Menjadi Istri Kedua Majikan

Menjadi Istri Kedua Majikan
Arya sekarat


__ADS_3

Tubuh Bella melemah, melihat kondisi Arya yang kesakitan memegangi kepalanya. Dengan darah segar yang keluar dari kepalanya.


"Mas bertahan lah. aku akan segera menolong mu." ucap Bella ingin bangkit.


"Tidak Bella, kamu harus ikut dengan ku."


Dengan kasar Dani menarik sebelah tangan Bella, dibantu oleh Anggi.


"Tidak...tidak aku tidak mau ikut dengan kalian, kalian berdua penjahat. yang begitu tega dan tidak berperasaan telah melukai suami ku hu...hu...." Bella masih menangis dan kembali memeluk Arya. namun tenaganya kalah. oleh Dani dan Anggi yang memaksanya untuk ikut pergi bersama mereka.


"Ingat Bella, mulai sekarang kamu milikku. sampai kapanpun. ingat janji yang telah kamu ucapkan." teriak Dani.


"Tapi tidak bisa seperti ini, kalian harus menyelematkan suamiku terlebih dahulu."


"Tidak Bella." tolak Dani.


Plackk...tamparan keras melayang di pipi Dani, membuat rahang pria matang itu langsung bergetar menahan kemarahan nya.


"Beraninya kamu Bella, cukup sudah aku menderita karena perbuatan mu selama ini plackk." Dani yang tidak mampu mengendalikan emosi nya, melayangkan pukulan nya ke Bella. membuat wanita cantik itu langsung ambruk kepelukan nya.


Dani mengangkat tubuh Bella yang sudah tidak sadarkan diri, mereka bertiga langsung pergi meninggalkan apartemen. dibantu oleh Anggi yang ingin membuat kakaknya Dani, bahagia hidup berdua bersama Bella.


Setelah mengurus semuanya, mereka melakukan perjalanan jauh. yang Bella sama sekali tidak mengetahui kemana mereka membawa tubuhnya yang masih tertidur dipelukan Dani.


Arya berusaha untuk bertahan, seiring dengan kesadarannya dan pandangan matanya, yang berangsur-angsur memudar. sebelum benar-benar pingsan. sebelah tangan Arya masih sempat memencet tombol pagil otomatis ke ponsel istri tercinta Bunga.


Di kamar nya, Bunga terus gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun, rasa khawatir, cemas datang menghantui nya.


"Ya Allah, kenapa dengan perasaan ku yang terus teringat pada mas Arya."


Untuk mengurangi kecemasan dan kegundahan nya, Bunga bangkit berjalan menuju dapur. mengingat tenggorokan nya yang ikut kering karena rasa cemas yang tiba-tiba, bahkan dia sampai berkeringat dingin.


"Prarrck..."


Gelas kaca yang dipegang Bunga langsung jatuh tiba-tiba kelantai, hingga gelas itu pecah berserakan.


"Astaghfirullah, mas Arya."


Bunga mengusap air matanya, mengingat rasa cemas yang semakin terasa dan membuat konsentrasi nya juga berkurang.

__ADS_1


"Nada ponselku, itu nada panggilan masuk khusus dari mas Arya." Bunga langsung menuju kamar, menyambar ponselnya yang tergeletak diatas nakas samping tempat tidurnya.


"Kok ngak nyambung lagi."


Panggilan itu mati begitu Bunga mengangkat, dia pun menghubungi Arya. namun sudah beberapa kali. panggilan Bunga belum juga ada tanda-tanda akan diangkat.


"Aku maresa ada sesuatu yang buruk terjadi pada suamiku saat ini." Bunga kembali melakukan panggilan, hasilnya tetap sama.


"Mas Arya, kamu dimana sih mas? angkat dong telepon nya." Gumam Bunga mengulangi lagi panggilan nya.


"Ttttuuuuttt... ttttuuuuttt.... ttttuuuuttt, nomor yang Anda tuju...." terdengar suara operator.


Sebaiknya, aku hubungi Mama dan memberi tahukan masalah ini." Bunga langsung menghubungi Sinta mertuanya. nada panggilan ke dua langsung diangkat Mama.


"Hallo Bunga, ada apa nak?"


"Mas Arya, ma. aku merasa ada sesuatu terjadi padanya." ucap Bunga dengan suara bergetar, tanpa sadar air matanya ikut meleleh membasahi kedua pipinya.


