
"Mana bayi ku mas?"
Bella menatap lekat Dani, mencoba mencari jawaban dari suaminya tersebut. tapi Dani langsung menundukkan kepalanya dengan bibir yang bergetar. perasaan Bella kembali tidak menentu, antara cemas dan rasa takut jika kehilangan bayinya.
"Kenapa kamu diam mas?"
"Mama bayi Bella mana?"
"Mas Arya, Bunga. apa kalian mengetahui keberadaan bayi ku? dan apa dia baik-baik saja Khan?"
Bunga dan Arya ikutan gelagapan, mereka tidak berani bersuara mengingat Bella yang baru tersadar dari komanya selama beberapa hari ini, jika mereka berterus terang, mereka khawatir kondisi Bella akan kembali droup.
"Ma...mana bayi ku hu....hu.... tolong katakan, dia ngak kenapa-napa kan." Bella mulai menangis tubuhnya berguncang, Dani segera memeluk sang istri sambil mengelus punggung nya perlahan.
"Sayang, kamu tenang dulu ya."
"Gimana aku bisa tenang mas, aku selalu memikirkan bayi Kita. selama aku mengandung nya dia sering kesakitan. aku menyayangi nya mas... Bayi ku...."
Melihat Bella yang terus menangis dan menanyakan tentang bayinya, papa Bella memanggil dokter yang semula menangani Bella. mereka kembali memeriksa kondisi Bella. dan memberi obat agar Bella bisa beristirahat dengan tenang.
Reaksi obat membuat Bella sedikit tenang dan kembali tidur, untuk beberapa saat mereka terbebas dari pertanyaan Bella, tapi tidak untuk besoknya. Bella pasti akan menanyakan perihal bayinya.
"Kasihan mbak Bella ya mas."
"Iya sayang, semoga kamu dan bayi Kita tetap sehat-sehat saja ya. jika kamu merasa sakit atau sesuatu yang aneh, kamu langsung beritahu mas atau Mama, kita akan langsung periksa ke dokter." ucap Arya.
"Iya mas." balas Bunga sambil merebahkan kepalanya di bahu Arya.
Setelah melihat kondisi Bella yang mulai stabil, Arya mengajak keluarga kecilnya untuk kembali pulang. sedangkan Cecilio tidak ikut dengan Arya. dia masih ingin menemani dan menghibur Maminya yang masih bersedih.
"Ya udah sayang, kami pulang dulu. jagain mami dengan baik ya." pesan Arya sebelum pulang.
"Iya, papi."
"Muaacchh... muaacchh." Bunga mencium kedua pipi Cecilio, berat rasanya berpisah dengan bocah tampan itu, mengingat mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Arya membimbing tangan sang istri, berjalan menelusuri koridor menuju tempat mobil mereka terparkir. namun baru beberapa langkah berjalan, Arya kembali melihat sosok Rey, tapi kali ini dia berjalan sambil menggandeng gadis muda yang sangat cantik.
"Rey, Rey..."
Arya memanggil seseorang yang dilihat nya jika itu benar-benar Rey, laki-laki itu segera menoleh.
"Bos?"
"Rey, ternyata kamu menghilang dan berada dirumah sakit, dan siapa gadis disebelah mu?
"Maaf bos, ceritanya panjang. nama gadis ini adalah Citra."
"Oke, aku paham. sekarang sebaiknya ngobrol-ngobrol di kafe itu dulu.." tunjuk Arya pada salah satu cafe yang tidak terlalu jauh dari lokasi rumah sakit.
"Baiklah, bos."
"Ayo sayang." Arya menggandeng sebelah tangan Bunga.
Setelah menemukan tempat yang santai buat mereka ngobrol-ngobrol, Arya langsung menanyakan seputar menghilang nya Zein selama beberapa hari ini.
"Sekarang jelaskan lah Zein, termasuk tentang gadis remaja yang duduk disebelah mu ini?"
"Jadi seperti itu, berarti semua ini Biang keroknya adalah Baron." Arya mengepalkan tangannya emosi.
"Baron memang sudah tidak bisa dibiarkan lagi bos, dia tega ingin mencelakakan kami berdua. terutama Citra. karena dia tidak ingin kebusukan nya dibongkar oleh Citra, bahkan dia berhasil menembak tangan Citra hingga kami sampai kerumah sakit ini."
