
"Aku harus berhasil kabur dari laki-laki ini, dia sangat berbahaya tidak seperti yang aku pikirkan."
"Kenapa obat perangsang yang aku berikan barusan tidak membawa pengaruh apa-apa pada laki-laki tampan ini, meskipun terlihat beringas dengan tatapan mata nya yang tajam.
Saat melihat Rey sedikit lengah, Citra langsung berdiri mengambil ancang-ancang untuk segera kabur. dia mersa rencana yang sudah disusun sedemikian rapi akan gagal, mengingat Rey sudah menangkap basah dirinya sebelum niatnya untuk menjebak laki-laki CEO perusahaan besar ini jatuh kedalam pelukannya.
"Satu... dua...tiga..."
Citra menghitung dalam hatinya, dan langsung berlari menuju pintu yang tidak terkunci rapat.
"Hey tunggu, kamu tidak bisa lepas begitu saja dari ku bocah, sebelum kamu mempertanggungjawabkan perbuatanmu." Teriak Rey berusaha untuk mengejar Citra yang terus berlari melalui pintu belakang.
Langkah panjang Rey terus mengikuti Citra menebus kegelapan malam, Rey terus mengejar dan mengejar gadis cantik itu, yang sudah terlihat kecapean dengan nafas yang sudah ngos-ngosan, namun Citra tidak pernah menyerah, sesekali dia berhenti mengatur pernafasannya dan kembali melanjutkan berlari, sebisa mungkin dia terus menghindar dari kejaran Rey.
"Hey tunggu, tidak kah kita berdua bisa menyelesaikan permasalahan ini secara baik-baik, tidak harus kabur seperti ini." Teriak Rey.
Citra tidak mengindahkan perkataan Rey, meskipun tenaga nya sudah mulai melemah, berlari diantara pasir serta udara malam yang dingin menusuk kulit putih bersih nya yang bercampur keringat dingin membasahi sekujur tubuh itu.
Deru ombak yang saling bersahutan, menyadarkan Rey, jika dia sudah berlari cukup jauh dari tempat nya semula. seketika dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling hamparan pasir dan lautan lepas.
"Ya Tuhan, dimanakah aku?"
Ray kebingungan, diliriknya Citra yang juga sudah kelelahan. gadis itu terhenyak lemas seakan-akan tidak mempunyai tenaga untuk bangkit apalagi berlari menghindar dari Rey yang sudah semakin mendekati posisinya sekarang.
"Sekarang kamu tidak akan bisa menghindar dariku, menyerahlah. aku janji tidak akan pernah menyakiti dirimu, apalagi kamu seorang wanita. tidak baik terus berlari dikegelapan malam seperti ini karena sangat bahaya bagi seorang gadis yang masih belia seperti dirimu dek." terang Rey melunak.
Citra yang semula ingin bangkit dan berlari kembali, mulai terlihat bimbang, Rey mengulur kan sebelah tangan kanannya ke arah Citra, dia ingin membantu gadis kecil, namun terlihat sangat cantik, untuk kembali berdiri.
__ADS_1
Citra yang masih ragu, tidak menerima uluran tangan Rey, dia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya dalam-dalam. tanpa tersa cairan bening membasahi wajah cantiknya. dia menyesal teringat perbuatannya, namun dia terpaksa dan tidak mempunyai pilihan lain. Bayaran yang diberikan untuk menggoda bos perusahaan ini begitu mengiurkan, ditambah lagi hidupnya yang susah semenjak kepergian kedua orang tua nya dengan meninggalkan adiknya yang sakit-sakitan, membuat Citra tanpa pikir panjang menerima tawaran tersebut.
Bahkan dia harus menonton beberapa kali Film dewasa, agar bisa menggoda dan mendapatkan CEO tampan yang dihadapannya ini, dia tidak tahu juga dia berhadapan dengan orang yang salah.
Rey duduk disebelah Citra yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam, entah kenapa. dia mersa kasihan melihat gadis kecil yang terlihat tertekan dan dia yakin jika gadis ini adalah wanita baik-baik, ada seseorang dibalik ini semua, Gumam Rey.
Perlahan Rey membuka jaket yang semula digunakan Rey sebagai pengganti selimut nya sewaktu tidur diruangan bos Arya, dia melekatkan jaket tersebut ketubuh Citra yang meringkuk kedinginan.
