
"Huuaaaoomm..."
Rey kembali menguap, mungkin ini sudah yang beberapa kalinya, sambil sesekali mengusap matanya yang sudah memerah. Rey melirik kopi hitam yang sudah kosong. dan meletakkan kembali cangkir tersebut ketempat semula disebelah laptopnya yang masih menyala.
"Rey, aku pikir sebaik kita kembali kepenginapan saja. untuk istrahat karena aku melihat Kamu yang sudah kelelahan dan ngantuk sekali." ucap Arya berdiri.
"Bos, sebaiknya malam ini aku tidur di sofa ruangan mu saja. karena aku sudah tidak tahan lagi untuk kembali kepenginapan." ucap Rey sambil merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang terdapat ditengah-tengah ruangan perusahaan Arya.
"Baiklah, kalau begitu malam ini kamu aku tinggal saja diruangan ini, karena aku harus mencari kualitas signal yang bagus . untuk menghubungi istriku Bunga." ucap Arya, namun tidak ada Jawaban lagi yang keluar dari mulut Rey, karena dia sudah tertidur pulas, dengkuran halus keluar dari sudut bibir nya dengan hembusan nafasnya yang terdengar lelah.
Rey...Rey, cepat jali kamu tidur." Gumam Arya melangkah keluar dari ruangan kerjanya, dia sudah tidak sabaran lagi untuk menghubungi istri cantik nya Bunga.
Ceklek.... membuka pintu, Arya langsung menuju ruang kamar penginapan nya, dia tidak ingin membuang-buang waktu untuk menghubungi Bunga. karena hanya di penginapan ini lah kualitas signal yang bagus.
Deringan kedua, panggilan Arya langsung diangkat oleh Bunga dengan suara manjanya.
"Assalamualaikum mas Arya."
"Waalaikumsalam sayang."
"Mas, gimana pekerjaan nya. apa udah kelar?"
"Belum sayang, kamu sabarya. mas janji bakal langsung pulang jika permasalahan ini Selesai secepatnya."
"Iya mas."
"Sayang, bagaimana dengan kandungan mu. Cecilio dan Mama juga. apa kalian baik-baik saja?"
"Alhamdulillah mas, kandungan dan kondisi kami semua dirumah dalam keadaan sehat. aku berharap mas disana juga jaga kesehatan ya, jangan terlalu sibuk dan kecapean."
"Iya sayang."
"Mas, Cecilio selalu menanyakan keberadaan maminya, dia sangat berharap mas membawa mbak Bella kembali pulang. bahkan dia selalu menanyakan kapan mas pulang membawa maminya."
Arya tercekat, da mersa kasihan sekali dengan anak satu-satunya, di usianya yang masih kecil, Cecilio harus menerima dan menanggung resiko keegoisan sang mami. meskipun Bella sering mengabaikan dan jarang memperhatikan Cecilio, tapi bocah itu tetap menyayangi mami yang sudah melahirkan nya ke dunia ini.
"Kasihan sekali kamu anakku." gumam Arya teringat Cecilio.
__ADS_1
"Bunga, kamu sering-sering ya ajak Cecilio main atau hibur dia. jangan biarkan dia bersedih seorang diri."
"Tentu mas."
"Sayang terimakasih ya karena selalu menjadi yang terbaik dan pelengkap dalam kehidupan ku dan anakku."
"Iya mas, karena aku mencintaimu dan Cecilio. termasuk Mama yang sudah aku anggap sebagai keluarga ku sendiri."
"Sayang, jangan lupa minum Vitamin dan susumu dengan teratur ya."
"Tentu mas."
"Bunga, udah dulu ya. mas capek dan ingin langsung istrahat saja, nanti mas hubungi lagi."
"Iya mas, jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan, sholat dan istrahat yang cukup ya, Mas."
"Iya sayang, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, suamiku."
Mereka menutup panggilan, Bunga pun Kembali melanjutkan tidurnya. memeluk guling erat seolah-olah itu adalah suami tercintanya Arya. tidak begitu lama Bunga sudah menuju alam mimpi indahnya bersama suami tercintanya.
"Sudah Malam."
Rey membuka Matanya yang tersa masih berat, sambil menatap jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, padahal dia tidur diruang Arya pukul tujuh senja hari, rasa capek karena terlalu sibuk beberapa ini bersama Arya, membuat Rey kecapean.