"Kurang ajar, Baron."
"Maaf bos, aku tidak sempat untuk menghubungi mu. mengingat ponselku yang ketinggalan dan situasi dan kondisi nya juga mendesak." terang Rey.
"Tidak masalah, aku sangat mengerti."
"Untuk sementara, Citra biar tinggal disini dirumah ku dulu, demi menjaga keamanan nya, sampai kita berhasil mengusut dan memenjarakan Baron serta kaki tangannya."
"Tapi, bagaimana dengan adikku." Citra ikutan bersuara.
__ADS_1
"Kami akan menjemput nya."
"Adikku Bagas, dia masih dalam perawatan. sewaktu malam itu aku menitipkan nya pada salah seorang tetanggaku."
Setelah mengantarkan bunga dan Citra kembali kerumahnya, Arya pun kembali menyelesaikan kasus perusahaan nya, termasuk Baron yang masih dalam pengawasan Arya dan anak buahnya, tidak butuh waktu lama bagi Arya, dia sidah berhasil menangkap kaki tangan Baron lalu menyerahkan mereka keuangan Pihak yang berwajib.
***
Beberapa hari dirawat dirumah sakit, Bella sudah dinyatakan sembuh. meskipun masih sangat terpukul atas kepergian bayinya, tapi Bella mencoba ikhlas, dan mulai fokus untuk menjaga dan merawat Cecilio.
"Mas, sebelum pulang aku ingin pergi ke!akan bayiku dulu." ucap Bella dengan !atau berkaca-kaca.
"Baiklah sayang."
Dani membelokan mobil nya ketempat pemakaman keluarga, dimana bayi mungil mereka sudah beristirahat dengan tenang, sebelum Bella sempat membuka mata dan melihat secara langsung wajah bayi mungilnya tersebut.
Langkah kaki Bella terayun pelan, sambil membimbing Cecilio dengan sebelah tangan nya, memasuki pemakaman. rasanya sangat berat kehilangan.
"Ya Tuhan, apakah ini ganjaran dari perbuatan ku dulu. aku dengan tanpa perasaan sudah membuat Bunga kehilangan bayinya, sekarang aku jga merasakan apa yang dirasakan oleh bunga dulunya. ya Tuhan maafkan aku." gumam Bella terus mengayunkan langkah.
Bella duduk di samping makam bayi yang masih basah, orangtuanya dan Dani tetap berjaga disebelah Bella yang mulai menangis.
"Anakku...ini Mama sayang, Mama datang mengunjungi mu dengan papa...kakak mu Cecilio, serta ada Oma dan opa, kami semua menyayangi mu sayang." Bella mencium dan memeluk nisan tersebut cukup lama dia menangis meluapkan emosi dan rasa kehilangan nya.
Dani membujuk Bella dengan lembut, mengajak istrinya untuk kembali pulang. mereka berdoa bersama sebelum melangkah meninggalkan pemakaman.
***
Beberapa bulan berlalu, kehidupan mereka semua sudah berjalan normal. Bella sudah ikhlas menerima keadaan nya, dia juga menemui Bunga dan Arya meminta maaf atas kesalahan dan perbuatannya dulu.
Begitu juga dengan Arya dan Bunga mereka memaafkan Bella dengan tulus, Arya pun memberikan kebebasan untuk Bella bertemu dan bermain dengan Cecilio.
Sedangkan Rey dan Citra mulai menjalin kedekatan mereka, Arya selaku bos juga memberikan pekerjaan dan tempat tinggal yang layak untuk Citra.
Begitu juga dengan Reyhan dan Vira yang tidak lama lagi akan mengelar pesta pernikahan mewah mereka. meskipun hamil tua, sebagai seorang sahabat Arya dan Bunga berencana untuk tetap hadir di pesta Reyhan dam Vira. dan memberikan sebuah kado pernikahan liburan ke sebuah pulau serta berlayar dengan sebuah kapal pesiar yang sangat mewah.
__ADS_1
Teman-teman, untuk part ini kita buat tamat dulu ya, sampai author punya ide menarik lagi untuk kelanjutan nya. thanks...sudah mengikuti Karya author, tunggu ya Novel selanjutnya........
... TAMAT...