
"Doooor... doooor,"
Sebuah tembakan keras menembus kegelapan malam, beruntung bagi Rey yang berhasil menghindar, namun tidak dengan Citra yang jatuh dari pangkuan nya, bahu sebelah kanan gadis itu mengeluarkan cukup banyak darah. hingga tubuh kecil itu ambruk ke pasir pantai sebelum mereka berhasil mencapai gubuk kosong dihadapannya.
"Sakiiit....sakiiit, aku tidak tahan lagi."
Suara erangan kesakitan Citra, seiring dengan kesadaran nya yangjuga menghilang, semua terlihat gelap.
"Hey siapa kalian, dan kenapa kalian begitu tega menyakiti gadis kecil ini?" Teriak Rey bergema, namun tidak ada jawaban, hanya suara angin dan hujan yang begitu lebat, Rey masih mampu melihat darah yang bercampur dengan air hujan membasahi Citra, yang sudah terkulai lemas tidak sadarkan diri.
"Cinta bertahan lah, kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini, sebelum mereka kembali menyerang kita berdua." Rey tidak bisa melihat dan mengetahui penembak misterius tersebut, selain karena gelap mereka juga lihai menyembunyikan diri.
Rey berusaha mengangkat tubuh kecil itu, menembus kegelapan malam meminta bantuan masyarakat setempat yang tinggal tidak jauh dari
lokasi pantai.
Beruntung bagi Rey, kondisi Citra yang parah, membuat mereka iba dan langsung memberikan pertolongan membawa kerumah sakit terdekat. namun karena keterbatasan alat-alat medis mereka, Citra terpaksa dirujuk malam itu juga ke salah satu Rumah sakit besar dipusat kota.
"Bagaimana ini, aku tidak bisa menghubungi bos Arya, mengingat ponselku yang juga tertinggal diruangan kerja nya semalam." panik, hingga akhirnya, mau tidak mau, Rey ikut mengantar Citra kerumah sakit pusat, tanpa memberitahukan keberadaan nya pada bos Arya. yang terpenting baginya saat ini nyawa Citra bisa terselamatkan.
"Kasihan kamu Citra, aku yakin jika pelaku penembakan misterius ini adalah saudara sepupu mu Baron." Gumam Rey menatap iba wajah cantik dihadapannya yang sudah terlihat pucat.
Secara tidak langsung, Rey sudah mulai tertarik semenjak mendapatkan sentuhan pertama dari Citra, jiwa jomlo akut yang selama ini disandangnya, seolah-olah kembali meronta-ronta begitu mendapatkan sentuhan yang paling memabukkan dari gadis belia ini. sehingga Rey sangat takut jika harus kehilangan Citra disaat dia baru pertama kalinya menginginkan dan mengharapkan seorang wanita disisinya.
***
"Rey kemana ya?"
Pagi ini, Arya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kerjanya yang kosong, termasuk sofa yang semalam sempat dijadikan Rey sebagai tempat tidur nya, karena sudah tidak bisa menahan rasa ngantuk nya lagi untuk pulang kepenginapan mereka.
"Rey....Rey..."
__ADS_1
Arya sempat memangil-mangil nama Rey , namun tidak ada juga jawaban, termasuk kamar mandi yang masih kosong. seketika Arya melihat ponsel Rey yang tergeletak begitu saja dibawah sofa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Berbagai pertanyaan berkecamuk dibenak Arya, dia tidak habis pikir Rey yang tiba-tiba menghilang, bahkan tidak biasa Rey meninggalkan ponselnya begitu saja, apa lagi jatuh kelantai.
"Bagaimana ini, bahkan sebentar lagi aku juga harus memimpin rapat."
Dengan keadaan yang panik dan bingung, Arya terpaksa membatalkan rapat. dan mengumpulkan beberapa orang kepercayaan nya untuk membantu mencari dan melacak keberadaan Rey sekarang, yang merupakan kaki tangan Arya selama ini.
"Aku yakin, pasti sudah terjadi sesuatu pada Rey."
"Bos, kecurigaanku mengarah pada Baron, karena dalam minggu ini kita terus menyelidiki nya. bahkan kita sudah mempunyai beberapa bukti-bukti nya."
