
"Ayo Rey, kita langsung berangkat sekarang."
Selesai sarapan bersama keluarga tercintanya, Arya berdiri bersiap untuk berangkat menunaikan tugas mulianya mencari nafkah untuk anak istri, ibu. dan nasip ribuan pekerja perkebunan dan karyawan pabrik yang menggantungkan hidup mereka pada perusahaan yang dipimpin oleh Arya.
"Hati-hati ya nak, semoga urusan mu bisa terselesaikan dengan baik."
Mama memeluk Arya sekilas, begitu juga dengan Cecilio yang terlihat enggan meregangkan pelukannya dari sang papa.
"Ya Mama." balas Arya sambil berjalan mendekati Bunga.
"Bunga, mas pergi dulu ya sayang. jaga kehamilan mu." ucap Arya kemudian berjongkok dihadapan Bunga mengelus Perutnya yang masih datar.
"Sayang, sehat terus ya didalam. jangan buat Mama susah ya, apalagi selama papa pergi." bisik Arya mencium sekilas perut Bunga.
"Mas, aku akan merindukanmu." Bunga memeluk Arya dengan manja, berusaha menyembunyikan perasaan gundah dihati terdalam nya saat ini. yang masih ingin memeluk suaminya.
Mereka melambaikan, melepas kepergian Arya sampai mobil yang membawa CEO tampan itu menghilang dari pandangan mata, berbaur dengan kendaraan lain dijalan raya yang begitu ramai.
"Bunga, mari masuk nak."
"Mama...ayo kita masuk kedalam."
Cecilio membimbing tangan Bunga yang masih ingin melihat mobil Arya yang sudah menghilang, menjauh dari pandangan mata nya.
"I...Iya sayang."
Bunga masuk kedalam, karena Cecilio terus menarik tangan sebelah kanan nya, untuk segera masuk kembali kedalam Rumah.
Sepanjang perjalanan, Arya kembali mengeluarkan beberapa berkas. memeriksa setiap laporan masuk dalam perkembangan perusahaan dari bulan ke bulan dengan seksama. dan melakukan dobel cek. sedangkan Rey fokus menyetir mobil yang sudah mulai menjauh dari pusat kota besar.
***
__ADS_1
"Sudah larut."
Bunga melirik jam dinding yang tergantung ditengah-tengah ruang kamar, yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. namun Bunga merasa malam ini begitu panjang dan melelahkan, karena dia kesusahan untuk memejamkan mata. pikiran nya masih teringat suaminya Arya, yang biasanya memeluk erat tubuh Bunga menemani malam-malam panjang yang penuh gairah dan kasih sayang.
" Mas Arya, kamu sedang apa sekarang?"
Gumam Bunga yang sering bolak balik ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari posisi yang nyaman. tangan sebelah kiri Bunga mengambil ponselnya yang terletak di atas maka samping tempat tidur.
"Sayang, kamu kangen papa ya Nak......?"
"Mama ngak bisa tidur, tanpa belaian dan pelukan hangat papa, sehingga malam ini terlalu lama." ucap Bunga sambil mengelus-elus perut pelan berjalan Menuju balkon menatap cahaya bintang dan bulan yang saling menerangi.
" Apa sebaiknya aku hubungin mas Arya,"
Bunga, mengusap layar ponselnya, namun sudah panggilan yang beberapa kali, ponsel Arya masih diluar jangkauan.
"Apa sekarang mas Arya sudah sampai ditempat tujuan, mengingat ponsel nya yang sudah tidak bisa dihubungi lagi?" berbagai pertanyaan bermunculan, untuk mengobati rasa rindunya, Bunga memeluk dan mencium Piyama tidur yang habis dikenakan Arya semalam.
"Miss you mas Arya"
Bunga mencium lama foto Arya di ponselnya, dengan penuh perasaan. sambil memejamkan mata. karena dia sudah mulai ngantuk. dengan posisi yang terasa begitu nyaman. memeluk photo dan Piyama tidur bekas Arya yang memberikan perasaan tenang dan nyaman. tanpa sadar Bunga ketiduran disofa yang menghadap pintu ke arah balkon yang tertutup dari dalam, dengan mimpi indahnya bersama suaminya Arya. dalam mimpinya, mereka berpelukan hangat saling melepaskan rindu.
