
Beberapa hari sempat dirawat dirumah sakit pusat, dokter pun menjadi jika Arya benar-benar sembuh. dia pun sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah.
"Hati-hati mas."
Bunga membantu memapah tubuh Arya berjalan pelan, masuk kedalam mobil yang telah menunggu mereka di depan pintu masuk rumah sakit. sedangkan Mama dan Cecilio memilih untuk menunggu Arya dirumah.
Bunga duduk dikursi belakang, sebelah tangannya bergelayut manja di lengan suami tercinta. senyum tidak pernah dlepas dari pasangan berbahagia ini. meskipun pencarian terhadap kasus penganiayaan Arya masih tetap dilanjutkan, namun mereka masih kesulitan melacak keberadaan Dani, Bella dan adiknya Anggi, yang ikut terlibat.
Meskipun kondisi nya sudah dinyatakan pulih, namun Arya masih belum bisa menerima sepenuhnya perbuatan mereka. bagaimana pun mereka bertiga harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di mata hukum.
"Sudahlah mas, jangan terlalu dipikirkan. mengingat mas juga baru sembuh." Bunga mengusap lembut tangan Arya, dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya.
"Ya Bunga, tapi mas masih kepikiran. mereka membawa Bella kemana? dan kenapa pihak berwajib tidak mampu mengacak keberadaan mereka. aku tidak akan tenang sebelum mereka bertanggung jawab." terang Arya.
"Aku mengerti mas, semoga saja kasus ini segera menemukan titik terangnya. dan mbak Bella juga ngak kenapa-napa mas." ucap Bunga. karena keasyikan ngobrol, mereka tidak mengka jika mobil yang membawa pasangan ini sudah berhenti diteras utama Rumah besar Arya.
"Papi..." Cecilio menghambur memeluk tubuh Arya, dia sangat merindukan papinya.
"Anakku sayang."
Kedua belah tangan Arya mengangkat tubuh kecil Cecilio, mencium kedua pipi anak kesayangannya lalu Mengendong masuk kedalam.
"Selama papi tinggal, Cecilio ngak nakal kan sama Oma?"
"Ngak pi, Cio kan anak baik."
"Pintar nya, mulai sekarang patuh dan nurut ya sama perkataan mama Bunga dan Oma."
"Iya pi."
"Arya, Bunga. kalian pasti masih capek. istrahat lah dulu dikamar, biar Cecilio bersama mana dulu." ucap Mama mengambil Cecilio dari pangkuan Arya.
"Baiklah ma."
"Cecilio, Mama dan papa istrahat dulu ya nak. nanti kita main bareng lagi ya sayang."
__ADS_1
"Ya Mama."
Bunga dan Arya memasuki kamar yang sudah lama tidak mereka tempati, masih terlihat rapi dan bersih. Arya merebahkan tubuhnya yang diikuti Bunga. mereka tidur sambil berpelukan. Rasa nya begitu nyaman jika berdua disamping Bunga.
***
"Bella, kamu kenapa sayang?"
Dani langsung panik dan syok, ketika melihat ranjang bekas ditiduri Bella terdapat bercak darah yang nembus dari bawahan gaun tidurnya. namun Bella hanya menanggapi kepanikan Dani dengan cuek.
"Cepat carikan aku pembalut sekarang." pinta Bella.
"Pembalut?"
"Ya, karena aku lagi datang bulan." jawab Bella terlihat ketus melihat sikap Dani.
"Ba.... Baiklah, tapi kamu ngak kenapa-napa kan?"
"Ya, ngak lah. gimana sih." menatap kesal.
"Aaaagghhh pusing," Ucap Dani panik ketika sudah berhadapan situasi sulit seperti ini.
"Bagaimana Dani, apa kamu sudah menemukan barang yang aku butuhkan?" Teriak Bella dari balik kamarnya.
"Belum, dan seperti nya benda yang kamu inginkan tidak bakalan ada ditempat seperti ini Bella." jawab Dani yang juga mulai kesal.
"Trus, aku harus bagaimana sekarang?" bela berjalan mondar-mandir.
"Pakai tissue Kan bisa." Dani melemparkan satu pack tissue kepangkuan Bella.
