
Tok....tok.... terdengar ketukan dari luar pintu kamar, mengagetkan Bunga, ditambah lagi suara Vira yang masih berteriak-teriak memanggilnya dari ponselnya yang masih terhubung.
"Bunga sayang, Mama boleh masuk ngak?" ternyata diluar Mama Sinta tengah membawakan sarapan dan segelas susu ditangan nya.
"Masuk saja ma."
Balas Bunga sambil mengambil ponselnya.
"Vira, udah dulu ya. nanti aku akan hubungi kamu lagi. sekarang kamu nikmati dulu waktu mu berduaan dengan pak Ardian, tapi ingat. jangan sampai kebablasan ya." ucap Bunga, kemudian langsung memutuskan panggilan mereka begitu mendengar teriakan kesal Vira yang masih berusaha untuk ngeles.
Mama masuk, meletakkan nampan dimeja kecil yang terletak disamping tempat tidur Bunga.
"Sayang sarapan dulu ya, dan minuman susu mu ini. masih hangat Lo." ujar Mama duduk disebelah Bunga.
"Terimakasih ma."
"Ya sayang."
Mama tersenyum kearah Bunga, harapan besar terpancar dari tatapan matanya.
"Oya nak, Mama boleh tanya sesuatu yang agak pribadi ngak?" ucap Sinta agak ragu.
"Boleh ma."
"Begini, apa jadwal datang bulan mu teratur dan akhir-akhir ini apa kamu tidak telat gitu?"
Bunga terdiam, sambil mengingat-ingat kapan terakhir dia datang bulan. seketika dia tersenyum meskipun agak ragu.
"Ma seperti nya aku telat, karena kesibukan ku, sehingga aku hampir melupakan jika sudah hampir tiga Minggu ini aku telat datang bulan dari biasanya."
"Alhamdulillah nak, semoga saja apa yang kita harapkan benar-benar kenyataan."
"Benar banget ma, meskipun Bunga masih agak ragu,"
"Apa sebaiknya kita langsung ke dokter, atau suruh Arya pulang buat ngatarin."
"Jangan ma."
"Kenapa nak."
__ADS_1
"Bunga takut mas Arya terlalu berharap, sementara kita belum mengetahui kepastian nya."
"Iya juga, mendingan kita berdua saja yang periksa ke dokter, diantarkan Sopir Mama. dan jika hasilnya sudah keluar dan sesuatu yang menggembirakan, baru kita memberitahu kan kepada Arya nantinya."
"Bunga setuju banget, ma."
"Habisin dulu sarapan mu, setelah itu kita langsung berangkat menuju dokter terbaik dikota ini. semoga hasil pemeriksaan nya nanti benar-benar akurat."
Mama keluar dari kamar Bunga, senyum terus menghiasi bibir mungil. diusianya yang tak lagi muda.
***
"Aduuuuh... aduhhh sakit Vira."
Ardian berusaha mengelak, karena Vira terus memukul-mukul tubuhnya dengan guling yang dipegangnya, bahkan kamar Ardian sudah berantakan. Vira benar-benar kesal dengan tindakan Ardian, yang sengaja menggodanya terus.
"Ini semua gara-gara bapak, sekarang Bunga sudah mengetahui jika kita berduan semalam. mungkin dia sekarang sudah berfikir yang tidak...tidak."
"Baguslah, dengan begini kita bisa secepatnya menikah, apalagi jika kedua orang tuamu mengetahui hal ini." goda Ardian lagi.
"Sapa juga yang sudi dengan laki-laki yang main peluk sana sini dengan wanita lain."
"Vira apa maksudmu, gini-gini aku masih laki-laki pejaka. bahkan aku berusaha untuk menjaganya dengan baik selama ini dari godaan para wanita cantik, mengingat aku hanya ingin mempersembahkan pada dirimu seorang." Ardian kembali berjalan mendekati Vira.
"Duh.... Vira, kamu masih saja mengungkit-ungkit hal ini terus." Ardian terhenyak, mengingat Vira yang masih belum bisa melupakan kejadian bersama Nadin kemaren.
"Iya deh sayang, aku minta maaf. mulai dari sekarang aku janji bakal menjaga diriku termasuk tubuhku yang tampan ini dari sentuhan dan godaan dari para wanita lain. okey."