"Yah, aku pikir juga seperti itu."
"Keterlaluan kamu Baron."
Arya, sangat marah dan geram sekali. setelah mendapat fakta dan bukti dari kejahatan kepala cabang. yang termasuk salah satu, orang kepercayaannya selama ini. untuk memimpin dan mengelola perusahaan perkebunan mereka.
"Maafkan kekhilafan saya, mas Arya." ucap nya tertunduk lesu. karena tidak bisa membela dirinya.
"Cepat katakan dimana Rey?"
"Kalau masalah asisten mu, Rey. aku sama sekali tidak mengetahui nya."
"Aku tidak percaya lagi dengan ucapan mu Baron, cukup banyak kesalahan mu padaku."
"Maaf."
"Permintaan maafnya sudah terlambat, aku tidak bisa mentolerir lagi kesalahanmu sekarang. aku minta kamu segera mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu, termasuk menganti rugi uang hasil pengolahan pabrik perkebunan ini." ucap Arya.
__ADS_1
"Aku tidak mampu mengembalikan uang sebanyak itu mas, karena sebagian sudah terpakai oleh keluargaku.!"
"Apa.!"
Rey tiba-tiba bangkit, dia tidak mampu lagi untuk mengendalikan kemarahan nya, pukulan dan tendangan keras menghantam tubuh kepala cabang perusahaan nya itu.
"Manusia serakah kamu, apa kamu tidak mempunyai malu. dengan memberikan uang haram untuk keluargamu hidup mewah. dan menekan gaji para buruh perkebunan. serta karyawan pabrik ini?"
Arya menarik kasar kerah baju, laki-laki paruh baya itu. darah segar mengalir dari sudutnya.
"Ampun....mas Arya. saya khilaf." sambil mengangkat kedua belah tangannya keatas.
"Kamu bilang kilaf, selama dua tahun ini kamu menggelapkan uang. hingga pabrik ini nyaris bangkrut. kamu bilang kilaf. dasar serakah." Arya melayangkan pukulan keras tanpa ampun.
"Aku sangat yakin jika kamu sudah mencelakai Rey."
"Tidak, bahkan aku belum bertemu dengan Rey." Elaknya.
"Bos tolong kendalikan emosimu, laki-laki ini bisa mati terbunuh oleh mu nanti." ucap salah satu orang-orang Arya melerai, melihat kondisi Baron yang sudah terluka.
"Aku tidak peduli, karena laki-laki serakah seperti dia tidak pantas untuk hidup. selama ini dia menekan para buruh. jika pabrik ini rugi dan ditutup. bagaimana nasib ratusan karyawan, bahkan ribuan karyawan buruh pekerja kebun. akan kehilangan pekerjaan mereka. bagaimana dengan nasib mereka nantinya." bentak Arya.
"Biarlah hukum yang akan menjeratnya, jika Bos menghabisinya. Bos pasti akan dipenjara. kasian Nyonya yang tengah hamil muda, nanti dia yang akan melahirkan bayi. tanpa ada mas Arya disampingnya." bujuk mereka.
Arya segera tersadar dari kemarahan, saat mendengar nama istrinya, dia melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar. bagaimana pun orang-orang tercintanya masih sangat membutuhkan dirinya, dibandingkan jika dia harus mengotori tangan, ketubuh Baron.
"Cepat, seret pria ini dari hadapanku. sekap dia sampai dia benar-benar mau mengaku dimana dia, sudah menyembunyikan asisten ku Rey." perintah Arya.
"Baik Tuan."
Mereka menyeret Baron ke sebuah gudang tua, untuk kemudian di interograsi oleh Arya, agar dia mau mengaku termasuk keberadaan Rey yang tiba-tiba ikut menghilang.
__ADS_1
Sementara dirumah sakit pusat, Rey masih mondar-mandir didepan pintu masuk ruangan operasi Citra, dia ikut gundah memikirkan gadis imut dan cantik itu.
" Ya Tuhan, semoga engkau tidak mengambil Citra. aku akan berjanji jika dia sembuh dan kembali sadar, aku akan melindungi nya sekarang, dan untuk selamanya." Gumam Rey.