tapi tampaknya masih ada saja yang ingin dua wanita itu masak.


Entah menu apa saja yang ingin disuguhkan. Tapi tampak nya makanan spesial.

__ADS_1


Tuan Ferdi dan Arya menunggu lama di meja makan, bahkan cacing cacing di perut mereka sudah berdemo meminta keadilan. Gemuruh suara perut Tuan Ferdi membuat Arya tertawa terbahak bahak.


KRIUK... KRIUK...


Wajah tuan Ferdi langsung berubah pias. Ia malu, lalu membuang muka kearah lain menghindari tatapan mengejek dari Arya.


"Bwahahahah... hahahahah " Arya terbahak sambil memegang perutnya. Sudah sakit karena lapar, sekarang tambah sakit gara gara tingkah papa nya.


"Papa sangat lapar ya... sampai ada petir begitu... " Masih tergelak tawa.


"Diam kamu, anak jelek! Beraninya menertawakan papa "


"Hahaha... iya iya maaf pa "


Tak lama kemudian, Dara dan Nyonya Puspa datang menghidangkan beraneka makanan diatas meja. Arya menatap nya seolah tidak makan satu bulan.


"Ayo cepat kita makan... sebelum dilahap habis sama papa " Buru buru ia mengambil piring dan menuangkan nasi beserta lauk pauk.


Semua orang bahkan sampai geleng geleng kepala.


"Siapa juga yang mau habisin! Ayo makan sebelum ludes dimakan anak ingusan ini " Ucap tuan Ferdi.


Mereka pun makan bersama sama. Beraneka macam masakan sungguh menggugah selera. Dua wanita ini memang patut diacungi dua jempol.


Arya duduk disamping istri nya sambil merangkul pinggang ramping nya.


Tidak berselang lama kemudian, nyonya Puspa datang dari dapur membawa kan dua cangkir teh. Meletakan nya diatas meja lalu duduk disamping Tuan Ferdi.


Nyonya Puspa tersenyum secerah lampu kristal yang menyala diatas mereka.


"Untuk siapa ini? " Arya menatap mama nya. Ia tahu bahwa mama nya yang menjengkelkan ini merencana kan sesuatu. Terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Itu untuk kamu sama Dara.. " Berusaha mengubah gurat wajahnya agar terlihat biasa saja.


Dara mengerutkan keningnya. Padahal baru saja tadi mereka minum teh, kenapa dibuatkan lagi. Ada apa ini?


"Dara nggak mau ma.. " Perutnya sudah sangat penuh, kalau ditambah lagi bisa meledak nanti.


"Harus mau! Ini mama bawakan khusus untuk kalian loh.. " Masih bersikeras, tidak rela usaha nya sia sia. Sudah datang jauh jauh kemari, tentu saja rencananya harus berjaya.


"Sudahlah ma.. biar papa saja yang minum" Tuan Ferdi akan mengambil nya, namun buru buru Nyonya Puspa menyikut perutnya dan mengedipkan sebelah matanya memberi kode pada suaminya.


Tuan Ferdi memberi tatapan tanda tanya pada istrinya seolah berkata ' Kenapa?'


Aduh, sepertinya virus pikun sudah menjalar pada otak suaminya ini. Baru juga beberapa jam, sudah lupa tentang kompromi yang disepakati.

__ADS_1


Nyonya Puspa memberikan jawaban lewat sorot matanya, seolah berkata 'Papa lupa rencana kita? '


Tuan Ferdi juga menatap istrinya. Barulah otak jenius nya bekerja dengan benar.


Sepertinya terlalu lelah tentang urusan kantor membuatnya mudah lupa.


Bisa bisa gagal rencananya menggendong cucu.


"Oh, iya papa lupa... papa kan punya diabetes ya. Kalian saja yang minum " Aduh, akting tuan Ferdi sangat buruk.


Dara dan Arya saling tatap, bingung dengan papa nya yang salah tingkah.


"Ayo sayang... minumlah " pinta nyonya Puspa.


Dengan ragu Dara mengambil cangkir berisi teh itu.


"Ini apa ma? " Memperhatikan dengan seksama, tidak ada yang mencurigakan.


"Itu.. itu teh herbal, mama bawa langsung dari Yogyakarta loh " Entah mengapa kota itu yang terlintas di benaknya sebagai alasan.


"Benarkah? " Arya juga turut mengambilnya, ia tahu ada yang aneh. Namun juga tak sadar apa isinya.


"Ayo minum... mama akan sedih kalau kalian nggak mau minum " Wajahnya menampak kan gurat kesedihan yang palsu.


"Baiklah.. kami akan minum " Dara meneguk teh itu dalam satu tegukan. Habis sudah ditelannya tanpa tahu apa kandungan nya.


Arya pun juga meneguknya sampai tandas, apapun yang direncanakan orang tuanya ia tahu tak akan menyakitinya. Mana ada orang tua yang ingin anaknya terluka?


***


Kini Arya tengah menonton acara pertandingan sepak bola di ruang keluarga bersama Tuan Ferdi.


"Aku yakin pasti tim ku yang menang " Ucap Arya dengan percaya dirinya.


"Enak saja.. pasti tim papa yang menang! " Ucap tuan Ferdi tak mau kalah. Ayah dan anak itu terus berdebat sampai nyonya Puspa datang.


"Arya.. ngapain masih disini? Sana ke kamar, mama mau disini berdua sama papa"


Arya menaikkan satu alisnya. Ada apa dengan mamanya ini? Tidak biasanya.


"Heh.. kenapa diam saja? Sana pergi! " Mengibaskan tangannya mengusir putranya.


"Iya iya.. " Arya sebal, lalu beranjak dari sofa dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2