"Jangan takut padaku, aku akan melindungi mu." ucap Rey yang membuat Citra langsung mengangkat kepalanya melirik laki-laki tampan disampingnya.
"Benarkah Anda mau menolong ku?"
Cinta menatap bola mata Rey, untuk melihat kesungguhan Ucapan nya, meskipun dengan pencahayaan yang temaram, namun Citra bisa melihat jika Rey sungguh-sungguh.
"Ya."
"Maafkan aku sebelumnya Tuan, aku Terpaksa melakukan ini. agar bisa menjebak dan mengsuaimu dan tidak melanjutkan lagi mengusut kasus permasalahan perusahaan kalian disini, terutama kasus penggelapan uang yang dilakukan oleh bang Baron, yang tidak lain adalah sepupu ku sendiri.
"Ya, dia memberikan aku sejumlah uang untuk melakukan ini semua."
"Tega sekali Baron terhadap mu, dan kamu kenapa mau saja melakukan perintahnya, bahkan rela mempertaruhkan harga dirimu sendiri."
"Aku terpaksa dan tidak mempunyai pilihan lain lagi, adikku sakit-sakitan dan butuh banyak biaya untuk pengobatan nya, sedangkan kedua orang tuaku sudah meninggal dunia, hanya dia yang aku miliki sekarang."
"Keterlaluan Baron."
Rey mengepalkan tangannya emosi, dia sangat marah dan curiga selama ini pada manager perusahaan yang sengaja ditempatkan pada bagian produksi hasil perkebunan Arya yang sangat luas ini.
__ADS_1
"Manusia serakah kamu Baron, apa kamu tidak mempunyai malu. dengan memberikan uang haram untuk keluargamu hidup mewah. dan menekan gaji para buruh perkebunan. serta karyawan pabrik ini, dan sekarang dia juga mengorbankan saudara sepupunya sendiri untuk melancarkan aksinya, benar-benar gila." Rey sangat marah.
"Tuan, aku minta tolong padamu. lindungi aku dan adikku dari kemarahan bang Baron, aku yakin jika dia akan marah besar begitu tahu aku telah gagal menjalankan misi dan perintah nya." Citra kembali menangis menyesali kecerobohan dan kebodohannya.
"Ya, sesuai janjiku, aku akan melindungi mu dari laki-laki biadab itu Citra, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui tentang ku."
"Apa itu Tuan?"
"Aku bukan lah bos besar seperti yang kamu pikirkan. melainkan aku adalah Rey, asisten pribadinya bos Arya. pemilik pabrik dan perkebunan yang sangat luas ini."
"Dan seandainya kamu pun berhasil untuk menggoda ku, percuma karna kamu sudah salah orang."
Lama Citra tertegun, pikiran gadis remaja itu tengah berkecamuk, antara terkejut dan rasa bersyukur. mengingat dirinya yang masih suci, termasuk tentang nasibnya yang hancur jika mereka berdua benar-benar melakukan hubungan terlarang, sedangkan Rey orang yang salah, belum lagi dia harus menerima amukan Baron nantinya.
"Citra, sebaiknya aku antarkan kamu kembali pulang."
"Ya Tuan, sekali lagi terimakasih atas kebaikan Tuan."
Rey menuntun Citra kembali menelusuri pasir dengan hembusan angin laut yang sangat kencang, membuat mereka kedinginan. seiring dengan suara petir dan kilatan dilangit yang membuat Citra memegang tengkuknya karena takut.
"Citra, sebaiknya kita berdua mencari tempat untuk berlindung. sepertinya akan ada hujan badai yang sangat lebat."
"Iiiiya tuan."
Mereka berlari, Rey memegangi tangan gadis itu agar mempercepat langkahnya menunju sebuah Gubuk tua yang tidak berpenghuni. hujan yang turun sempat membasahi tubuh kedua pasangan yang baru saling mengenal itu sebelum mereka berdua berhasil mencapai gubuk.
Pegangan tangan Citra sempat terlepas, mengingat dia sudah benar-benar kecapean.
__ADS_1
"Bertahan lah Citra."
Rey kasihan menatap gadis itu, kedua belah tangannya langsung merengkuh tubuh Citra dan membawanya masuk kedalam gubuk kosong yang gelap tanpa pencahayaan sedikit pun.