
Radit merebahkan tubuhnya yang lelah, jalan-jalan dengan Jesika yang hampir menghabiskan waktu seharian. cukup membuat Radit merasa puas, paling tidak beban pikiran dan kegundahan nya memikirkan Bunga sedikit banyak bisa terobati dengan kehadiran dan keceriaan Jesika.
Rasa capek dan lelah membuat Radit tertidur begitu saja, dengan senyum mengembang masih membayangkan wajah cantik Bunga. dan langsung menuju alam mimpi indahnya. Radit mengeratkan pelukannya pada guling seolah-olah yang dipeluknya saat ini adalah Bunga.
Tanpa sadar karena tidur selalu gelisah, perlahan guling yang sedang dipeluknya jatuh kebawah tempat tidur, seiring Bunga yang berlalu pergi dari pelukan erat nya.
"Bungaaaa..."
Radit langsung terbangun, keringat dingin membasahi wajah nya dengan nafas yang masih memburu.
***
Bunga yang sedang sarapan dengan Arya, langsung tiba-tiba terbatuk-batuk, karena namanya sedang disebut oleh Radit yang sedang memimpikan dirinya.
"Uhuk...uhuk," keselek minuman sendiri.
"Sayang, kamu kenapa? hati-hati dong." Arya mengusap punggung Bunga pelan.
"Ngak tau mas, tiba-tiba aja aku keselek." sambil kembali minum, untuk melegakan kembali perasaan nya.
"Ya, gimana sekarang. apa udah lega kembali?"
"Udah mas."
"Yuk, berangkat biar mas antar sekalian kuliahnya."
Arya dan Bunga berjalan bergandengan menuju mobil, karena jam kuliah Bunga ada pagi ini, sehingga mereka bisa berangkat bareng. sepanjang perjalanan yang dilaluinya, Bunga terlihat banyak diam, pandangan nya fokus menatap keluar jendela mobil.
"Sayang, kamu kenapa. tumben jadi pendiam begini, biasanya ceria dan lebih banya ngomong dari pada diamnya?" mengelus dagu Bunga dengan sebelah tangannya.
"Ngak papa kok mas, cuma lagi ngerasa ngak enak aja. dan perasaan ku tiba-tiba kok gelisah gitu."
"Biasa itu sayang, mending perbanyak berserah dirilah dan beristighfar pada yang diatas, karena hanya pada Allah, tempat kita mengadu." terang Arya tersenyum.
__ADS_1
"Iya mas."
Tanpa terasa, mobil yang dikendarai Arya sudah memasuki gerbang kampus favorit di kota ini. dan berhenti didepan gedung utama.
"Mas, aku turun dulu ya." mencium punggung tangan Arya pamit.
"Eits, tunggu Sayang."
Arya menarik sebelah tangan Bunga, lalu menariknya kedalam pelukan. ciuman hangat mendarat di kening, mata dan kedua pipinya. yang terakhir dibibir merah merekah Bunga. rasanya Arya tidak pernah puas untuk bermesraan dengan istri tercinta.
"Udah mas, ntar telat datang kekantor nya."
Bunga meregangkan pelukan Arya, lalu memperbaiki penampilan nya kembali, karena sempat acak-acakan oleh Arya.
"Nanti pulangnya mas jemput aja ya."
"Boleh mas."
Bunga turun sambil membalas lambaian tangan suaminya, meskipun dia sedikit heran dengan sikap manja yang ditunjukkan Arya, akhir-akhir ini. bahkan Arya seperti anak kecil yang ingin segala sesuatu nya diurus Bunga, bahkan jika dia melihat Bunga menyuapi Cecilio, maka Arya juga minta diperlakukan hal yang sama oleh istri cantiknya itu.
Setelah mobil Arya menghilang, Bunga melangkah memasuki gedung kampus. hal pertama yang dicari-cari nya begitu sampai kelas adalah sosok sahabat baiknya Vira.
"Mana Vira ya, padahal sebentar lagi kelas sudah mau dimulai lagi." Gumam Bunga kembali melirik jam dipergelangan tangannya, yang merupakan hadiah spesial yang diberikan Arya, dihari ulang tahun suaminya. kalau sudah cinta semua tersa indah, bahkan yang ulang tahun Arya, namun yang mendapatkan kado spesial adalah istri tercinta, Bunga.
