Menjadi Istri Kedua Majikan

Menjadi Istri Kedua Majikan
Khayalan tingkat dewa


__ADS_3

Senyuman manis terukir indah dari bibir Jesika, tanpa sadar langkah kakinya semakin mendekat dan mendekat lagi kearah Radit berdiri sambil melambaikan tangan mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang tersenyum senang melihat penampilannya barusan, Jesika tersenyum dengan tepuk tangan yang paling semangat dan antusias dibanding dengan yang lain, bahkan dia langsung mengabadikan momen tersebut dengan kamera nya ketika sudah berdekatan dengan Radit.


"Hallo, apa kita berdua boleh berkenalan? mengingat kita bersal dari Negara yang sama." Jesika mengulurkan tangan kanan kearah Radit.


"Boleh, namaku Radit."


"Jesika."


Mereka berjabat tangan, lalu memilih berjalan agak menjauh dari pusat pertunjukan ini, mengingat orang-orang semakin banyak karena akan ada berbagai atraksi kesenian lain yang akan digelar ditempat itu.


Jesika mengiring langkah Radit berjalan mendekati sebuah kursi yang terletak di taman kota, mereka bersantai sambil sesekali melihat pertunjukan musik dari kejauhan.


"Apa kamu bekerja atau kuliah di negara super canggih dan kaya ini?"


Jesika memulai obrolan, untuk mengusir kecanggungan yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Ya."


Radit hanya menjawab singkat, karena saat ini pikiran nya masih terfokus pada Bunga.


"Andaikan gadis cantik ini adalah kamu Bunga, mungkin aku akan menjadi orang yang paling berbahagia didunia ini." Gumam Radit dengan tatapan hampa.


"Wah...hebat, kamu kuliah sambil kerja disini. aku sebenarnya juga mau seperti dirimu. mengingat aku berada di negara ini hanya mengandalkan beasiswa dan harus berhemat, karena keluarga ku juga bukanlah termasuk keluarga yang berada."


Suara Jesika barusan membuyarkan lamunan Radit tentang Bunga seketika buyar, meskipun begitu dia bisa mendengar dengan jelas ucapan gadis cantik itu barusan.


"Lebih hebat kamu menurut ku, karena sampai kenegara ini dengan beasiswa. saya salut mendengarnya, berarti kamu adalah gadis yang cukup pintar." puji Radit, yang membuat Jesika tersenyum senang.


"Yah, meskipun terkadang aku masih tidak percaya sampai kenegara ini ini dengan hasil kerja keras ku sendiri, dari hasil belajar dan prestasi yang aku peroleh." balas Jesika sambil sesekali melirik Radit.


"Brilian."


" Oya Radit, aku boleh minta No ponsel kamu tidak, Mmmhhh....., maksud ku bukan apa-apa sih, eits... dan jangan salah paham dulu. aku cuma merasa senang saja memiliki teman sesama orang Indonesia asli, seakan-akan rindu ku pada tanah kelahiran kita sedikit terobati dengan bertemu dan ngobrol-ngobrol dengan orang sebangsa."

__ADS_1


Jesika mencoba untuk menjelaskan panjang lebar, takut Radit tersinggung atau berfikir yang macam-macam karena ucapan nya, mengingat mereka yang baru saja berkenalan dan bertemu.


"Tidak masalah, santai saja Jesika. ini kartu namaku."


Radit memberikan kartu namanya ketangan Jesika.


"Baik, terimakasih Radit. aku akan menyimpan nya baik-baik, sekali lagi senang bertemu dengan mu Radit." ucap Jesika sebelum pergi.


"Aku juga, senang bertemu dengan mu Jesika." balas Radit ramah sambil membalas lambaian tangan Jesika.


Radit menatap punggung Jesika, yang sudah mulai menjauh berjalan meninggalkan nya yang masih betah duduk di kursi taman ini, meskipun dia merasa sore yang cerah ini tidak seindah suasana hati Radit yang sedang merindukan Bunga.


Radit memejamkan matanya, menyandarkan kepala pada sandaran kursi. menatap langit yang tiba -tiba jatuh gerimis seperti hujan salju yang begitu dingin. dan tersa lembut menyentuh kulit wajah Radit.


