
Vira mengerjapkan Mata berkali-kali, ketika merasakan terpaan cahaya matahari langsung mengenai mata dan kulit wajah cantiknya, yang masuk melalui celah-celah ventilasi kamar, kedua tanganya terangkat mengucek mata yang masih tersa berat, seperti tubuh Vira saat ini dipeluk dan dihimpit oleh paha Ardian yang masih memeluk erat dirinya dari arah samping sebelah kanannya.
"Astaga, aku dimana sekarang?"
Vira terlonjak kaget dan segera menoleh kearah Ardian yang masih tertidur pulas dengan dengkuran halus. Vira memijid kepalanya Mencoba mengingat-ingat kejadian semalam.
"Ternyata aku masih diapartemen pak Ardian."
Pandangan Vira seakan tidak bisa lepas, rahang yang kokoh dan terlihat jantan. Kedua alis tebal nya seakan menambah pesona dan karismatik Ardian dengan posisi mata terpejam seperti ini.
“Ternyata pak Ardian terlihat sangat tampan, tidak salah banyak wanita cantik yang tergila-gila padanya. meskipun aku termasuk orang yang paling beruntung mendapatkan perhatian khusus darinya, tapi...aku tidak boleh terlalu mudah untuk menyerah. sebelum mengetahui dengan pasti kejelasan hubungannya dengan Nadin, bagaimana pun aku belum pernah pacaran, dan Ardian lah laki-laki pertama yang mulai menarik perhatian ku. aku tidak ingin tersakiti apa lagi sampai Dikhianati nantinya."
Tanpa sadar, sebelah tangan Vira terangkat dan menelusuri setiap lekuk wajah tampan dihadapannya, dengan sentuhan halus jamari tangannya. Vira tidak tahu jika Ardian sebenarnya sudah terbangun, sebisa mungkin dia berpura-pura tidur. menikmati sentuhan lembut yang mengalir langsung ke hati dan memompa jantung nya untuk berdetak semakin cepat. bahkan hembusan nafas Vira mengenai kulit wajah Ardian, saking dekatnya posisi mereka.
"Tahan dirimu Ardian, nikmati saja sentuhan halus tangan lembut Vira ini. mumpung dia tidak menyadari jika kamu sudah terbangun, bisa-bisa dia akan kembali jual mahal. dan kamu kehilangan momen indah ini." bisik kata hati Ardian, sehingga membuat nya terus memejamkan mata, seolah-olah tidak terganggu oleh pergerakan tangan Vira yang semakin kebawah.
"Please hentikan sentuhan mu ini Vira, aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. bisa-bisa aku kalap mata, lalu memakan mu saat ini juga"
Sebisa mungkin Ardian mencoba mengendalikan gairah yang terus memuncak, hembusan nafas Ardian mulai berat dengan denyutan kepala yang terus membuatnya pusing. karena gejolak dari dalam tubuhnya tidak bisa tersalurkan dengan sempurna.
Deringan dan getaran keras ponsel Vira, langsung mengagetkan gadis itu, hingga dia tersadar dan langsung menarik tangan dari Wajah tampan Ardian. Vira menyambar ponselnya yang masih menyala, tertera nama Bunga yang sedang memangil nya.
"Tumben Bunga menghubungiku pagi-pagi begini, bagaimana ya. aku rijeck atau angkat? tapi Bunga jika aku langsung angkat. Bunga pasti bakal mengetahui jika saat ini aku sedang berduaan dengan pak Ardian, sehingga mereka berfikir yang macam-macam lagi nantinya." Vira terlihat ragu, sehingga panggilan masuk dari Bunga berlalu begitu saja.
Ardian pura-pura membalikkan badannya membelakangi Vira, dia berusaha menyembunyikan senyumannya, teringat bagaimana tingkah dan perlakuan Vira barusan. apalagi ketika mengintip dari balik selimut wajah panik dan kebingungan Vira yang ragu mengangkat telpon dari sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Vira pasti malu jika Bunga mengetahui hal ini, cantik sampai kapan kamu akan bertingkah dan jual mahal. semakin kesini aku bertambah penasaran dan semakin jatuh cinta pada mu Safira."
