
"Kamu benar Rey, mau tidak mau kita harus datang langsung kesana. memantau secara langsung perkembangan dan proses cara kerja mereka secara langsung, untuk menguak permasalahan ini sampai tuntas. aku sangat yakin jika salah satu diantara orang-orang kepercayaan kita yang ditempatkan di sana ada yang berkhianat dan menyelundup kan keuangan perusahaan, sehingga mengakibatkan kerugian cukup banyak." Arya menggeleng-gelengkan kepalanya memeriksa laporan terbaru perusahaan dan perkebunan yang baru dibelinya itu.
"Benar sekali bos, mungkin butuh waktu agak lama untuk kita berdua berada ditempat itu. paling tidak sampai semua permasalahan ini beres. dan kembali berjalan normal seperti sediakala kala." terang Rey.
"Semoga Bunga mau aku tinggal untuk beberapa waktu, begitu juga dengan anakku Cecilio." mengusap wajahnya kasar.
Pagi ini Bunga dengan langkah cepat berjalan menuju wastafel, dia merasakan perubahan-perubahan aneh pada dirinya. sekarang hampir setiap pagi dia mual dan muntah-muntah, kepalanya begitu pusing. namun Bunga masih berusaha untuk tidak terlalu mempermasalahkan nya apa lagi memberitahu suami dan mama mertuanya. meskipun begitu Mama Sinta langsung panik begitu mendapati Bunga yang sedang muntah.
“Bunga kamu kenapa nak?” Ucap Mama mertuanya, khawatir melihat wajah menantu kesayangan nya yang berubah pucat. sambil menyipit kan mata, dia meraba kening Bunga untuk merasakan kondisi tubuh menantunya.
“Aku pusing dan sering muntah-muntah ma.” Jawab Bunga lemah, sambil berusaha untuk kuat dan menopang tubuhnya pada dinding kamar mandi. Mama Sinta mengambil tissue dan membantu mengelap keringat yang mengalir di wajah cantik Bunga.
"Mendingan hari ini ngak usah pergi kuliah dulunya sayang." mengusap pelan rambut Bunga yang mengangguk patuh.
"Baik ma," jawab Bunga.
"Sekarang istrahat dulu dikamar ya, nanti Mama suruh bi Ratna, untuk mengantarkan sarapan Kekamar saja."
"Baik ma."
"Hati-hati dan jalannya pelan-pelan saja." ucap Mama !adih Kawatir, sesungguhnya dia tengah harap-harap cemas menatap punggung Bunga dari belakang yang berjalan menuju kamar.
"Semoga harapan ku ini bisa menjadi kenyataan, aku yakin pasti menantuku tengah hamil muda, jija ini benar-benar terwujud. aku yakin Bunga dan Arya sangat bahagia sekali, harapan mereka selama ini bakalan terkabulkan." gumam Sinta dengan Mata berbinar-binar bahagia. lamunan Mama buyar ketik Cecilio mendekati sang Oma uang tengah tersenyum sendiri.
"Oma."
"Cecilio, mau sekolah lagi ya sayang?" ucap Sinta menghampiri cucunya, dan menuntun untuk sarapan dan meminum susunya dulu sebelum berangkat, berhubung bis jemputan sekolah juga belum sampai diteras depan rumah besar mereka.
"Habisin susunya sayang, biar cucu Oma jadi anak pintar, rajin dan Soleh dan juga tampan, jika perlu ketampanan papa Arya lewat oleh ketampanan Cecilio." membelai sayang Cecilio.
"Benar Oma."
"Iya sayang."
__ADS_1
"Oma, coba Cio punya adek, pasti sekarang Cio. punya teman buat main."
"Cecilio berdoa yang rajin, semoga Allah mengabulkan keinginan Cio."
"Amiiin."
Tidak lama, mobil jemputan sekolah Cecilio sudah sampai didepan tersa utama. Oma membantu Cecilio bersiap dan langsung ikut mengantar menuju bis sekolah dimana teman-teman Cecilio susah berteriak kesenangan melihat kedatangan nya
"Dada..... Oma."
"Iya sayang, belajar yang rajin dan jangan nakal disekolah ya." ucap Oma sambil !membalas lambaian tangan Cecilio. Oma Sinta kembali masuk kedalam Rumah setelah melihat mobil uang membawa Cecilio sudah menjauh memasuki jalan raya, berbaur dengan kendaraan lainnya.
