Menjadi Istri Kedua Majikan

Menjadi Istri Kedua Majikan
No tidak dikenal


__ADS_3

"Syukurlah, cuma mimpi huf.... huuuff."


Bunga mengatur pernafasan nya yang masih tersa berpacu dan ngos-ngosan, seperti layaknya orang yang tengah dikejar-kejar.


"Sayang, kamu kenapa ngos-ngosan seperti ini."


Arya mendekati Bunga, memperhatikan keringat yang membasahi tubuhnya. meskipun AC dikamar mereka masih menyala.


" Aku mimpi buruk mas."


"Itu makanya sayang, jangan keseringan tidur sore begini. bentar lagi juga mau Magrib. sana mandi dulu, setelah itu kita sholat bareng Mama dan Cecilio di ruang sholat."


"Baiklah mas."


"Mandinya jangan lama-lama ya, dan langsung berwudhu saja."


"Iya mas."


Bunga mandi dengan mengunakan metode kilat khusus, sedangkan pikiran nya saat ini, masih terganggu dan teringat dengan mimpi yang tiba-tiba mengusik ketenangan nya.


"Ngapain juga aku masih kepikiran dengan mimpi itu ya?" berjalan keluar kamar, sambil memasang mukenanya, diruangan musholla kecil yang digunakan sebagai tempat sholat oleh keluarga Arya, nampak Mama dan Cecilio yang sudah menunggu kedatangan nya. sedangkan Arya sebagai imam sholat terlihat begitu tampan dengan pakaian peci dan baju Koko nya.


"Aku begitu beruntung mendapatkan mas Arya, dan keluarga yang begitu hangat dan baik ini, mereka mau menerima diriku apa adanya. aku yang dulunya hanya orang yang tidak memiliki apa-apa, status ku seorang pelayan dirumah ini. tapi mereka tidak memandang semua itu. ya Tuhan ku, tolong lindungi keluarga kecilku yang penuh kebahagiaan ini, jangan sampai ada orang lain yang merusaknya. termasuk diriku ini, semoga engkau juga selalu melindungi diriku dari godaan-godaan yang bersal dari manapun ya Allah." doa Bunga.


Mereka semua shalat magrib berjamaah, dilanjutkan dengan makan malam dan setelah itu berkumpul diruangan keluarga, Arya menyaksikan acara televisi sambil selonjoran di sofa, sedangkan Mama mertuanya memijid sebelah kakinya dengan alat terapi.


Bunga dan Cecilio, sibuk belajar mengerjakan pr. mengingat Cecilio anak yang cukup pintar dan cepat nangkap, sehingga Bunga tidak terlalu kesulitan dan sangat senang membantu Cecilio belajar.


Semua terlihat asyik dengan kesibukan mereka masing-masing, hingga suara deringan ponsel Bunga mengagetkan semuanya. Arya melirik sang istri yang belum juga mengangkat panggilan masuk dari ponsel nya tersebut.


"Siapa yang Yang? kok ngak diangkat."

__ADS_1


"No ponselnya baru mas, aku tidak mengenal siapa pemilik nya." balas Bunga yang terlihat masih ragu-ragu untuk mengangkat panggilan masuk, sehingga terputus begitu saja. Arya melirik No ponsel tersebut dengan kode panggilan luar negeri.


"Siapa ya?"


Arya mendial No tersebut mengunakan ponsel nya sendiri, tapi No tersebut tiba-tiba tidak bisa dihubungi lagi.


"Sudahlah sayang, paling juga orang iseng. gimana apa udah siap belajarnya?"


"Udah mas."


"Sekarang anak kesayangan papi tidur malam lagi ya." mengangkat tubuh Cecilio.


"Pamit ke Oma dan Mama dulu," Cecilio berusaha turun dari gendongan papinya.


"Oma, Cecilio tidur malam dulu ya." mencium pipi Oma.


"Iya sayang, sebelum tidur Cecilio baca doa dulu ya biar mimpi indah." balas oma mengelus sayang rambutnya.


"Gimana, kalau untuk sekarang ini Cecilio tidur Mama yang temani dulu, sambil Mama ceritain dongeng?" Bunga berusaha membujuk Cecilio agar kembali ceria.


"Boleh...boleh ma."


