
Bunga *******-***** tangannya yang tersa dingin mendadak, ketika berjalan menelusuri koridor Rumah sakit besar dan terkemuka di kota ini, dia harap-harap cemas dengan hasil pemeriksaan kesehatannya nanti.
"Bunga, sini kita daftar dulu."
"I...Iya ma."
Setelah Mendaftar mereka langsung Menuju ruang dokter, langkah kaki Bunga semakin lambat, keringat dingin membasahi wajah cantik mulusnya. ketika mereka sudah berada didepan ruangan khusus dokter.
"Bunga, kamu jangan gugup seperti ini nak. kita harus tetap santai, dengan apapun keputusan dari dokter nantinya." bujuk Mama mengelus rambut Bunga, lalu menggandeng tangan Bunga masuk keruang pemeriksaan dokter spesialis kandungan.
"Selamat siang dok." sapa Mama dan Bunga ramah.
"Silahkan duduk, ibu."
Mama dipersilahkan oleh dokter duduk di kursi didepan meja kerja nya, sedangkan Bunga sudah berbaring diranjang, dokter mulai memeriksa termasuk urine Bunga.
"Bagaimana dok?"
Mama langsung bertanya, terlihat wajahnya yang tegang, tidak sabaran lagi dengan hasil pemeriksaan dokter.
"Selamat Putri ibu tengah hamil muda, kalau saya boleh tahu. mana suami anak Ibu?"
"Ada, dia sedang berada dikantor dok, Bunga ini menantu saya." terang Mama sambil melirik Bunga, mereka berdua sama-sama tersenyum bahagia mendengar berita ini.
"Benarkah saya hamil dok?"
"Benar dek, dan masih semester awal yang perlu dijaga dengan sebaik mungkin."
Tanpa terasa air mata Mama dan Bunga mengalir, mereka berdua terharu, tangan mungil Bunga mengelus-elus pelan perutnya yang masih terlihat datar.
"Sayang, kamu sehat terus ya diperut Mama. karena cuma kamulah satu satunya harapan kami dan juga sumber kebahagiaan kami, nak." Gumam Bunga dengan senyuman yang selalu menghiasi bibirnya.
"Ini ada beberapa resep vitamin, dan juga obat untuk mengurangi rasa mual dan pusing, Bunga. ini sudah biasa dialami wanita yang hamil muda."
"Baik, terimakasih sekali lagi dok." balas mama sambil mengambil kertas resep yang diberikan oleh dokter barusan.
"Hati-hati sayang."
Dengan penuh perhatian Mama menuntut Bunga berjalan, dia semakin perhatian dan tidak ingin sesuatu terjadi pada menantu dan calon cucunya.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini dulu ya, Mama mau tebus obatnya dulu."
"Baik ma."
Bunga duduk di sofa ruang tunggu, dan kembali mengelus-elus penuh kasih sayang perutnya.
"Apa aku kasih tahu mas Arya sekarang? atau aku akan kasih kejutan nantinya." Gumam Bunga sambil memegang ponselnya, namun dia masih mersa ragu untuk menghubungi suami tercintanya itu sekarang.
Dikantor nya, Arya baru menyelesaikan pemeriksaan dan rapat kecil dengan para petinggi perusahaan, dia berjalan keluar dari ruang rapat, menuju ruangan kerjanya sendiri.
Arya menghempas tubuhnya yang lelah karena urusan pekerjaan pada sandaran kursi kebesarannya, tiba-tiba dia teringat Bunga, rasa rindu dan ingin menghubungi istri nya, segera membuat Arya menyambar ponselnya. untuk melakukan video call dengan Bunga.
Bunga yang masih menunggu Mama mertuanya, langsung kaget begitu getaran panggilan masuk Vidio call dari suami tercintanya masuk.
"Mas Arya, dia Vidio call. apa aku harus memberi tahu kehamilan ku sekarang, tapi ngak jadi kejutan dong." Gumam Bunga.
"Ada apa Bunga, siapa yang telpon?"
Mama sudah kembali dari menebus resep obat dan Vitamin, diapun duduk disebelah Bunga.
"Mas Arya ma."
"Iya juga, ma."
Bunga belum juga mengangkat panggilan dari suaminya, sehingga panggilan masuk itu berlalu begitu saja.
