
Setelah selesai menerangkan materi, saat hendak berlalu meninggalkan kelas. Ardian sempat berkata lirih pada Vira yang kebetulan sedang ngobrol dengan Bunga.
"Vira temui aku diruangan dosen."
Vira dan Bunga saling pandang, begitu selesai mengucapkan kata-kata itu Ardian langsung beejalan pergi menjauh. mumpung suasana kelas sudah sunyi mengingat teman-teman mereka yang lain sudah pada pergi menuju kantin.
"Mau apa lagi sih Ardian itu, gak capek-capeknya bikin aku kesal." gerutu Vira dengan tatapan kesal bercampur emosi.
"Tenangin dirimu dulu Vira, aku yakin Ardian punya alasan tertentu melakukan semua ini, mengingat dia juga harus menjaga wibawanya sebagai seorang dosen dihadapan para mahasiswa nya." membujuk Vira yang terlihat masih sangat kesal.
"Apapun alasannya, pokoknya aku kesal banget tuh sama Ardian. pengen aku remas-remas tuh wajah corwok biar jadi remehan peyek." ucap Vira yang membuat Bunga tertawa lepas.
"Cepat temuin pak Ardian, ntar dia makin kesal dan hukuman mu bisa mencapai level sepuluh. baru tahu rasa kamu dan nyesel." ujar Bunga menahan senyum.
"Malas ah, kecuali kamu mau memani aku."
"What's."
"Please, temanin ya."
"Ngak mau, pak Ardian hanya nyuruh kamu seorang, bukan aku. lagian ini kesempatan kamu buat remas-remas dia sampai jadi remahan peyek. biar langsung dimakan gitu...Ha...Ha...atau jangan-jangan kamu yang takut"
"Sapa takut, aku berani kok menghadapi nya sendirian."
"Buktikan saja, tapi hati-hati jangan sampai kamu yang jadi di remas-remas Ardian, lalu dimakan langsung. mumpung musim dingin gini dan ruangan dia juga sepi dan khusus, dibandingkan ruangan dosen lainnya." terang Bunga.
Seketika Vira agak bimbang, dia kembali duduk disampingnya Bunga sambil memainkan jemarinya.
"Ayo sana, katanya berani."
"Kamu benar, jika dia memakan ku gimana?"
"Ha...Ha...mana berani dia, lagian kamu kan bisa melawan. ntar jika terjadi sesuatu kamu tinggal lambaian tangan ke kamera cctv, biar ada yang datang bantuin kamu. tapi aku rasa biar diperkosanya pun, paling kamu minta nambah lagi kajan Ha...Ha..."
__ADS_1
"Tahu aja kamu."
Mendengar hal itu, Vira kembali bersemangat. meskipun ayunan langkah kakinya terlihat kaku dan ragu-ragu, namun dia tetap melanjutkan langkah kakinya.
"Demi nilai-nilai ku, aku harus berani menghadapi Ardian, lagian diruangan nya ada kamera cctv, dan dia tidak bakal berani macam-macam lagi."
Tangan kanan Vira terangkat untuk mengetuk pintu dari luar, tidak begitu lama terdengar suara Ardian yang tegas dan sedikit keras.
"Masuk."
Vira masuk, dia sudah menduga aksi dosen Mesum itu, namun kali ini dia sudah menyiapkan jurus-jurus andalan nya untuk melawan Ardian. Ceklek....pintu terbuka perlahan.
Hal pertama dilihat Safira kursi kebesaran Arfian yang terlihat kosong, dia melanjutkan mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, nampak Ardian sedang duduk di sofa. tapi kali ini dia terlihat sedang tidak sendirian, melainkan ada seseorang yang duduk dihadapan nya yang sedang membelakangi Vira.
"Vira silahkan masuk, mendekatlah." ucap Ardian memberi kode dengan sebelah tangan nya agar Vira mendekati mereka yang terlihat akrab dan asyik ngobrol.
"Degh..."
Vira sempt terpana melihat sosok wanita cantik yang duduk dihadapan Ardian saat ini, pandangan mereka berdua juga terlihat dalam dan penuh perasaan. seketika Vira mersa ada yang perih dihatinya fihulu hati terdalam nya, ketika mereka tertawa bersama sambil melirik Vira yang terlihat gugup.
