
Suara kicauan burung yang saling bersahutan membangunkan Jesika dari mimpi indahnya sambil memeluk erat bantal guling. gadis itu langsung bangkit. berjalan menuju jendela, menyibak kain gorden sehingga cahaya matahari pagi langsung menerobos masuk kedalam kamarnya.
"Waduh, udah terang aja." Gumam Jesika sambil menyipit kan Mata, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Radit ingat ngak ya, tentang ajakanku semalam?"
Selesai membersihkan tubuhnya, Jesika mengenakan pakaian santai dan sedikit lebih tertutup, yang memberikan kesan anggun dan kecantikan natural yang tercermin dari Wajah dan penampilan nya yang terlihat apa adanya.
Jesika menyambar ponselnya yang terletak di meja rias, niatnya saat ini untuk menghubungi Radit, laki-laki tampan yang baru saja dikenalnya. Jessica biasanya tidak mudah untuk akrab, apa lagi pada orang baru, namun dengan Radit dia menjadi lain. bahkan dia langsung percaya jika Radit adalah kaki yang baik.
"Apa sebaiknya aku menghungi Radit duluan ya? pura-pura nanya kabar atau apalah. yang penting aku bisa mendengar suara nya. atau langsung mengingat kan Dia, tentang rencana ku yang ingin mengajaknya ke suatu tempat." Gumam Jesika.
Gadis cantik itu, mengusap layar monitor ponselnya, dan mendial panggilan "Raditya" nama yang ditulis dalam kontaknya.
"Tuuuuttttt....,, Tuuuuttttt....,, panggilan ketiga langsung terhubung.
"Hallo selamat pagi Radit..."
"Pagi juga Jess."
Terdengar suara serak Radit khas bangun tidur, membuat Jesika terdiam, mulut nya seakan terkunci rapat. keberanian yang sering dia tunjukkan pada para teman-teman nya seketika menghilang.
"Hallo Jes, kok diam?"
Radit kembali mengulang ucapan nya, karena tidak mendengar suara Jesika yang menghubungi nya itu. namun masih tidak ada jawaban. akirnya Radit merijeck panggilan itu, karena merasa Jessica mungkin tidak sengaja atau salah sambung.
"Di rijeck lagi.!" gumam Jesika dan kembali melakukan panggilan, kali ini panggilan Vidio, Jesika ingin sekali melihat wajah tampan Radit.
"Hallo Radit" ucap Jesika tersenyum ramah sambil melambaikan tangan, ketika Radit mengangkat panggilan video nya, kali ini.
"Halo Jesika" Radit menyibak selimut ingin turun dari ranjang.
" AAaaaaaa, pa-apa an sih Radit." Jesika mengalihkan kamera ponselnya ke langit-langit kamar.
"Maksud mu, aku kenapa ?" Radit bingung, merasa dia tidak melakukan kesalahan apapun dipagi yang cerah ini.
__ADS_1
"Ngapain nyorot tubuhmu yang telanjang dada lagi, mau pamer body ya.!" terdengar suara Jesika antara kagum dan malu.
Radit langsung tersadar, sambil memperhatikan penampilan nya yang hanya mengenakan boxer saja. tanpa pakaian, semalam karena merasa ngak nyaman dia membuka Piyama tidur nya begitu saja.
"Maaf aku lupa, beginilah penampilanku jika akan tidur, sebentar aku ambil pakaian ku dulu." Radit menyambar kembali Piyama yang sempat dikenakannya semalam.
"Okey kamu tidak perlu, menutup kameramu lagi, aku sudah berpakaian sekarang.!" ucap Radit.
Jesika kembali mengambil ponselnya, dan berniat melanjutkan obrolannya. namun dia kembali berteriak.
"Dasar mesum, kamu cuma pakai baju tapi yang dibawah masih nonggol." teriak Jesika sambil menutup panggilan. dengan muka memerah saking malunya.
Radit seketika tersadar kembali melirik kebawah.
"Dasar si otong, ikutan nonggol juga, padahal sebelumnya aku hanya ingin Bunga wanita pertama yang melihat keperkasaan mu, tapi sekarang sudah keduluan Jesika." memukul pelan benda pusaka nya itu, entah kenapa setiap memikirkan Bunga, siotongnya ikutan bangun. tapi sekarang yang menghubungi nya wanita lain, yang merupakan Bunga. tapi dia ikut-ikutan Bagun, apa dua juga sudah mulai tertarik melihat wanita lain." Gumam Radit manggut-manggut sendiri.
