
Arya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang terlihat serba putih. timbul berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya. dia mengucek-ngucek matanya, untuk memastikan penglihatannya sekarang.
"Ini bukan ruangan, melainkan alam terbuka. Namum semua terlihat banyak warna putih? Siapa aku dan aku dimana sekarang?" Arya kebingungan, dia berjalan seperti orang linglung, tempat sunyi mencekam, tidak ada seorang pun yang ditemui nya. seketika dia berteriak kencang, memegangi kepalanya yang terasa amat sakit saat mencoba mengingat-ingat tentang siapa dirinya termasuk tentang keberadaan nya sekarang.
"Tenangkan dirimu nak."
"Papa?"
Seorang laki-laki tua, berambut putih dan terlihat sudah dimakan usia tersenyum kearah Arya, menghampirinya didampingi seorang sepasang suami-istri berpakaian serba putih.
"Si...siapa kalian.?" ucap Arya terbata-bata. dengan kedua tangan masih memegangi kepalanya karena sakit.
"Kamu tidak usah memaksakan diri, untuk mengingat kembali semua tentang masa lalumu. yang penting berusaha lah untuk kembali karena istri mu Bunga, anakku tengah menunggumu, kamu kehilangan ingatan karena benturan keras yang menghantam bagian kepalamu." ucap seorang yang seperti ayah kandungnya.
"Istriku?"
Arya kembali kesakitan dialam bawah sadarnya, berteriak-teriak hingga tubuhnya terasa mengecil dan memasuki sebuah lorong panjang. namun semakin berusaha untuk terjaga, beban berat masih menghimpit kedua matanya, sehingga sangat sulit untuk dibuka.
Sakit dikepala Arya sedikit banyak mulai berkurang, seiring dengan ingatan nya yang kembali membaik.
"Bella."
Wanita pertama yang diingat Arya, beberapa adengan masa-masa indah nya bersama Bella kembali melintas, tidak begitu lama datang lagi bayangan seorang wanita cantik. senyuman nya begitu tulus dan sangat cantik, yang umurnya jauh lebih muda dibandingkan dirinya dan Bella.
Lama Arya tertegun menatap bayangan cantik itu, hingga senyuman mengembang dibibir Arya, membalas senyuman manis dihadapannya.
"Bunga, istri imut kesayangan ku." ucap Arya.
Rasa rindu, seketika membuat Arya berusaha untuk kembali tersadar dari tidur panjangnya, dia berusaha untuk menggerakkan anggota tubuh nya. termasuk membuka mata. hal pertama yang ingin sekali Arya lihat adalah Bunga dengan senyuman nya, ingatan nya seperti terlupa akan adanya Bella yang menjadi istri pertamanya.
__ADS_1
***
Malam ini Vira mulai resah, bayangan wajah dosen yang semula sangat dibencinya itu, perlahan namun pasti mulai mengusik ketenangan Vira. bahkan setiap dia ingin memejamkan mata, wajah tampan Ardian langsung muncul di pelupuk mata seakan-akan mengikuti kemana gadis itu melangkah.
"Aku harus bagaimana, semakin aku berusaha untuk menghindar dan membenci dosen itu. bayangan nya semakin mengikuti ku. aaaagghhh benci.... benci....." mengusap kasar wajahnya.
Untuk mengurangi kegundahannya, Vira mengusap ponselnya. mencoba membuka galeri foto untuk sekedar mengalihkan perhatiannya yang terus teringat Ardian.
Tiba-tiba ide gila kembali muncul dipikiran gadis itu, tanpa sadar dia kembali menonton Film dewasa. yang biasanya selalu ampuh untuk mengembalikan moodnya yang jelek.
"Lama-lama kenapa wajah laki-laki pemeran Film dewasa ini sangat mirip dengan Ardian dosen galak itu," Vira memperjelas penglihatan nya, namun semakin dilihat semakin jelas jika itu Ardian, sedangkan pemeran wanita nya yang langsung berubah menjadi dirinya sendiri, yang sedang menikmati adegan panas itu bersama Ardian.
"Aduuh...aku benar-benar gila karena laki-laki itu." Melemparkan asal ponselnya. hingga tanpa sadar Vira tertidur begitu saja, dan melalaikan kembali tugas-tugas yang diberikan Ardian kepada nya.