"Kenapa Bunga tidak mengangkat panggilan ku?"
Arya kembali mengulangi panggilan kedua, dia mersa Kawatir pada istrinya. deringan kedua Bunga langsung mengangkat sambil tersenyum melambaikan tangan yang memenuhi layar ponsel suaminya, Arya seketika tersenyum lega melihat tingkah Bunga yang lucu dan masih terkesan imut dan manis. mengingat umurnya yang masih sangat muda.
"Hallo suamiku sayang."
"Sayang, kamu dan Mama lagi Dimana?"
"Kami lagi....? Mas tebak aja kami dimana?"
"Kok jadi main tebak tebakan sih sayang." ucap Arya sambil memperhatikan sekeliling tempat keberadaan sang istri, yang terlihat banyak pengunjung, semula dia menyipit kan Mata untuk mempertajam penglihatannya.
"Sayang, itukan Rumah sakit. siapa yang sakit, kamu atau Mama?"
__ADS_1
Nada suara Arya langsung berubah cemas sambil memperhatikan raut wajah Mama dan istrinya, namun Arya dibuat Bingung. mengingat wajah Mama dan Bunga yang berseri-seri yang memancar kebahagiaan, tidak terlihat tanda dia kesakitan.
"Bunga, tunggu kedatangan mas disana sekarang. jangan pergi kemana-mana dulu sebelum aku sampai ." ucap Arya, langsung berdiri dan menyambar kunci Mobil nya, berjalan tergesa-gesa.
"Maaf bos Anda mau ke mana?"
Rey menatap heran sang bos besarnya, yang berjalan tergesa-gesa keluar dari ruang kerja nya.
"Rey kamu handel dulu semua pekerjaan ku, karena aku sedang ada keperluan yang jauh lebih penting." ucap Arya melanjutkan kembali berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
"Ada apa sih, sepertinya Mama dan Bunga sengaja ingin bermain tebak-tebakan dengan ku sekarang?" Gumam Arya mulai meluncur menuju Rumah sakit yang nbetlokasi tidak jauh dari perusahaan nya.
"Ma, ternyata mas Arya begitu penasaran, ya."
"Iya, dia langsung bela-belain datang kesini. biar aja Bunga. aku ingin sekali melihat raut wajah kebahagiaan putraku." balas mama tersenyum.
"Iya ma, semoga kehamilan ku ini selaku sehat dan kuat.." Bunga kembali mengelus-elus perutnya, rasanya begitu tenang dan nyaman membayangkan jika diperut nya sekarang ada nyawa seorang bayi mungil yang lucu dan imut, hasil dari buah cintanya dengan suaminya Arya.
"Bunga, Mama."
Kedua refleks menoleh kearah asal suara Arya, yang baru datang tiba-tiba, nampak laki-laki tampan itu terlihat ngos-ngosan mengatur pernafasan nya.
"Mas Arya, kok bisa keringatan begini. Mas habis lari maraton ya datang kesini." Bunga mengelap dahi dan wajah Arya yang berkeringat dengan penuh cinta.
"Iya, mas udah ngak sabaran lagi. kamu dan mama ngapain disini, dan wajah kalian berdua tidak seperti orang kesakitan. malah sebaliknya tersenyum terus dan berbinar-binar bahagia."
"Tentu dong, memang kami berdua lagi bahagia banget Arya."
"Iya mas."
"Emang ada apa?"
"Ini, mas silahkan baca dan cek sendiri setiap tulisan dan penjelasan di kertas ini." Bunga menyerahkan hasil pemeriksaan nya ketangan Arya.
Dengan rasa penasaran, Arya langsung membaca setiap tulisan di selembar kertas putih itu, dengan mimik wajah serius, namun seketika wajah dan ekspresi serius Arya langsung berubah menjadi senyuman indah, yang hampir mencapai kupingnya. saking lebar dan bahagianya nya hati Arya saat ini.
"Alhamdulillah, Bunga. kamu benaran hamil sayang?"
"Benar mas, Allah mendengar dan mengabulkan doa-doa kita selama ini mas." jawab Bunga yang langsung menghambur kepelukan Arya. keduanya menangis haru dan penuh kebahagiaan, Mama ikut menimpali pelukan hangat anak menantunya.
__ADS_1