"Mendingan aku mandi dulu," Radit melemp ponselnya keatas selimut dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Sedangkan, Jesika dengan muka yang masih memerah melanjutkan sarapannya sendirian, dua benar-benar menyesal dan sangat malu.
"Ini salah ku, ngapain juga aku menghubungi Radit pagi-pagi begini, mau di taruh di mana muka ku ini jika bertemu dengan Radit lagi, tapi dipikir-pikir kapan lagi ya aku lihat punya Radit, wau..." seketika pikiran Jesika yang bersih sudah terkontaminasi dengan penampakan yang belum pernah dilihatnya sebelum ini.
Diapartemen nya Radit, baru selesai mandi dia terlihat segar, mencari-cari pakaian yang lebih santai dan sopan. dia benar-benar memperhatikan penampilannya.
Radit berniat untuk sarapan berjalan kelantai satu Apartemen nya, menyiapkan dan memakan sendiri sarapannya. seketika Radit teringat Jesika barusan, panggilan mereka terputus begitu saja.
"Aku hubungi Jesika kembali, sapa tahu dia tulis membantu ku untuk belajar menerima kenyataan, dan mampu melupakan Bunga. Jesi orangmya lucu dan terlihat tulus. sapa tahu dia bisa menjadi Sahabat untuk ku dinegara ini." gumam Radit.
"Hallo Jesika."
"Ha....hallo juga Radit," jawab Jesika gugup.
"Lihatlah penampilan ku sekarang, sudah seperti laki-laki idaman para perempuan cantik kan?" ucap Radit tersenyum bangga.
Jesika yang semula gugup dan masih malu-malu, tertawa lepas, dia tidak mampu mengendalikan dirinya. melihat penampilan Radit yang terlihat sangat lucu.
__ADS_1
"Ini mah bukan seperti laki-laki idaman, melainkan bayi besar ingin disunat massal." ucap Jesika disela tawanya.
Dengan perasaan jengkel Radit kembali menoleh kebawah, doa kembali tersadar jika masih mengenakan celana pendek, yang merupakan kebiasaan nya, mengingat dia selama ini tinggal sendirian dan bebas.
"Ya udah, kita mulai ngobrol aja ya, aku capek penampilan ku yang terbaik pun masih salah, lagian aku selalu lupa." ucap Radit.
"Ya...maaf deh," balas Jesika. yang sesungguhnya mulai memiliki perasaan terhadap Radit, meskipun dia masih berusaha untuk menyangkal perasaan nya tersebut.
"Gimana jadi ngak kita jalan-jalan?"
"Mmmhhh boleh, aku sarapan dulu. setelah itu aku akan jemput kamu ke asrama."
"Baiklah, aku siap-siap dulu ya."
"Okey."
***
Sepanjang perjalanan, Radit dan Jesika mulai akrap dan saling terbuka tentang kehidupan mereka masing-masing, perasaan nyaman mulai hadir diantara mereka berdua. meskipun masih sama-sama terlihat menutupinya.
"Radit, kita masuk kemuseum itu yuk?"
"Boleh juga."
Radit membelokan mobilnya, memasuki museum Nasional Negara tersebut. setelah memarkir mobilnya ditempat yang pas, dia turun diikuti Jesika. ternyata gadis cantik itu sudah mempersiapkan semuanya. bahkan dia selalu membawa camera ponselnya untuk berpergian.
"Wah bagus nya?"
"Kamu baru pertama kali ya masuk Kesini?"
"Ya Radit, kamu sendiri?"
"Ini juga pertama kalinya bagiku,"
Jesika memotret berbagai peninggalan sejarah, termasuk sejarah kerajaan negara tersebut. sedangkan Radit lebih memilih mengikuti langkah Jesika.
__ADS_1
"Lihat Radit, pintu gerbang itu terhubung langsung dengan kebun binatang. kita bisa jalan-jalan sepuas-puasnya."
Tanpa sadar Jesika menarik tangan Radit, berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan alam yang sangat indah dan menakjubkan.