Mobil yang dikendarai Rey berhenti disebuah penginapan khusus, sudah menjelang subuh mereka baru sampai. Arya meregangkan otot-otot tubuhnya yang lelah, sambil melirik ponsel nya yang sudah mati.
"Astaga, aku lupa mengisi daya ponsel ku. mudah-mudahan istriku tidak mencemaskan aku dan menghubungi."
Mereka masuk menuju kamar masing-masing, mengingat perjalanan. jauh dan begitu melelahkan, kedua nya langsung tertidur begitu saja.
Pagi harinya, Arya juga langsung mengadakan rapat besar perusahaan yang menyita banyak waktu nya hari ini, sehingga dia belum sempat juga untuk menghubungi istri kecilnya Bunga yang tengah merindukan nya.
"Aaaagghhh,"
__ADS_1
Arya merasa tubuh dan tenaga yang begitu lelah. dan menghempaskan kasar tubuhnya di sandaran sofa ruangan nya. dia memutar-mutar pelan kursi itu sambil memejamkan mata.
"Bunga, Sayangku."
Arya tiba-tiba membuka mata, dan segera mengambil ponselnya yang sedari tadi tertinggal diruang kerjanya. dia baru ingat sehari ini dia belum menghubungi Bunga.
"Ngak diangkat, sayang kamu lagi dimana sih?"
"Bunga sayang, maaf aku tidak bisa menghubungi mu seharian ini, dan sekarang juga sudah sangat malam. aku tahu kamu sekarang pasti sudah tidur, met malam istri bimut kesayanganku, moga kamu mimpi indah dalam pelukan mas ya." Arya menatap keluar jendela kaca ruangannya. sambil mengirim pesan pada ponsel Bunga.
Rasanya, Arya ingin menembus ruang dan waktu dikegelapan malam ini, dan memeluk tubuh munhilb Bunga, karena baru sehari tidak bertemu Arya merasa tersiksa dengan perasaan rindu yang membara.
Diluar dugaan Arya, Bunga yang belum tidur langsung tersenyum senang sambil membaca pesan dari Arya. kemudian dia langsung ingin menghubungi Arya, tapi keterbatasan signal ditempat Arya membuat Bunga hanya bisa untuk membalas chat dari suaminya saja.
"Mas Arya, aku merindukanmu mas. tetap semangat kerjanya ya suamiku sayang. meskipun sibuk jangan lupa makan, sholat terutama jaga kesehatan nya. salam sayang ku muuaachh."
Dengan senyuman yang mengembang dibibir mungilnya, Bunga mengirimkan pesan tersebut.
Arya meminta Rey mengantarkan kopi hitam keruangan nya, karena masih banyak yang harus dia selesaikan bersama Rey malam ini. termasuk beberapa orang kepercayaan Arya.
"Tok....tok...tok...." ketukan suara pintu, mengagetkan lamunan Arya.
"Permisi, ini kopinya Bos" Rey masuk sambil membawa nampan berisi kopi hitam dan makanan kecil.
"Terimakasih, kamu letakkan saja di atas meja itu. Rey kamu silahkan istrhat dulu satu jam ini, setelah itu kembali keruangan ku lagi" perintah Arya.
"Baik Bos, terimakasih" ucap Rey yang merasa mendapatkan angin segar, karena matanya sudah terasa begitu berat. dia langsung keluar menuju ruangan nya, tanpa membuang waktu lagi. Rey Langung memanfaatkan waktu untuk segera tidur di sofa yang terdapat di ruang kerjanya.
Sementara Arya menyeruput kopi hitam kesukaan nya beberapa kali, baru dia sibuk memeriksa beberapa berkas. termasuk pesan singkat dari sang istri, yang membuat semangat kerjanya kembali bangkit.
"Aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya, pasti ada seseorang yang telah berkhianat diperusahaan ku. tapi siapa orang itu? aku harus berhasil mengungkap permasalahan ini, sehingga aku bisa kembali pulang bertemu dengan keluarga ku." ucap Arya kembali fokus, bahkan dia tidak peduli jika malam sudah mulai kembali larut.
__ADS_1