"Astaga Dani." Bella terhenyak lemas.
"Bella patuh dan menurutlah, jangan sampai kamu memancing kemarahan ku." bentak Dani. mau tidak mau Bella akirnya terpaksa mengunakan tissue, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh model cantik itu.
"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, aku harus mencari cara agar bisa kabur dari tempat ini." Gumam Bella sambil mengenakan tissue tersebut.
__ADS_1
"Bella, kamu kenapa begitu lama didalam?" Dani kembali mengedor-ngedor pintu kamar mandi dari luar kamar.
"I..iiIya aku segera keluar." Teriak Bella yang sudah berganti pakaian dengan yang lebih tertutup, dia susah membulat kan hatinya untuk kabur jika Dani sempat lengah.
Ceklek, membuka pintu kamar mandi, nampak wajah tegang Dani yang masih menatap nya. pancaran mata yang sulit diartikan oleh Bella, dengan apa yang sesungguhnya dipikirkan Dani sekarang tentang dirinya.
"Semoga saja laki-laki gila ini tidak mengetahui niatku." Gumam Bella yang kembali bersikap ramah pada Dani.
"Bella, aku tahu kamu pasti stres dan tertekan terkurung terus ditempat ini. hari ini kita akan menaiki sampan menuju pemukiman dan pasar tradisional terdekat. kamu bisa belanja sesukamu." balas Dani yang ikut melunak, ciuman hangat mendarat dibibir Bella.
"Benarkah Dani, aku sangat senang sekali mendengar nya." ucap Bella dengan mata berbinar-binar bahagia. tanpa sadar dia menghambur memeluk Dani, begitu juga Dani yang membalas pelukan Bella. membuat memori ingatan Bella berputar-putar pada masa beberapa tahun silam. mereka juga pernah berpelukan seperti ini. saat dani berhasil mengabulkan apapun keinginan nya dulu.
"Kenapa rasa ini kembali hadir, Dani memang tidak pernah berubah. dia masih sangat mencintaiku sama seperti dulu. tapi....tidak...tidakkk aku tidak boleh terhanyut oleh perasaan ini. aku milik mas Arya."
Gumam Bella.
"Ya...aku milik mas Arya." kata-kata ini terucap lirih dari bibir Bella yang langsung terdengar ditelinga Dani, suasana hati Dani yang semula sangat membaik dan bahagia berubah menjadi sangat memburuk, dia langsung menggertakan giginya menatap Bella.
"Apa kamu bilang barusan, kamu milik Dani. sadarlah Bella ingat kejadian diapartemen itu lagi. bukankah Arya sudah menalakmu."
"Tidak, mas Arya pasti tidak serius mengatakan hal itu." elak Bella.
"Tidak serius katamu? Ha....Ha...coba kamu pikir dengan logika sehat Bella. laki-laki mana yang masih mau menerima istri yang sudah melakukan hubungan terlarang dengan laki-laki lain, bahkan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri." Teriak Dani seolah-olah mencemooh Bella yang masih mengharapkan Arya suaminya.
"Kamu jahat Dani hu...hu...."
"Bella, jika Arya masih mencintaimu. tentu saat ini dia akan mencari-cari keberadaanmu sekarang?" ulang Dani.
"Mungkin dia masih sakit, atau jangan-jangan mas Arya sudah tidak ada lagi karena perbuatan kalian." Bella menatap tajam kearah Dani.
"Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan Bella, saat kecelakaan itu. aku mengirimkan orang-orang ku untuk menyelematkan Arya, meskipun kami kalah cepat dari istri nya Bunga dan Mama mertua mu yang langsung membawa Arya kerumah sakit." terang Dani.
"Syukurlah ternyata mas Arya selamat."
"Ya, Bella. bahkan dia sekarang sudah hidup bahagia bersama istri nya Bunga. mereka tidak pernah memperdulikan mu lagi." terang Dani.
__ADS_1
"Ya, kamu benar Dani. mungkin sudah saatnya aku melepas dan mengikhlaskan cinta mas Arya yang bukan untuk diriku lagi." ucap Bella serta mengusap air mata nya sedih.