"Arya kenapa nak?"


Bunga pun menceritakan tentang Arya yang pergi mencari Bella, dan perasaan khawatir yang tiba-tiba menguasai hati dan pikiran nya saat ini.


"Baiklah ma."


"Bunga, ternyata darya sedang bersa dikawasan apartemen elit. yang merupakan milik dari asisten pribadi Bella sendiri." terang Sinta.


"Terus kita harus bagaimana ma, perasaan ku cemas terus-menerus. mengingat mas Arya juga tidak mengangkat panggilan kita." terang Bunga.


"Kamu tunggu Mama disana ya, Mama akan menjemput mu bersama sopir. kita akan cari Arya bersama-sama."


"Baiklah ma, Bunga tunggu."


***


Selama perjalanan Bunga dan Mama Sinta lebih banyak diam, mereka berdua tidak mampu lagi menyembunyikan rasa khawatir. bahkan Bunga tanpa sadar kembali mengeluarkan air mata sedih memikirkan Arya.


"Bang, bisa lebih cepat lagi ngak?"


"Baiklah, mbak Bunga." balas sopir yang menambah kecepatan laju mobilnya.

__ADS_1


Mama Sinta dan Bunga langsung melangkah cepat memasuki lobby apartemen, mereka berlari-lari kecil. tanpa menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang kebetulan melihat dan melintasinya.


"Ayo ma, Bunga Kawatir banget."


"Iya nak, sabar."


Mama berusaha mengejar langkah Bunga yang selalu lebih cepat dibandingkan dengan dirinya yang sudah berumur.


"Bunga, bukan kesana. tapi letak unit apartemennya disebelah ini."


"Iii ya ma."


Pintu apartemen Anggi masih terbuka, Bunga dan Mama Sinta langsung berlari masuk, mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan yang terlihat sepi.


"Mas Arya." teriak Bunga kebingungan melihat seperti tidak ada seorang pun, hening.


"Mama, bagaimana ini?"


"Bunga, kamu yang tenang dan jangan panik gini nak." ucap Mama yang langsung menarik tangan Bunga menuju lantai dua kamar, langkah mereka cepat menapaki satu persatu anak tangga.


"Mas Arya."


Bunga berteriak syok, begitu melihat Arya yang terkapar dilantai berlumuran darah.


"Arya anakku."


Mama Arya langsung pingsan begitu melihat kondisi anak laki-laki semata wayangnya tergeletak tidak sadarkan dirinya lagi.


Bunga langsung memeluk tubuh Arya, dia berusa untuk kuat dan tidak pingsan seperti mertuanya. karena keselamatan Arya sangat penting saat ini. Bunga langsung menghubungi sopir dan pihak keamanan apartemen, yang segera berlari menuju unit keberadaan Bunga saat ini.


Arya langsung dilarikan kerumah sakit terdekat, Mama Sinta yang baru sadar, memeluk anaknya. tangis tidak bisa dia bendung lagi.


"Anak ku, kenapa ini bisa terjadi hu.hu..mana Bella istri mu, Bella? apa dia tidak mengetahui kondisi mu yang seperti ini." ceracau Sinta yang terus menangis.


Arya langsung mendapatkan pertolongan, sedangkan Bunga dan mertuanya terpaksa menunggu di ruang tunggu, keduanya terlihat sama-sama tidak bisa tenang. gelisah dan menangis sambil berjalan mondar-mandir didepan pintu ruangan Arya ditangani tim dokter.


Sinta kembali menghubungi ponsel menantu pertama nya itu, namun masih tidak bisa untuk dihubungi dan selalu diluar jangkauan. Sinta akirnya memilih menyimpan ponsel, dengan hati yang sangat marah dan kesal pada Bella.


"Dasar menantu yang tidak tahu diri dan tahu terimakasih, kurang baik apalagi Arya pada dirinya, termasuk keluarganya. tapi apa sekarang. kondisi suaminya yang sekarat seperti ini saja dia masih menghilang dan tidak dapat dihubungi sama sekali."

__ADS_1


"Sudahlah ma, mending kita fokus pada kesehatan mas Arya. nanti kita akan mencoba untuk menghubungi mbak Bella kembali," Bunga menuntun mertuanya untuk duduk dikursi ruang tunggu. meskipun masih resah, tapi mertuanya itu sudah terlihat kembali lebih tenang seperti semula.


__ADS_2