
Ardian terhenyak lemas, dia mengusap kasar wajahnya sambil menatap kearah Nadin dengan tatapan yang sulit diartikan, rasa takut kehilangan Vira seketika membuat Ardian tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Nadin, memang aku berniat untuk membuat Vira cemburu padamu, tapi tidak dengan cara seperti ini juga. kamu berani memeluk dan mencium ku dihadapan Vira, aku takut dia berfikir jika hubungan kita sudah sangat jauh, Nadin."
"Tidak Al, aku yakin Vira ngak bakal berfikir sejauh itu, biarkan dia merenungkan tentang perasaannya terhadap mu, Al. sampai dia mau jujur dan berterus terang kepada dirimu."
"Entahlah Nadin, saat ini otakku tiba-tiba buntu untuk berfikir secara jernih. sekarang tolong tinggalkan aku sendirian dulu, Nadin."
"Okey, aku pergi dulu Al. semoga hubungan kalian segera membaik setelah kejadian ini." Ucap Nadin sebelum berlalu pergi meninggalkan ruangan Ardian.
Sendirian di ruangan ini, Ardian tiba-tiba menjadi tidak tenang, dia tidak menyangka sebelumnya Nadin berbuat nekat. padahal semula Ardian berfikir hanya sekedar perkenalan singkat saja. untuk memancing reaksi Vira, namun kejadian tiba-tiba barusan diluar dugaan Ardian.
"Tuuut.... tuuuuuttt... tuuuuuttt, No yang Anda tuju...."
Ardian kembali mencoba untuk menghubungi No ponsel Vira, namun tidak diangkat yang di lanjutkan dengan jawaban suara operator. padahal ini sudah panggilan ketiga kalinya. Ardian kembali mengulangi panggilan nya.
"Baru saja aku ingin memulai hubungan yang indah dengan mu Vira, tapi sekarang semaunya sudah rusak sebelum kita merajutnya. aku juga tidak habis pikir, kenapa mudah terpengaruh hasutan Nadin dengan ide gilanya itu"
Ardian bangkit segera dia berlari kecil menuju mobilnya, yang terparkir khusus diparkiran mobil dosen. raut wajah Ardian terlihat gusar dan cemas kehilangan wanita yang dicintainya.
Ardian terus melajukan kecepatan mobil, dipikiran nya saat ini adalah Vira dan hanya Vira. karena wanita manis, imut dan lucu itu sudah mengambil hati dan cinta Ardian, yang mampu mengalahkan sekian banyak wanita cantik berlomba-lomba untuk mendapatkan hati dosen tampan dan kaya raya itu selama ini.
***
__ADS_1
"Dia lagi, dia lagi yang menghubungi ku. ngapain juga sih? Khan sudah ada Nadin yang bisa meluk dan nyium dia lho, dasar dosen Mesum. ikan asin aja masih Lo embat. apa lagi daging segar kayak aku ini, huuuff....sevel...sebel..."
Vira mematikan ponselnya, hatinya benar-benar kalut sambil mengayunkan langkah kaki pelan menuju taman kota. duduk sendirian sambil menatap orang-orang yang lalu lalang dihadapannya membuat perasaan Vira berangsur-angsur lega.
"Kenapa jugaya aku bisa sesakit dan sesedih ini melihat mereka berdua, padahal aku dan Ardian belum terikat hubungan apa-apa. hanya sebatas hubungan dosen dan mahasiswa nya. seperti sering kali aku ucapkan pada laki-laki mesum itu, tapi sekarang aku dibuat mengeluarkan air Mata. sesuatu yang belum pernah terjadi. bahkan sewaktu Pupuzz kucing kesayangan ku mati aja aku ngak nangis." Vira terus perang bathin dengan perasaan nya yang gusar.
Kerumunan yang tiba-tiba heboh, dengan munculnya beberapa badut karakter, yang dikerumui orang-orang, dan beberapa anak-anak yang bersorak-sorai karena kegirangan, dengan atraksi-antraksi mereka yang lucu dan unik, seketika menarik perhatian Safira, seketika perhatian gadis itupun terpusat pada mereka sambil tertawa senang.