Bahkan dia mersa enggan untuk membuka matanya yang masih berat, dan kembali berbaring di sofa empuk itu. sambil melipat tangannya. untuk mengusir rasa dingin mengingat diluaran sedang hujan lebat. tanpa sadar Rey kembali tertidur begitu pulas.
"Muuaachh..... muuaachh."
Rey merasa seperti bermimpi, seseorang mendekap dan mencium lembut bibirnya, dan rabaan tangannya terus menyusuri setiap lekuk tubuh Rey, bahkan dia mersa sekarang tangan itu semakin berani menggerayangi tubuhnya yang masih perjaka itu.
Rey masih berfikir jika dia tengah mimpi basah, dengan mata yang masih terpejam Rey membalas ciumannya dan bibir mereka saling mengulum dan menikmati setiap sentuhan wanita itu ditubuhnya.
"Aaaagghhh..." terdengar ******* manja yang membuat gairah Rey semakin memuncak, ditambah lagi udara diluaran yang sangat dingin.
Perlahan namun pasti, Rey merasa kan resleting di bagian bawah nya telah dibuka, tangan lembut wanita itu bermain-main disana. Rey dengan susah payah mengumpulkan kesadaran nya. semakin dia berusaha semakin nikmat sensasi yang diberikan wanita itu, sehingga Rey seolah tidak bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
"Ini benar-benar indah dan tersa begitu nyata, aku tidak boleh terbangun dari mimpi indah dan memabukkan ini."
Rey terus memejamkan matanya, doa tidak ingin terjaga. dan berfikir jika dia tengah bercinta dengan seorang bidadari cantik yang turun ke bumi malam ini untuk menemaninya.
Suasana ruangan kerja Arya, dengan pencahayaan yang temaram, membuat Rey tidak bisa dengan jelas melihat wanita yang bercinta dengan nya. ditambah lagi Mata nya yang sangat berat untuk dibuka kembali.
"Hey,, siapa kamu? berani sekali kamu menyentuh tubuhku" Rey tersadar jika sedang tidak bermimpi, dia menguce-ngucek mata. mengumpulkan kesadarannya yang masih bertebaran karena permainan mereka barusan.
"Kenapa diam? kamu Manusia Khan?"
Rey meninggikan nada suara nya, meskipun saat ini tengkuk dan bulu Roma nya tiba-tiba berdiri, rasa takut mulai menghantui pria tampan yang susah lama menjabat sebagai asisten pribadi Arya tersebut.
Wanita itu diam tanpa menjawab, Rey meraba ponsel di saku celana nya, dia ingin memastikan wajah wanita yang duduk disampingnya ini. namun ponsel yang dicarinya sudah tidak ada sama sekali disaku kemeja maupun di atas meja dihadapannya sekarang.
" Kamu mengambil ponselku? Cepat serahkan sebelum aku berbuat kasar?"
Rey yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, ketika melihat wanita itu terus bungkam. Rey menarik tangannya kasar hingga wanita itu berteriak kesakitan dan berusaha untuk melepaskan tangannya
" Om lepas, tangan ku bisa patah." ujar nya mengelus-elus tangannya.
"Siapa kamu dan kenapa kamu bisa masuk keruangan ini?" ujar Rey seolah tidak percaya gadis kecil itu begitu berani bermain dengan tubuhnya.
"Aku...aku... Citra Om."
Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, dia tidak berani untuk mengangkat kepalanya keatas membalas tatapan Rey yang tajam, meskipun dengan pencahayaan yang temaram.
"Jawab, kenapa kamu bisa menyelinap dan masuk keruangan ini?"
"Aku...aku."
Gadis itu terlihat ketakutan, dia menjawab terbata bata dan kembali bungkam.
"Kenapa diam? apa ada seseorang yang membantu mu dan memerintahkan dirimu untuk masuk ke Ruangan ini? kamu harus mempertanggungjawabkan kesalahan dan perbuatan mu ini?"
"Jangan Om, orang-orang pasti tidak akan mengampuni Citra , please ya om." dengan memelas Citra berusaha membujuk Rey
"Apa kamu sadar dengan perbuatan mu barusan, dan sudah berapa kali kamu melakukannya dengan laki-laki lain?"
__ADS_1
"Belum pernah."