Menjadi Istri Kedua Majikan

Menjadi Istri Kedua Majikan
Permintaan Cecilio


__ADS_3

"Alhamdulillah, Bunga. aku ikut bahagia mendengar berita kehamilan mu ini. semoga kamu dan calon bayimu tetep sehat ya."


"Iya, terimakasih banyak Vira atas perhatian dan dukunganmu."


"Tentu Bunga, karena kebahagiaanmu juga kebahagiaan ku." balas Vira sambil bersiap-siap pergi ke toko buku ditemani Ardian.


"Vira kamu lagi dimana? seperti nya kamu sedang tidak sendirian."


"Aku mau ke toko buku, kamu lupa ya dengan tugas-tugas kuliah kita dari Bu Rani?"


"Ooo...Iya, trus gimana dengan tugasku ya sekarang?"


"Bunga kamu santai saja, aku dan pak Ardian bakalan ngebantuin kamu untuk mencari-cari buku yang terbaik sesuai referensi yang kamu butuhkan, setelah itu kami akan langsung kerumah mu untuk mengantarkan nya." terang Vira, tanpa tersa mobil yang dikendarai Ardian susah memasuki jalan raya, berbaur dengan pengendara lain yang mulai ramai.


"Sudah aku duga, pasti kamu berduan terus dengan pak Ardian. meskipun kamu ngak bakalan pernah mau mengakuinya, bahkan pada dirimu sendiri pun, kamu Seolah-olah tidak bakalan pernah mau untuk mengakui perasaan mu yang sesungguhnya."


"Kamu salah Bunga, kami berdua sekarang sudah menjadi sepasang kekasih. yang sudah mengakui perasaan kami masing-masing, jadi kamu salah besar menduga-duga ku seperti itu." terang Vira tersenyum senang membayangkan reaksi bunga saat ini.


"Apa, apa aku barusan tidak salah dengar ya?"


"Tidak Bunga, kami memang sudah jadian." terang Ardian ikut menimpali pembicaraan kedua mahasiswi nya tersebut.


"Wah asyik, aku ikut senang dan bahagia sekali. mendengar bapak dan Vira sudah saling jujur dengan perasaan masing-masing, semoga tetap langgeng dan bahagia terus ya."


"Ya udah Bunga, kami sudah mau nyampe di toko buku, nanti aku langsung kerumahmu. banyak istrahat ya agar kamu sehat dan kuat selama masa kehamilan ini."


"Iya Vira." memutus panggilan mereka.


Bunga sekarang benar-benar dimanja Mama mertua dan suaminya Arya, bahkan kamar tidur Bunga pun sekarang dipindahkan kembali kelantai satu. agar dia tidak mersa kecapean nantinya, jika naik turun dari tangga. termasuk makanan yamg dikonsumsi Bunga, juga begitu diperhatikan mulai dari sekarang, mereka ingin kesehatan Bunga dan bayinya tetep terjaga apalagi sekarang sedang musim pandemi dan cuaca yang pancaroba.


Bunga hanya menurut dan patuh pada Mama mertua dan suaminya Arya, mengingat Bunga tergolong susah untuk hamil, sehingga mereka begitu menjaganya sebaik mungkin.


"Sayang, mulai sekarang minum susu hamil mu dengan teratur ya."


"Iya mas, dan terimakasih ya udah buatin aku susu."


"Iya sayang, untuk kamu dan bayi Kita mas akan selalu berusaha yang terbaik." balas Arya duduk disebelah istri tercinta.


"Mas tau ngak?"


"Nggak?"

__ADS_1


"Becanda Mulu, Vira sahabatku sudah jadian dengan pak Ardian."


"Apa, mereka jadian?"


"Iya suamiku sayang."


"Wah, aku ikut-ikutan senang, mengingat Ardian yang cukup lama menyandang status jomblo akut. bahkan diumur nya yang seharusnya sudah memiliki istri dan anak."


"Aku berharap mereka bisa untuk segera menikah, ya mas."


"Mmmhhh.."


Arya berjongkok didepan Bunga, dia mencium perut yang masih datar itu dengan penuh kasih sayang dan perasaan yang begitu tulus terhadap istri dan calon anaknya.


"Tumbuh kembang dengan sehat ya, nak. diperut Mama."


"Iya papa..." jawab Bunga seolah-olah mewakili bayi dalam perutnya.


"Mas, kamu kenapa. sepertinya ada yang sedang mengganggu pikiranmu?"