Mata Cecilio langsung berbinar-binar bahagia, sambil memeluk tubuh Bunga yang menggendongnya memasuki kamar, Arya juga mengikuti langkah mereka memasuki kamar. Cecilio tidur ditengah-tengah, disisi kiri dan kanan nya Arya dan Bunga tidur sambil memeluk nya dari samping.


"Ayo ma, jadi ngak ceritain Cecilio dongeng?"


"Baik sayang, pada suatu hari....."


Bunga mulai bercerita sambil mengelus-elus sayang Cecilio, dia begitu pandai bercerita termasuk ekspresinya dalam membawakan cerita dalam karakter dongeng yang dikisahkan nya.


Bunga melirik Cecilio yang sudah hampir tertidur namun anak itu masih berusaha untuk melawan rasa ngantuk nya agar bisa mendengarkan dongeng sang mama, begitu juga sebaliknya Arya yang ketiduran saat mendengar dongeng yang dibacakan Bunga barusan.

__ADS_1


"Ah mas Arya, ikut-ikutan tidur lagi. padahal semula aku membacakan dongeng untuk Cecilio, tapi dia yang malah ketiduran mendengarkannya." Gumam Bunga.


Mendingan malam ini pada tidur bareng dikamar ini saja, berhubung mas Arya juga sudah tidur pulas." Bunga memperbaiki selimut untuk mereka bertiga dan ikut-ikutan tidur.


***


Radit mondar-mandir didepan pintu kamar nya, pikiran nya begitu kalut. meskipun dia sudah berusaha keras untuk meluapkan Bunga, dengan pergi jauh ke negara lain dan memilih menetap disini.


"Bunga, sekian lama aku berusaha untuk melupakanmu. namun semakin aku berusaha, rasa cinta dan sayang ku semakin besar. terkadang membuat ku lupa diri dan selalu ingin menghubungi mu, untuk sekedar mendengarkan suaramu saja sudah cukup membuat ku bahagia." Gumam Radit sambil menatap salah satu foto Bunga yang masih mengenakan seragam sekolah mereka dulu nya.


"Harusnya aku yang disana, dampingmu dan bukan dia....


"Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia....


"Kutak bahagia, melihat kau bahagia dengan nya...


"Aku tersiksa, tak bisa dapatkan kau sepenuhnya....


Tanpa sadar, Radit bergumam sendiri menyanyikan bait-bait syair dan group band kesukaan nya. Radit berjalan meninggalkan unit apartemen nya, membelah jalanan yang cukup ramai, sekedar untuk meredakan perasaan rindu nya pada wanita yang sudah lama dicintainya.


"Bunga, lihatlah. suatu saat nanti aku akan kembali. bahkan aku akan tunjukkan padamu jika aku bisa lebih dari laki-laki tua yang telah berhasil menikahi dan merebutmu dariku. meskipun diantara kita tidak pernah ada ikatan cinta sebelum nya, namun perasaan ku tidak pernah bisa berpaling darimu Bunga."


Radit mengusap layar ponsel yang tadi menghubungi nya, dia tahu jika itu No ponsel Arya, sehingga Radit sengaja tidak mengangkat panggilan tersebut.


"Untuk saat ini biarlah sampai disini dulu, paling tidak aku lega begitu mengetahui laki-laki bresengsek itu tidak menyakiti Bunga. meski aku sempat bingung dengan prinsip pernikahan mereka." Radit terus perang bathin dengan perasaan nya sendiri.


Radit menepikan mobilnya disebuah tempat yang sangat indah, melihat kagum sebuah pertunjukan jalanan. dia berinisiatif untuk mendekati mereka. meminta izin agar memberikan nya kesempatan untuk menyumbangkan sebuah lagu, yang mengambar kan perasaan nya yang sesungguhnya.


Mereka menyambut antusias keinginan Radit, tepuk tangan yang meriah dari orang-orang yang tiba-tiba sudah banyak menyaksikan suara emas Radit dalam bernyanyi, termasuk salah seorang gadis cantik yang merupakan seorang mahasiswi bersal dari Indonesia yang berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa untuk bisa berkuliah di negara ini.


Jesika, tersenyum sambil bertepuk tangan. menyaksikan seorang pemuda yang bersal dari negara yang sama dengan dirinya ikut menyumbangkan suara emasnya.

__ADS_1


__ADS_2