Besok nya di campus "Astaghfirullah....aku kembali lupa jika ada tugas dengan pak Ardian. termasuk hukuman tugas-tugas sebelumnya. mati aku...." Vira memukul pelan jidatnya sendiri.
"Mendingan ngak usah masuk jam mata pelajaran atau aku pura-pura sakit dan kembali pulang?" Gumam Vira sambil memainkan anak rambut panjang, namun dia tiba-tiba langsung kelimpungan mencari tempat untuk bersembunyi. karena melihat Andrian dengan langkah panjang berjalan mendekati nya.
"Buka matamu." terdengar nada suara Andrian yang dingin.
Dengan mata yang terlihat masih tertutup, Vira mencoba mengintip perlahan-lahan membuka sedikit matanya.
"Kamu tahu kesalahanmu kali ini?"
"Ya...tahu pak, tapi serius saya benar-benar tidak sengaja melupakan setiap tugas dari bapak. lagian ini salah bapak juga. ngapain menghukum ku dan memberikan tugas-tugas sebanyak itu ." sambil mengangkat dua jarinya.
"Oooo, jadi kamu menyalahkan aku. satu tugas saja tidak pernah selesai kamu kerjakan."
"Iya, memang sepenuhnya itu kesalahan bapak kok." Vira langsung menutup mulutnya ketika menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Apa?" Andrian menatap lekad wajah Vira, yang tiba-tiba berubah pucat dan mundur beberapa langkah.
"Maaf pak, saya tidak bermaksud berbicara seperti ini." Vira menyesali kecerobohan nya. dia pun mengatup kedua tangan nya keatas. berharap nilai-nilai mata pelajaran nya tidak dibuat hancur oleh Ardian setelah kejadian demi kejadian yang menimpa mereka.
"Sekarang ikut keruanganku!" ucap Andrian karena tidak ingin menarik perhatian mahasiswa lainnya. tanpa mendengar persetujuan dari Vira, Andrian langsung berjalan menuju ruangannya. mau tidak mau, mahasiswi kesayangannya itu terpaksa mengikutinya.
"Pak kok pintu nya dikunci?" teriak Vira begitu sadar, setelah memasuki ruangan Andrian pintu langsung dikunci oleh laki-laki yang dianggapnya sangat menyebalkan.
"Terserah saya dong, ruangan ini miliki saya." berjalan santai menuju kursi kekuasaan nya. duduk sambil melipat kedua tangannya, menatap Vira yang terlihat gugup dihadapannya.
"Syukurlah, ternyata dia duduk dikursi saja. padahal semula aku berfikir dia akan berbuat buruk, meskipun kemungkinan aku tidak bakal menolak. paling juga aku bakal minta nambah." Gumam Vira mengulum senyum, ketika pikiran mesumnya semalam kembali melintas.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, aku tahu kamu bukanya takut aku kunci dari dalam." ucap Ardian mengulum senyum.
"Memang iya, karena aku tahu bapak dosen yang baik." mengeluarkan senyum termanisnya. yang membuat Ardian sempat terkesima, namun dia kembali menguasai keadaan.
"Aku harus kuat dengan perasaanku sendiri, dan tidak boleh ketahuan gadis ini jika aku mulai tertarik melihat pesona nya, aku harus menjaga wibawa ku dihadapannya." Gumam Ardian.
Meskipun sesungguhnya, Vira menarik nafas lega, karena Andrian tidak melakukan hal buruk seperti yang dibayangkan gadis itu.
"Sekarang apa mau bapak, dengan membawaku keruangan ini?" tanya Vira yang masih merasa penasaran. Andrian melemparkan beberapa lembar kertas keatas meja kerja nya.
"Perhatikan semua tugas dan nilai-nilai mata kuliahmu, yang kebanyakan hancur karena kelalaianmu." terang Andrian.
Tangan Vira perlahan terangkat mengambil kertas yang diberikan oleh Andrian, dia memperhatikan nilai-nilai nya. selain kemampuan berpikir Vira yang dibawah standar, dia juga sangat lalai.
"Bagaimana apa kamu puas dengan nilai-nilaimu, atau ingin aku buat kamu mengulangi lagi?"
"Duh, jangan deh pak. Vira janji akan berusaha sebaik mungkin."
__ADS_1
"Aku sudah bosan dengan janji-janji manismu." tersenyum seakan-akan meremehkan Vira.
"Tidak, aku tidak ingin mengulang kembali. aku harus bisa merayu dosen jomlo akut ini."