Pria Tanpan itu merentangkan kedua tangannya, menghadap langit. senyum seketika mengembang dibibir nya ketika khayalan tingkat dewa nya membawa Radit seolah-olah sedang memeluk tubuh mungil Bunga diantara dinginnya salju yang turun menyentuh kulitnya.


"Bunga, semakin aku mencoba untuk melupakan mu. bayang mu semakin nyata, tidak pernah kah kamu menyasari selama ini, perhatian dan sikap ku terhadap mu yang begitu tulus dan penuh cinta.


Sejauh ini aku pergi menghindar, membawa perasaan yang semakin hari terasa semakin hampa. aku masih berharap, meskipun itu terdengar mustahil...semoga suatu saat kamu juga bisa mengerti perasaan ku ini, Bunga, apakah kamu tidak merasa kehilangan diriku, akankah disana Kamu juga merindukan ku Bunga."


"No baru."


Radit sudah tahu jika panggilan baru ini, pasti dari Jesika yang bertemu dengan nya barusan, mengingat kode negara yang tercantum.


"Hallo."


"Halo juga Radit, ini aku Jesika. apa aku telah mengganggu mu?"


"Tidak juga."


Radit memperbaiki posisi duduknya, Radit sengaja bersikap ramah dan terbuka pada Jesika, dengan begini kekalutan dan kesedihan nya akan Bunga bisa sedikit terobati.


"Apa kamu masih di taman kota?"

__ADS_1


"Ya, tapi ntar lagi mau pulang juga kok."


"Betah amat disana sendirian, kamu lagi ada masalah ya? maaf jika aku terlalu ikut campur."


"Ngak papa Jessica, aku cuma sedang merindukan seseorang yang tidak akan mungkin aku gapai dan dapatkan cintanya." ucap Radit sambil mengusap wajahnya.


"Wah...wah begitu dramatis sekali ya."


"Seperti itulah kenyataannya Jes, dan bahkan aku tidak mampu untuk melupakan nya sedikit pun." terang Radit yang kembali seperti melihat Bunga ada disampingnya.


"Kenapa kamu tidak memperjuangkannya Radit, jika dia benar-benar begitu berarti dihidupmu."


"Aku sudah berjuang sampai pada titik ini, berjuang agar bisa melupakan semua tentang nya."


"Kenapa seperti itu? apa dia eh maaf sebelumnya, apa dia sudah meninggal atau?" Jesika bingung melanjutkan kata-katanya.


"Dia sudah menjadi milik orang lain." ucap Radit tanpa sadar dia sudah curhat tentang kegundahannya pada Jesika.


Degghk...., jantung Jesika berdetak kencang. dia tidak menyangka perjalanan hidup Radit serumit ini, meskipun dia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan mencintai, mengingat selama ini Jesika lebih banyak menghabiskan waktu nya dengan belajar dan belajar, demi mempertahankan beasiswa yang sudah dia dapatkan semenjak SMP.


Meskipun Jesika cukup pintar tanpa belajar, namun dia takut untuk jatuh cinta, mengingat kegagalan Rumah tangga yang didalami oleh ibunya dulu.


"Radit, ternyata perjalanan cintamu cukup rumit ya. saran aku sih, mending kamu lupain aja Dia, biarkan dia hidup bahagia menjalani kehidupan nya yang baru."


"Pernah, aku sudah mencoba berbagai cara untuk tidak hadir lagi dalam kehidupannya, bahkan aku sampai ke negara ini karena ingin melupakan Dia. tapi aku mersa segala usaha yang aku lakukan sia-sia belaka."


"Jangan menyerah Radit, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini. Oya besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, apa kamu bersedia?" tanya Jesika.


"Kemana?"


"Rahasia, pokoknya aku yakin banget kamu ngak bakalan nyesal pergi kesana."


"Boleh juga, sapa tahu rasa resah dan galauku ini sedikit banyak terobati dengan situasi dan suasana yang baru." ucap Radit.

__ADS_1


Setelah panggilan mereka terputus, Radit pun pergi meninggalkan lokasi taman yang sudah mulai sepi, mengingat orang-orang lebih memilih berlindung atau dirumah saja karena suasana yang dingin dan gerimis yang terus menerus turun.


__ADS_2