***
Seperti biasanya, setiap pagi Bunga ikut membantu menyiapkan menu sarapan untuk suami tercinta dan keluarga kecil mereka. melihat istri kesayangan nya yang sibuk, Arya langsung memeluk dari belakang tubuh Bunga.
"Pagi sayang."
"Pagi juga mas."
"Oya kamu ada kuliah ngak pagi ini?"
"Ngak ada sih mas, cuma aku mau berbelanja ke toko buku untuk mencari beberapa buah buku untuk referensi tugas-tugas dari Bu Rani."
"Perlu mas temani."
"Ooo Baiklah, lah kalau begitu, hati-hati ya"
Arya duduk dimeja makan, sambil menikmati kopi hitam buatan Bunga. dia melirik sang istri yang kembali sibuk dengan ponselnya, seperti menghubungi seseorang.
"Sayang, ada apa? Kamu menghubungi siapa sih?"
"Safira mas, seperti nya dia sudah melupakan janjinya yang kemaren deh, dan dia juga tidak mengangkat panggilan ku."
"Mungkin dia ketiduran."
__ADS_1
"Iya juga mas."
Bunga dan Arya melanjutkan sarapannya, sedangkan Cecilio dan Mama belum keluar dari kamar mereka.
"Sayang mas berangkat dulu ya."
"Ya mas, hati-hati ya."
Bunga mengantarkan Arya sampai keteras depan Rumah mereka, mencium punggung tangan laki-laki itu, sambil melambaikan sebelah tangan dengan senyuman termanis nya, melepas suami tercinta berangkat kerja. hal kecil seperti ini lah yang selama ini diharapkan oleh Arya dari istri pertama nya dulu Bella, yang tidak pernah memberikan nya perhatian khusus meskipun hal-hal kecil.
Meskipun sekarang, tidak ada lagi rasa cinta dan kasih sayang yang seperti dulu lagi untuk Bella, namun tidak dapat dipungkiri Arya masih teringat pada istri pertamanya dulu, yang menghilang begitu saja dengan kekasih gelapnya.
"Bella, semoga kamu bisa hidup bahagia Dengan laki-laki pilihan mu, doaku selalu yang terbaik untukmu. mantan istri dan ibu dari anakku." ucap Arya seiring mobil yang terus melaju menuju perusahaan besar yang dikelola Arya selama ini.
Langkah panjang Arya, dengan senyuman nya yang ramah. membalas sapaan setiap karyawan yang sempat berpapasan dengan CEO tampan ayah satu anak ini. bahkan Semakin bertambah usianya, ketampanan dan kedewasaan Arya semakin terlihat. sehingga dia selalu menjadi pilihan dan dambaan bagi para karyawan wanita nya. bahkan masih ada diantara mereka yang berusaha untuk menarik perhatian Arya. yang akirnya akan berujung sia-sia.
Mengingat Arya merupakan tipe laki-laki yang setia, bahkan tidak mudah tergoda pada wanita sembarangan. hanya Bella dan Bunga lah wanita yang paling beruntung bisa mendapatkan perhatian dan cinta yang tulus dari Arya. meskipun saat ini Bella merupakan wanita masa lalu saja bagi Arya.
"Selamat pagi bos."
"Pagi juga Rey." jawab Arya singkat, membalas sapaan asisten pribadi nya itu, dan kembali sibuk memeriksa beberapa berkas penting kerja sama perusahaan mereka.
"Bos, salah satu anak perusahaan kita kembali mendapatkan permasalahan. sehingga membuat perusahaan kita mengalami kerugian."
Arya langsung menghentikan sejenak kesibukan nya, dan menatap tajam kearah asisten nya tersebut, memastikan ucapan yang didengarnya tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa maksud mu Rey? kemaren aku memeriksa kondisi nya masih berjalan normal dan stabil. kenapa kamu memberikan laporan secara mendadak begini?" balas Arya sambil menyalakan laptop. memeriksa langsung laporan perkembangan anak perusahaan perkebunan. yang sengaja dibelinya jauh disebuah desa perbukitan yang sangat indah. rencana Arya akan membangun sebuah Villa disana, yang akan dia kunjungi bersama keluarga kecilnya nanti.