
Vira memberanikan dirinya, berjalan mendekati Andrian. berdiri tepat disampingnya. Vira sekarang seolah-olah tidak menjadi dirinya yang sesungguhnya. yang ada dipikiran nya adalah bagaimana menggoda Ardian agar melunak dan luluh.
"Aku harus bisa demi nilai-nilai ku." Gumam Vira berjalan mendekati Ardian.
"Pak Andrian, aku tahu sebenarnya bapak dosen yang baik. tolong deh pak maafkan kesalahan-kesalahan Vira yang tidak disadari, baik yang tidak disengaja maupun disengaja, uuupss." Vira kembali menyadari keceplosan nya.
Andrian tidak bergeming, dia terlihat acuh dan mengabaikan Vira kembali. laki-laki itu mulai menyibukkan dirinya dengan memeriksa hasil ujian mahasiswa nya yang lain.
"Aduh pak Andrian susah banget untuk dirayu, bagaimana dengan cara yang satu ini. aku yakin pendirian nya yang kokoh itu akan goyah, jika perlu benteng pertahanan nya itu langsung roboh dan hancur dengan gombalanku." Vira tersenyum sendiri, dengan ide nekad dan ekstrim yang tiba-tiba muncul dibenaknya.
"Pak Andrian yang tampan, kita pacaran yuk. muuuacch." tanpa sadar Vira yang selalu sial tiap bertemu Andrian. mencium pipi dosen yang berada didepan nya itu.
Adrian yang tidak menyadari serangan tiba-tiba itu terlonjak kaget, mulutnya terkunci dan terdiam. dia memegangi bekas ciuman Vira yang benar-benar nyata, meskipun kejadian ini sama persis dengan mimpinya.
"Mati aku, apa yang telah aku lakukan barusan?" Vira berubah panik, ekspresi nya jangan ditanya lagi. wajah nya memerah, dengan gerakan refleks dia berlari Menuju pintu keluar dari ruangan itu. namun tidak bisa dibuka meskipun dia berusaha keras agar lolos dari Andrian yang sedang mengulum senyum berjalan mendekati nya.
"Ja...janga mendekat, aku benar-benar ngak sengaja." ucap Vira gugup dan ketakutan.
Andrian semakin mendekat, sekarang dia sudah mengunci pergerakan Vira dengan kedua belah tangannya. dia sangat bahagia melihat wajah Vira sekarang.
"Ulangi lagi perkataanmu barusan," ucap Adrian, menarik dagu Vira yang menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Tubuh Vira bergetar, dia benar-benar menyesali tindakan nya. tidak menyangka jika ucapan yang semula, yang di anggapnya sebagai candaan, sekarang bakal runyam menjadi seperti ini.
"U.. ucapan yang mana pak?" Vira memutar kedua bola matanya yang bulat, berusaha menantang tatapan Ardian.
"Kamu sudah lupa dengan apa yang terlontar dari bibir manismu ini, apa perlu aku mengingatkanmu dengan caraku." Jemari Andrian mengusap lembut bibir Vira.
"Tidak perlu pak, aku baru mulai ingat. jika tadi aku meminta maaf pada bapak tidak lebih dari itu, ya aku sadar sering membuat masalah dengan bapak." Tutur Vira berharap bisa lepas dari Adrian, dan laki-laki itu juga lupa dengan ucapan nya yang lain.
"Jadi hanya itu yang kamu ingat ! tentang ucapanmu barusan? padahal disini masih terasa lembut dan Manis nya bekas bibir mu." Andrian mengusap sebelah pipinya bekas ciuman Vira barusan, Ardian juga semakin tertantang, dia merapatkan tubuhnya sehingga tidak ada ruang diantara mereka berdua. membuat Vira semakin panik dan bingung harus berbuat apa. hembusan nafas Ardian yang hangat semakin tersa mengenai kulit wajah Vira.
"Ba... baiklah, aku ingat lagi. tad...tadi aku menawarkan bapak supaya kita pacaran." Vira menundukkan kepalanya, dia sangat malu apalagi membalas tatapan Andrian. tapi dia tidak mempunyai pilih lain, selain mengulangi perkataannya lagi.