Ardian langsung menepikan mobilnya, dia berhasil melacak keberadaan Vira yang tengah berada di sekitaran taman kota. yang juga sedang mengadakan pesta rakyat, dimeriahka dengan pesta kembang api dan juga penampilan barongsai dan beberapa badut karakter yang sangat lucu.
Ardian mengedarkan pandangannya sambil terus berjalan, mencari-cari posisi keberadaan sang pujaan hati nya Vira saat ini.
"Vira kamu dimana sih?"
"Aku punya Ide?"
Senyum mengembang dibibir Ardian, sambil melangkah menuju tempat panitia acara rakyat, dengan memberanikan dirinya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas ketangan panitia acara, Ardian berhasil mendapatkan pakaian badut karakter Micky mouse, sambil membawa boneka yang berbentuk hati dan setangkai bunga mawar merah.
"Sayangku Vira, maafkan aku yang tidak bermaksud membuat mu sedih, aku berjanji akan mengembalikan senyuman mu. aku begitu takut kehilangan mu sayang." Gumam Arduan tersenyum lepas dengan pakaian badut, dia berjalan semakin mendekati posisi keberadaan Vira.
Ardian menari-nari sebisa nya, Vira yang semula terlonjak kaget begitu melihat seorang badut yang mendekati nya sambil membawakan sebuah boneka berbentuk Love dan setangkai Bunga mawar merah langsung menerima sambil tersenyum mengucapkan terimakasih. dia sama sekali tidak mengetahui jika didalam pakaian badut karakter yang besar itu Adalah Ardian.
"Hallo cantik, izinkan aku untuk menghiburnya malam ini." ucap Ardian. yang langsung dianggugkan Vira dengan antusias dan senyuman lepasnya, ketika Ardian menari-nari, Safira terus bertepuk tangan menyemangati.
__ADS_1
"Vira melihatmu tersenyum senang seperti ini, aku juga ikutan bahagia. rasanya aku, tidak akan pernah rela membuat senyuman manismu itu luntur sayang." Gumam Ardian yang kembali menari, namun kali ini dia menarik tangan Safira agar ikut menikmati malam yang sangat indah ini berdua.
Vira ikutan berdiri ikut meliuk-liuk tubuhnya bersama badut karakter yang mampu membuatnya kembali tertawa ceria, melupakan sejenak kesedihannya. tanpa sengaja tatapan mata mereka seketika bertemu, seiring dengan pegangannya tanganya yang ikut terlepas dari genggaman badut dihadapannya.
Jari telunjuk Vira terangkat ke atas, tertuju pada wajah dibalik topeng dari pakaian badut tersebut. Vira sangat mengenal tatapan lemut penuh cinta itu, ya dia adalah tatapan mata milik Ardian yang selalu tertuju pada nya selama ini.
"A...ar... Ardian?"
Vira terbata-bata untuk mengeluarkan suaranya, seketika langkah kakinya mundur beberapa langkah kebekang. seiring dengan Ardian yang membuka penutup Kepala yang yang menyerupai Micky mouse tersebut.
"Vir...Vira, Safira ku maafkan aku yang telah membuat mu terluka.."
Ardian seketika menarik tangan Vira, takut gadis itu akan kembali pergi dan meninggalkan nya.
"Apa-apaan ini pak Ardian?"
Vira langsung bersikap biasa-biasa, seolah-olah tidak ada kejadian diantara mereka.
"Vira, maafkan aku. kamu pasti marah kan dengan kejadian tadi." Ardian menarik kedua tangan Vira.
"Ha...Ha.., pak Ardiansyah. untuk apa aku mesti marah dengan kejadian itu. aku malah ikut-ikutan senang melihat hubungan dan tingkah kalian yang seolah-olah sengaja pamer kemesraan dengan panggilan kesayangan kalian berdua dihadapan ku." terang Vira yang berusaha untuk mengendalikan perasaan nya saat ini.
"Vira, semua ini tidak seperti yang kamu lihat, aku dan Nadin sebenarnya saudara sepupu. sedari kecil kami sudah dekat. dan tentang dia yang tiba-tiba memeluk dan mencium ku, itu semua bukanlah kemauan dan tanpa sepengetahuan ku Vira, semua terjadi begitu tiba-tiba." terang Ardian.
__ADS_1