Sementara dikamar, Bunga menatap pantulan wajah nya di cermin. menatap bagian leher dan dadanya, banyak sekali terdapat tanda merah bekas percintaan nya bersama Arya semalam.
"Kenapa rasa mualku langsung berkurang jika sudah mencium bekas bau farfum mas Arya yang melekat diselimut ini." Gumam Bunga Ketika dia kembali berbaring diranjang, meskipun tidak bisa tidur, namun dia tetap berbaring.
Deringan ponsel mengagetkan lamunan Bunga, senyum mengembang dibibir nya ketika melihat panggilan maduk dari Vira yang baru sekarang membalas panggilan Bunga yang sedari pagi menghubungi nya.
"Iya, lagian kamu ngapain aja sih. sampai ngak tahu jika aku udah menghubungi mu beberapa kali."
"Maaf Bunga, aku lagi ngak enak badan Ha....ha....haccciiin.... haccciiin..." kembali bersin-bersin.
"Vira, kamu sakit, ya udah mendingan kamu hari ini istrahat saja ya, karena aku juga kurang enak badan." balas Bunga.
"Trusz bagaimana dengan rencana kita yang mau ke toko buku bareng, buat referensi tugas dari Bu Rani kemaren?"
"Iya jugaya, mana waktunya udah mepet lagi."
"Biar aku aja yang bantuin kalian nyariin buku-buku tersebut." tiba-tiba Ardian yang duduk disebelah Vira ikutan bersuara, spontan membuat bunga terlonjak kaget, karena dia tidak menyangka jika pagi-pagi begini mereka sudah berduan.
Sedangkan Vira langsung meletakkan jari telunjuknya dibibir Ardian, dengan maya melotot dua memberi kode agar dosen tampan itu diam dan tetap tutu mulut, meskipun sudah terlambat.
"Vira..Vira..."
__ADS_1
Bunga memangil-mangil Vira, mengingat sekarang sahabatnya itu tiba-tiba terdiam.
"I..Iya Bunga."
Kamu kenapa diam, ayo aku tambah yakin sekarang kalian lagi berduaan pagi-pagi banget, atau jangan-jangan kalian sudah tidur bareng ya semalam? ayo ngaku Vira..."
"Apa? Bunga kamu jangan sembarangan nuduk ya! memangnya aku crwe apaan." Teriak Vira tidak terima.
"Vira, aku ngak nuduh. tapi ini fakta dan kamu ngak bisa ngelak lagi, udah jelas-jelas aku dengar suara pak Ardian Barusa."
"Bukan...bukan, sebenarnya itu suara bang Agus sopir pribadi papa yang lagi jemput papa buat kekantor, terus dia nawarin diri buat ngebantu kita nyari buku buat referensi."
"Masa sih? memangnya bang Agus paham masalah buku-buku yang begituan, mana nyarinya sudah lagi."
"Bis...bisa lah."
"Tapi kamu bilang kedua orang tuamu masih diluar negeri?, jadi ngapain bang agys kesana pagi-pagi?" ucap Bunga penuh selidik.
"Aduuuuuh Bunga, Please deh. kamu nanya kayak polisi yang lagi nyelidikin kasus narkoba aja, sampai nanya detail gini."
"Ha...Ha.... sorry, abis aku penasaran banget sama hubungan mu dengan pak Ardian, sehingga aku sampai kepo gini. bahkan aku juga lupa dengan rasa mual dan pusing-pusing ku sendiri, Ha...Ha...." ucap Bunga.
"Bunga sebenarnya kamu kenapa?" tanya Vira lagi.
"Aku sering mual-mual dan pusing sekarang, Vir."
"Apa kamu hamil?" spontan pertanyaan itu muncul dari mulut Vira.
Bunga sempat terlonjak kaget mendengar pertanyaan sahabat nya, keringat dingin langsung membasahi wajah cantik nya. bagaimana pun dia begitu antusias dan sangat bahagia dan berharap sekali jika itu benar-benar kenyataan. Ponsel yang dipegangnya langsung jatuh kelantai, Bunga terhenyak diranjang tanpa tersa air mata lolos saking terharu nya..
"Benarkah aku hamil?" gumamnya kembali mengusap perutnya yang masih datar.
"Ya Tuhan, semoga saja harapan dan impian ku ini benar-benar kenyataan. aku ingin mas Arya ikut merasa kan kebahagiaan ini, tapi jika tidak bagaimana ya?"
__ADS_1