"Okey Baiklah, mulai sekarang kita resmi pacaran. dan masalah ciuman mu itu. aku tidak ingin kamu memberikan nya kepada orang lain. selain aku selaku kekasihmu terhitung mulai detik ini." tangan Andrian menelusuri lekuk wajah cantik Vira, yang terlihat masih gugup. gadis itu sangat menyesal dengan ucapan yang semula dia anggap hanya main-main.
"Ya." Jawab Ardian singkat.
"Pak apa saya sudah boleh keluar dari ruangan ini?"
Vira merasa suasana dan atmosfer ruangan ini sesak, dia kesulitan untuk bernafas meskipun full Ac. bagaimana tidak dalam hitungan detik saja sekarang mereka sudah pacaran. sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Tentu boleh, tapi dengan syarat panggil aku sayang, jika kita sedang berduaan seperti ini." Pinta Andrian, yang wajah nya terlihat sangat ramah dan lembut menatap kearah Vira yang terlihat masih syok.
__ADS_1
"Tidak bisa, aku tidak bisa mengucapkannya."
"Kalau tidak bisa, kamu tidak bisa keluar," tangan Andrian merengkuh pinggang Vira dan mulai mencium lembut bibir Vira secara tiba-tiba, membuat gadis itu memuku-mukul punggung nya dengan mata terbelalak karena masih kaget.
"Apa kamu masih belum bisa?" goda Ardian yang ingin mengulangi perbuatannya.
"Ba... Baiklah, Sayang." ucap Vira sambil memejamkan matanya.
"Sangat manis, Baiklah mahasiswiku kekasihku. kamu boleh keluar sekarang. tapi ingat jangan lalai lagi, dan ciuman mesra mu hanya untuk ku saja." ucap Ardian yang juga melepaskan tubuh Vita dari dekapan nya.
Vira langsung kabur meninggalkan ruangan Ardian, wajahnya langsung memerah teringat kejadian barusan, bahkan dia masih merasakan bekas dan hangat nya bibir Ardian menyentuh bibirnya.
Vita langsung masuk kedalam toilet, semula dia ingin membersihkan wajah nya, termasuk bibirnya, agar bekas ciuman Hardian bisa hilang. namun niatnya kembali berubah, gadis itu ragu-ragu. bahkan dia juga bingung dengan perasaannya saat ini. perasaan nyaman, bahagia berbaur dengan perasaan marah dan kesal. sehingga dia memilih untuk membatalkan niatnya untuk mencucinya.
"Mendingan aku kerumah sakit, bertemu Bunga. sapa tahu dengan kehadiran ku kesedihannya bisa sedikit berukurang." Vira masuk kedalam mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang, suasana hati gadis itu sangat membaik dan berbunga-bunga. meskipun dia bersikukuh mengatakan tidak bakal jatuh cinta pada Ardian.
Dirumah sakit, Bunga masih dengan setia mengusap kening Arya, sesekali dia mencium kening itu untuk mengungkapkan rasa cinta dan kesedihannya.
"Mas Arya, bangunlah sayang. aku tersiksa melihat mu seperti mas. aku begitu kehilangan Senyum dan sentuhan penuh kasih sayang dari mu. bangunlah mas hu...hu..." ucap Bunga pelan sambil mengusap air mata yang sempat mengenai pipi Arya yang masih tertidur.
Arya mendengar semua nya, bahkan dia telah mampu mengingat semua kejadian naas yang menimpa dirinya. terutama penghianatan Bella istri pertama nya. meskipun hati Arya sudah terbagi untuk kedua istrinya, namun rasa sakit atas penghianatan itu begitu tersa, bahkan Arya tidak pernah menyangka ini bakal terjadi. dia seakan-akan tidak percaya Bella berani dan tega melakukan itu.
__ADS_1
"Bella, mungkin keputusan ku sudah tepat. sekarang saatnya aku melepaskan mu dari kehidupan ku, dan menata kehidupan ku yang baru bersama Bunga. istri yang selalu ada disaat aku terpuruk, bahkan disaat titik terendah ku sebagai laki-laki lumpuh. aku harus sembuh demi Bunga, Mama dan anakku Cecilio, aku mencintai kalian." Gumam Arya.