"Ya Bunga, perusahaan dan perkebunan yang aku beli dulu. sekarang sedang mengalami permasalahan, bahkan kerugian yang cukup banyak, sehingga berpengaruh juga pada keuangan perusahaan induk. karena terus menutupi kerugian tersebut."


"Sudah, tapi dengan jarak jauh tidak bisa terlalu jelas. sehingga mas dan Rey berencana untuk datang langsung menuju lokasi dan memantau perkembangan perusahaan disana secara langsung." terang Arya meskipun semula dia agak ragu mengutarakan keinginannya untuk pergi ke kota kecil tersebut, dia berfikir Bunga pasti bakal tidak menyetujui nya.


"Kapan rencana mas berangkat kesana?"


"Lusa, sayang kamu ngak keberatan Khan jika mas tinggal beberapa hari, sampai permasalahan ini tuntas."


Arya menatap intens sang istri, untuk mendapatkan kepastian dari jawaban Bunga yang terlihat masih ragu.


"Mas, rasanya berat harus berpisah darimu. tapi bagaimana pun juga mas harus menyelesaikan permasalahan ini. aku hanya berdoa semoga mas selalu dilindungi di manapun berada."


"Ya, terimakasih sayang. Mas janji setelah permasalahan perusahaan cabang disana selesai. Mas bakalan langsung pulang."


***


Pagi yang cerah ini, Bunga membantu suami tercintanya untuk berkemas beberapa pakaian kerja dan santai. dan menyusunnya dengan rapi dikoper yang akan dibawa oleh suaminya.


"Bunga."


"Ya, mas."

__ADS_1


"Tempat yang akan mas kunjungi ini, termasuk kota kecil, dan sangat jauh. kemungkinan komunikasi kita bakalan sering terputus karena keterbatasan signal, mas harap kamu paham jika mas tidak bisa setiap saat ini menghubungi mu."


Mendengar penuturan dari suami tercintanya, Bunga langsung menghambur memeluk tubuh Arya. tiba-tiba kekhawatiran dan rasa kehilangan membuatnya semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas, aku bakal selalu merindukanmu."


"Sama Sayang, aku juga akan selalu merindukanmu. Mas janji bakal langsung pulang secepatnya, Jadi jangan sedih lagi ya."


Arya mengangkat dagu Bunga yang menunduk sedih , mata indah yang biasanya selalu terpancar dan berseri-seri karena bahagia, sekarang sudah memerah ingin menangis.


"Titip Cecilio, ya sayang."


"Tentu mas, Cecilio juga kan anakku."


Arya tersenyum lega mendengar penuturan Bunga, dan kembali mengeratkan pelukannya. dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang berat berpisah dengan orang-orang dicintainya.


"Jangan lupa jaga kesehatan, minum susu dan vitamin mu dengan teratur." ucap Arya seraya mengusap-usap kembali perut Bunga.


Arya merapatkan tubuhnya, ciuman hangat mendarat di kening Bunga yang terpejam. menikmati saat kebersamaan mereka yang terasa begitu indah. Bunga memeluk erat tubuh suaminya Arya, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu, sambil terus berusaha menahan air matanya.


Arya mengusap pelan punggung Bunga, setelah itu dia mencoba melepaskan pelukan mereka. namun Bunga semakin erat memeluknya kembali.


"Sayang, mas harus pergi dulu. Rey sudah menunggu mas diruang depan." bisik Arya.


Perlahan Bunga meregangkan pelukannya, mengusap air mata yang tampa disadari sudah membasahi wajah cantiknya. Arya merangkul tubuh Bunga berjalan keluar dari kamar mereka, menuju meja makan. disana sudah menunggu Cecilio, Mama dan juga asisten pribadi nya Rey.


Mereka sarapan bersama dalam diam, nampak Cecilio yang melirik sedih kearah papa nya yang sudah terlihat rapi.


"Papa perginya jangan lama-lama ya."


Arya terenyuh mengedar penuturan putra satu-satunya, dia menarik tubuh Cecilio kedalam pangkuan nya.


"Tentu sayang, tapi Cecilio ngak boleh nakal ya sama Oma dan juga Mama."


"Iya papa..."


"Pintarnya anak papa."


"Oya pa, nanti jika ketemu Mami. bawa pulang ya pa, Cecilio kangen banget sama mami."


Arya terdiam mendengar penuturan sang putra, dia mengangguk pelan mengiyakan permintaan Cecilio.

__ADS_1


__ADS_2