"Baiklah, untuk sekarang aku percaya. tapi tidak untuk selanjutnya. jika itu benar-benar terjadi, aku bakal pergi sejauh mungkin dari bapak." ancam Vira.
"Baiklah sayang, jadi mulai sekarang kita resmi pacaran ya."
Ardian mengangkat jari kelingkingnya kearah Vira, sambil menatap lembut menunggu Jawaban dari gadis imut dihadapannya.
Vira ikut mengangkat hari kelingkingnya, dan menautkan dengan jari kelingking Ardian. menandakan jika saat ini hubungan mereka sudah resmi diawali.
"Vira aku ingin bukti yang nyata, jika kamu benar-benar sudah mengakui hubungan kita. terutama menunjukkan rasa sayang mu padaku."
"Bapak jangan minta yang aneh-aneh ya."
__ADS_1
"Aku hanya minta pengakuan dan bukti rasa sayangmu padaku, itu saja. termasuk mengganti panggilanmu itu." Ardian menunjuk pipinya, berharap Vira akan menciumnya.
Vira mendekat kan wajah nya, semakin mendekat dan mendekat. sehingga hembusan nafas Vita mengenai kulit wajah Ardian yang langsung memejamkan matanya menunggu ciuman lembut Vira. Namun beberapa detik memejamkan mata, Ardian belum juga merasakan ciuman yang diharapkan nya itu. sehingga perlahan dia akirnya membuka Mata.
"Ha...Ha...Ha..." Vira tertawa plepas sampai memegangi perutnya sendiri, melihat wajah kecewa dan ekspresi Ardian barusan, hingga sampai memejamkan matanya mengharapkan ciuman dari ya.
"Kenapa kamu malah mentertawakan aku, kamu serius ngak sih sayang dan menyukai ku?" balas Ardian terlihat kesal.
"Mau aku jawab jujur apa gimana?"
Ardian tidak menghiraukan ucapan Vira, dia bangkit berjalan menuju sofa. Dengan wajah kecewa. melihat hal itu Vira merasa bersalah. dia bangkit dengan gerakan refleks dia langsung memeluk erat Ardian dari belakang.
"I Love You, pak Ardian."
Vira mengucapkan hal itu sambil menenggelamkan wajahnya dipunggung Ardian, dia begitu malu dan tidak berani untuk membuka matanya.
Arden merenggangkan tubuhnya yang masih dipeluk erat oleh Vira, dia membalikkan badannya, sehingga posisi mereka saling berhadapan. perlahan tangan Ardian menarik dagu Vira dan mengangkat nya, pandangan mereka seketika bertemu.
"I Love You too, Safira."
Balas Ardian, seraya menarik tubuh Vira kedalam pelukannya, mereka berpelukan penuh cinta. dengan perasaan yang sama-sama lega, mengingat mereka berdua yang sudah sama-sama jujur untuk mengakui perasaan mereka masing-masing.
"Ardian menarik Vira kepangkuan nya, membawa gadis itu menuju sofa. suasana apartemen yang sepi, seakan-akan mendukung dua insan itu untuk saling bermesraan mengingat tidak ada seorang pun, selain mereka berdua.
Ardian tidak membuang waktu lagi, ciuman hangat mendarat dibibir Vira. tanda hubungan mereka mulai terjalin indah. Vira yang semula masih ragu-ragu, mulai membalas ciuman Ardian yang dalam dan tersa sangat lembut dan indah.
Rasa cinta tidak membuat keraguan dihati Vira, berduaan diapartemen laki-laki tampan ini.
"Kruuugghh.... kruuugghh..."
Suara nyaring yang berasal dari perut Vira, menghentikan ciuman panas mereka. perlahan meskipun belum puas rasanya bermesraan dengan Vira, Adrian mengajak Vira turun menuju dapur apartemen nya.
"Sayang, maaf ya sudah membuatmu kelaparan."
Vira hanya tersenyum manis sambil mengangguk pelan mendengar rasa penyesalan Ardian yang membimbing tanganya menuju dapur.
"Kamu duduk yang manis saja, biar aku yang masak sarapan untuk mu."
"Yakin, ngak perlu dibantu?"
__ADS_1
"Ngak usah."
Vira akirnya mengalah, dia duduk dikursi sambil memperhatikan Ardian yang mulai memasak, dia tersenyum mengagumi tubuh kekar Ardian yang terlihat sangat seksi, mulai memotong-motong bawang dan sayuran.