Semua sudah duduk dikursi masing-masing, sekarang tinggal cuma satu kursi yang kosong, milik Vira yang berada disebelah Bunga. rasa cemas dan khawatir Bunga menjadi satu, ketika sebentar lagi dosen mulai memasuki kelas yang merupakan jam Bu Rani yang terkenal sangat disiplin waktu, yang tidak jauh beda dengan Andrian, yang mana didepan kelas dia akan berubah menjadi sosok yang disiplin dan serius, bahkan tidak jarang memberikan hukuman pada mahasiswa yang suka terlambat dan lalai dalam tugas-tugas yang diberikan nya.
"Vira kamu kemana sih, ditelpon juga ngak diangkat-angkat lagi." Bunga mulai resah sambil mengulangi panggilannya.
"Mmmhhh, selamat pagi semua."
Bunga langsung mengangkat kepalanya, begitu mendengar suara Ardian yang berdiri didepan kelas.
"Bukanya sekarang jam mata kuliah nya Bu Rani." Gumam Bunga dalam hatinya.
__ADS_1
"Berhubung Bu Rani ada keperluan mendadak, sehingga jam mata kuliah saya dimajukan." terang Ardian, dia juga sempat melirik Kursi yang biasanya diduduki Vira terlihat masih kosong. meskipun penasaran kenapa Vira belum juga masuk, namun Ardian tetap jaga image dan wibawanya sebagai dosen yang sangat disiplin.
Ardian mulai menerangkan pelajaran didepan kelas, yang juga akan dilanjutkan dengan kuisioner dan pengambil nilai untuk mata pelajaran nya. sedang seriusnya menerangkan, tiba-tiba terhenti karena pintu diketuk dari luar. yang membuat semua menoleh kearah asal suara.
"Tok...tok...Ma...maaf Bu Rani saya telat."
Nampak Vira dengan nafas yang terlihat masih ngos-ngosan berdiri didepan pintu masuk, dia juga terlihat kaget begitu mengetahui jika dosen yang sedang mengajar didepan kelas sekarang adalah Ardian, bukan Bu Rani.
"Vira, kenapa kamu bisa telat?"
Ardian berdiri sambil menatap Vira dengan tatapan serius, tidak ada lagi tatapan mesra seperti biasanya ditunjukkan Ardian pada Vira.
"Sa...saya ketiduran pak." ucap Vira kebingungan mencari alasan yang tepat.
" Ketiduran, alasan yang seperti nya sengaja kamu buat-buat. apa kamu tidak memiliki alarm, bahkan sekarang sudah jam berapa?" suara Ardian terdengar lantang, membuat semua isi kelas hening seketika.
"Semalam saya ngak bisa tidur pak." ulang Vira yang tiba-tiba gugup, meskipun hati terdalam nya begitu jengkel melihat Ardian.
"Kenapa ngak bisa tidur, kejar tayang ya? untuk menyelesaikan tugas-tugas yang aku berikan, mana tugas mu itu?" Arya mengulurkan tangannya kearah Vira yang langsung memberikan buku tugasnya yang masih kosong belum terisi satu pun.
Ardian terlihat serius membolak-balik buku Vira yang masih kosong, dan melempar buku itu keatas meja, sehingga membuat seisi kelas kaget.
"Vira....Vira..., apa sih yang kamu pikirkan hingga tugas-tugasmu berantakan, bahkan sampai ketiduran, dan telat masuk kuliah seperti ini." Ardian mengusap wajahnya kesal tidak habis pikir.
"Saya mikirin bapak."
Jawab Vira spontan, dan langsung menutup mulut nya saking malu, ditambah lagi suara seisi kelas yang tiba-tiba berubah heboh meneriaki ucapan Vira barusan.
"Mati kamu Vira, kenapa bisa keceplosan begini sih." merutuki dirinya sendiri.
"Makanya bapak nggak usah terlalu galak sama Vira, hingga dia kepikiran bapak terus." teriak mahasiswa yang lain.
"Iya juga sih, mula-mula kesal dan kepikiran terus. tanpa sadar kesal bisa berubah menjadi cinta, hu...hu...hu..."
__ADS_1
Bunga ikut tersenyum kecut, melihat wajah Vira dan Ardian yang sama-sama bersemu merah, namun Ardian seketika berusaha untuk mengendalikan keadaan kelas dan tetap memberikan Vira hukuman. demi menjaga wibawanya didepan para mahasiswa yang belum mengetahui hubungan mereka berdua.
"Awas kamu Ardian." Gumam Vira kesal.