"Nadin ini Vira, yang pernah ada aku ceritakan padamu dulu." ucap Ardian.
Nadin mengulurkan tangannya kearah Vira, yang juga ikut mengangkat sebelah tangannya.
"Vira."
"Nadin."
Mereka saling berjabat tangan berkenalan, Vira mersa gugup sendiri diruangan itu, melihat sikap Nadin yang terlihat over terhadap Ardian. bahkan dengan pakaian nya yang seksi Nadin terlihat resah sendiri sambil memindahkan gaya posisi duduknya yang seolah-olah sengaja memancing Ardian.
"Maaf pak, ada apa bapak memangilku keruangan ini? jika tidak ada keperluan lain, saya permisi keluar dulu." ucap Vira yang terlihat mulai kesal dan terpancing emosi dan rasa cemburu, apalagi melihat tingkah Nadin yang berusaha menarik perhatian Ardian, dia membuat Vira mersa jijik dan sangat kesal. tapi dia bisa apa? sementara Vira masih belum dan mengakui perasaan nya yang sesungguhnya.
"Sebenarnya aku ingin membantu proses belajar mu Vira, agar kamu tidak terlalu kesulitan lagi. bagaimana pun aku juga merasa bersalah karena sering memberikan kamu hukuman." terang Ardian menatap sayang kearah Vira.
__ADS_1
"Ooo, jadi Vira kesulitan dalam mata kuliah mu Al, aku bisa bantu lho." ucap Nadin terlihat cari muka..
"Tidak...tidak perlu, aku bisa menyelesaikan nya sendiri." ucap Vira yang tidak mampu menahan kekesalan nya.
Tiba-tiba deringan ponsel Nadin, terdengar membuyarkan kekakuan yang tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka. nampak Nadin menjauh sambil mengangkat panggilan nya. sedangkan Vira mengalihkan perhatian nya ketika Ardian menatapnya dalam.
"Oya Al, aku tidak bisa berlama-lama disini, Mami memintaku untuk menemaninya shoping gari ini. aku pergi dulu ya Al. lain kali aku kesini lagi." ucap Nadin mendekati mereka.
"Okey Nadin, sampai ketemu lagi." ucap Al.
Mata Vira langsung melotot, seakan-akan hendak loncat dari sarangnya, ketika dengan gerakan refleks Nadin memeluk dan mencium pipi Al dihadapannya. seketika dia mengepalkan tangannya emosi. tidak menyangka hal ini sebelumnya.
Vira langsung pergi meninggalkan ruangan Ardian begitu saja, tanpa pamit bahkan dia tidak kepedulian teriakan suara Ardian yang memangil-mangil namannya.
"Vira....Vira. Safira tunggu."
"Jangan dikejar Al, biarkan saja seperti ini dulu. aku yakin saat ini Vira sangat marah dan cemburu melihat kita yang seperti ini." cegat Nadin sambil menarik tangan Ardian yang ingin mengejar Vira.
"Aku takut dia salah paham Nadin."
"Bukankah ini permintaan dan keinginan mu semula, membuat Vira cemburu dan mau mengakui perasaannya yang sesungguhnya." ucap Nadin.
"Iya, tapi melihat tatapan marah dan terluka Safira. aku menjadi mersa bersalah dan sangat takut kehilangan nya, Nadin."
"Tenang saja Al, aku yakin semua akan balik- baik saja." bujuk Nadin memberikan semangat pada adik sepupunya itu, bagaimana pun juga dia ingin yang terbaik untuk Andrian.
Sementara Vira langsung berlari menuju mobilnya, mengabaikan Bunga yang memanggilnya saat mereka berpas-pasan didepan parkiran. Vira tidak mampu mengendalikan air mata yang terus membanjiri wajah cantik nya.
"Kamu jahat....jahat Ardian, aku benci kamu...hu...hu...aku benci...." ucap Vira sambil memukul-mukul stir kemudi mobilnya.
Rasanya begitu perih dan sakit, ketika melihat laki-laki yang dicintainya untuk pertama kalinya, disentuh dan dipeluk oleh wanita lain dihadapan nya. bahkan mereka juga memiliki panggilan sayang.
"Al"
__ADS_1
"Kenapa rasanya begitu sakit dan perih, Bahkan rasa takut kehilangan semakin tersa ketika mengingat kejadian itu kembali."