
Arya berjalan mendekati Dani, dia sangat paham dan merasakan kesedihan yang dialami Dani saat ini, bagaimana pun juga dia pernah kehilangan bayi dalam kandungan Bunga, saat dia tengah hamil muda dulu nya, meskipun dia sudah mengikhlaskan dan mulai belajar memaafkan Bella, tapi rasa sedih dan sakit nya kehilangan tidak mudah baginya untuk melupakan nya begitu saja.
Setelah kejadian itu pun, Bunga kesusahan untuk kembali hamil anak kedua, mereka cukup lama menunggu hingga harapan mereka kembali terkabul kan, selepas perjalanan indah mereka berdua yang menikmati liburan dengan kapal pesiar mewah.
"Dani yang sabar ya, sebaiknya kita berdoa yang terbaik untuk kesembuhan Bella."
Ucap Arya seraya mengusap pelan bahu Dani, namun Dani hanya menunduk dalam-dalam, kesedihan dan rasa kehilangan Bayi nya membuat dia terlihat sangat terpukul.
"Sebaiknya kita bantu Bella dengan doa, nak. semoga dia bisa melewati masa kritis nya." ibu ikutan bicara, mengusap air mata yang lolos di kedua pipinya yang sudah termakan usia.
Dani hanya mengangguk pelan membalas ucapan mereka, tatapannya Kosong kedepan. pikiran nya masih teringat saat sebelum Bella dipindahkan ke ruangan UGD. istri nya saat itu sempat kejang-kejang dan kembali pendarahan.
"Bella, semoga kamu kuat melewati semuanya, aku tidak sanggup kehilangan kamu juga, setelah bayi kita."
Dani berdiri dan berjalan seperti orang linglung, Arya mengikuti langkah kakinya dari belakang. nampak Dani memasuki musholla Rumah Sakit setelah berwudhu pria itu, melakukan sholat dengan khusyuk, Arya masih setia mengikuti dan ikut sholat disebelah nya.
Begitu banyak masalah yang dihadapi Arya, namun entah mengapa dia tidak bisa meninggalkan Bella dan Dani disaat situasi dan kondisi yang Kritis seperti ini, sehingga dia menyerahkan tugas dan tanggung jawab pekerjaan nya pada orang kepercayaan nya, termasuk tentang pencarian Rey asisten pribadi nya yang masih menghilang.
Dani mengangkat kedua tangannya yang bergetar menahan tangis, dia terlihat sangat menyedihkan.
"Ya Allah.... hanya pada mu aku meminta dan berserah diri....
Sembuhkan lah istriku...aku tidak sanggup melihat nya kesakitan seperti itu..., aku takut sekali dia akan pergi meninggalkan ku.
Ya Allah... sembuhkan istri ku dan panjang kanlah umurnya untukku.... beri kami kesempatan untuk bertaubat dan menebus kesalahan kami pada orang yang sangat baik, mas Arya."
Nampak air mata lolos dari kedua pipi Dani, yang masih terlihat khusyuk berdoa, Arya meninggalkan Dani karena teringat istrinya Bunga, yang sudah dari kemaren belum sempat dia kabari.
Arya berjalan cepat agar segera sampai di kursi taman Rumah sakit, sambil mengeluarkan ponsel nya membuka daftar kontak istri ku sayang, dari kejauhan sekilas Arya seperti melihat sosok Rey berjalan tergesa-gesa menuju apotik dan menebus obat, nampak raut wajah Rey terlihat gusar dan sedih. namun saat Arya kembali memperjelas penglihatan nya, sosok Rey yang sempat dilihatnya menghilang begitu saja.
"Mana dia?" Gumam Arya.
"Tidak ...tidak mungkin itu Rey, ngapain dia firunah sakit pusat kita yang sangat jauh ini, dan dia menebus obat? untuk siapa jika itu benaran Rey?" bergumam sendiri.
__ADS_1
"Hallo mas," terdengar suara Bunga yang penuh dengan nada kerinduan pada Arya.
"Hallo juga istriku sayang, kamu apa kabarnya?"
"Alhamdulillah mas, aku baik-baik saja termaduk bayi kita dalam perutku ini." jawabnya antusias.
"Mama dan Cecilio?"
"Mereka juga sehat mas."
"Alhamdulillah,"
Arya cukup lega, setiap menghubungi Bunga. hal pertama yang sering ditanya Arya terlebih dahulu adalah kesehatan dan kondisi orang-orang tercintanya.
"Mas, ngak kenapa-napa kan?"
"Sayang, ditempat kerja mas bertemu dengan Bella. dia sudah menikah dengan Dani tapi...dia"
"Alhamdulillah, aku ikut Senang mas, jika mbak Bella bahagia. tapi dia Kenapa mas?"
"Astaghfirullah mas, aku ikut prihatin mendengar nya mas."
Mama Sinta yang tengah bermain dengan Cecilio ikut mendekat, karena Melihat Bunga yang terlihat syok.
"Bunga kamu kenapa nak?"
"Ini mas Arya yang telpon ma."
"Bawa sini, Mama pengen ngobrol."
Bunga memberikan ponsel nya tersebut pada Mama mertua.
"Halo, assalamualaikum Ma."
__ADS_1
"Waalaikumsalam nak, kamu apa kabarnya?"
"Aku sehat ma."
"Syukurlah nak, tadi Mama lihat Bunga terlihat syok. apa yang terjadi Arya?"
"Aku disini bertemu Bella ma, dia sekarang sedang kritis dirumah sakit pusat. pasca keguguran."
"Ya Allah Bella, kasihan sekali kamu nak."
"Baiklah nak, Mama akan kesana bersama Bunga dan Cecilio."
"Ya ma, Arya tunggu."
Setelah menutup panggilan, Sinta mengajak cucu dan menantunya untuk bersiap-siap, meskipun dia tidak sanggup berbicara terus terang pada Cecilio kecil, tentang kondisi terkini maminya Bella.
Mama Sinta juga langsung menghubungi kedua orang tua Bella, meskipun mereka sempat syok dan menangis haru mendengar berita anak satu-satunya yang pendarahan dan koma dirumah sakit, bahkan Bella belum juga sadar pasca kejang-kejang dan kehilangan banyak darah.
"Bella anakku hu...hu...hu..." Mama Bella langsung pingsan, papa Bella dengan sigap menangkap tubuh istri nya yang ambruk dengan air mata yang masih membasahi kedua pipinya.
"Mama... bangunlah. kita harus kuat dan segera menuju kerumah sakit untuk melihat kondisi anak kita ma." papa berusaha untuk menyadarkan istri nya kembali. meskipun saat ini dia juga sangat rapuh memikirkan Bella.
Arya kembali duduk di kursi ruang tunggu Rumah sakit, tidak banyak obrolan yang keluar dari mulut mereka, karena perasaan cemas dan takut membuat mereka lebih memilih untuk diam sambil berdoa dalam hati.
Selama perjalanan, kedua orang tua Bella terus gelisah dan berdoa demi kesembuhan Bella. air mata terus membanjiri wajahnya. begitu juga dengan Cecilio, tiba-tiba dia mersa sedih. otak kecilnya berkata jika kondisi Mami yang sangat dirindukan nya pasti dalam keadaan tidak baik-baik, dia bisa melihat raut wajah sedih oma dan Mama Bunga, yang lebih banyak diam selama perjalanan.
"Oma, Mami Cio kenapa?"
"Ngak Papa sayang, yang penting sekarang Cio terus berdoa demi kesehatan Mami ya sayang."
"Iya Oma." menengelamkan tubuhnya kepelukan Oma, meskipun dia mersa cemas dan takut kehilangan Mami nya kembali.
"Kenapa aku merasa perasaan ku tidak enak begini..., aku begitu cemas dan takut seperti ada sesuatu yang buruk. semoga kamu ngak kenapa-napa mbak Bella. " Gumam Bunga meremas jemari tangannya yang tersa ikut-ikutan dingin. sedingin suasana dalam mobil yang terus melaju menuju rumah sakit.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai keluarga Arya sudah memasuki pelataran Rumah sakit, tidak begitu lama mobil kedua orang tua Bella juga sampai. mereka berbarengan menuju tempat Bella dirawat.
Sebuah ruangan VVIP, yang cukup luas, sehingga mereka bebas untuk masuk, tapi tidak bisa bertemu dengan Bella, karena dia masih mendapatkan penanganan intensif dari tim dokter.