Menjadi Istri Kedua Majikan

Menjadi Istri Kedua Majikan
Kehujanan


__ADS_3

"Oya, tapi sepertinya bapak terlihat menikmati dan sangat menyukai sentuhan wanita yang bernama Nadin itu. dan bapak juga tidak perlu lagi menjelaskan panjang dikali lebar padaku lagi, karena mataku berkata jujur dari pada penjelasan bapak sekarang." Vira akirnya terpancing emosi sehingga unek-uneknya keluar begitu saja.


"Please Vira percaya padaku, tataplah aku. lihat dan rasakan disana hanyalah ada kamu."


Vira perlahan mengangkat kepalanya, menatap mata Ardian. tatapan yang jujur dan penuh cinta. ingin rasanya Vira tenggelam dalam buaian tatapan Ardian.


"Vira, jujur lah pada perasaan mu sendiri,"


"Pak Ardian, aku tidak mencintaimu, jadi jangan paksa aku untuk mengakui nya." Vira mulai berjalan berusaha mengendalikan perasaan nya yang mulai luluh.


"Jika kamu tidak mencintai ku, lalu untuk apa semua ini. untuk apa kamu mesti marah, kesal bahkan menangis hingga menyendiri di taman ini, kalau tidak cemburu melihat kedekatan ku dengan Nadin?" Teriak Ardian yang menghentikan langkah kaki Vira.


Mau tidak mau Safira terpancing emosi nya kembali, dia membalikkan badannya berjalan mendekati Ardian.


"Ya bapak Ardian, aku mencintaimu. tapi sebelum kamu disentuh wanita lain. sekarang aku tidak mau lagi, apalagi di pipi mu masih membekas merah lipstik wanita sialan itu."


Vira menunjuk pipi sebelah kiri Ardian asal, dia sengaja memancing emosi Ardian, untuk melihat seberapa jauh perjuangan Ardian untuk mendapatkan hatinya kembali. padahal dia tidak melihat bekas lipstik sama sekali disana.


"Safira Sayangku, bahkan sekarang kamu asal nuduh saja. Nadin mencium pipi sebelah kananku, dan bagian ini. bukan yang kamu tunjuk barusan." terang Ardian dengan mimik wajah serius sambil menahan senyum.


Diluar dugaan Vira, jawaban Ardian kali ini membuat emosinya yang semakin terpancing. sehingga Vira mengepalkan tangannya emosi, sambil mengertakan giginya, hingga ampuh membuat Ardian mundur beberapa langkah melihat kemarahan Vira.


"Tuh kan, bahkan bapak masih mengingat-ingat dia mencium bapak dibagian yang mana? pasti bapak juga mau menjelaskan juga bagaimana rasanya?" memukul-mukul dada Ardian yang langsung merengkuh tubuh Vira kedalam pelukannya.


Rasa kesal bercampur emosi membuat Vira langsung menangis menumpahkan kesedihannya didada bidang Ardian, yang baru menyadari sikap pencemburu dan kekanak-kanakan yang dimiliki oleh Safira, namun semua itu tidak menyurutkan rasa cintanya pada mahasiswi cantik dan imutnya tersebut.

__ADS_1


Hujan yang turun tiba-tiba, tidak membuat pasangan yang saling berpelukan itu lari karena kedinginan, mereka malah semakin merapatkan pelukannya ditaman kota dengan pencahayaan yang temaram.


Melihat Vira yang mulai tenang, Ardian melepas jaket nya dan memasangkan ketubuh Vira dan menuntun nya untuk masuk kedalam mobilnya sendiri, sedangkan untuk mobil Vira, Ardian memerintahkan sopir pribadi nya untuk segera menjemput.


"Haaachhiinn.... haaachhiinn,"


Vira kembali bersin-bersin, karena daya tahan tubuhnya yang lemah membuat gadis cantik itu mudah terserang gejala flu mengingat hujan deras barusan yang menimpa tubuh mereka.


"Vira sayang, kamu ngak papa Khan?"


Ardian mulai cemas, tubuh Vira tiba-tiba menggigil kedinginan. bibr Vira ikutan bergetar tanpa menjawab pertanyaan Ardian barusan.


"Bagaimana ini, jika Vira diantarkan pulang kerumahnya. aku takut terjadi sesuatu dengan Vira nantinya, mengingat kedua orang tuanya yang masih berda diluar negeri, apa sebaiknya Vira aku bawa pulang ke apartemen pribadi ku saja."


Melihat tubuh Vira yang mulai panas, tanpa pikir panjang lagi Ardian langsung melajukan kencang mobil nya menuju Apartemen mewah tempat ditempati nya ketimbang rumah besar milik orang tuanya.


Vira hanya diam dan pasrah, ketika dia mengetahui jika Ardian memapah tubuhnya menuju unit apartemen, dia yakin Ardian laki-laki baik yang dicintainya dan sangat mencintai dirinya juga, sehingga tidak ada kekhawatiran dihati Vira lagi. mengingat dia merasakan tubuhnya yang mulai lemas, kedinginan dan perasaan panas demam yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya.


Perlahan Ardian merebah tubuh Vira masuk Kekamar nya sendiri, kamar yang terlihat bersih dan sangat rapi untuk ukuran laki-laki lajang seperti Ardian.


"Vira, kamu pakai kaos dan celana pendek ku ini saja. sebagai ganti pakaian mu yang basah ini."


Ardian memilih-milih pakaian santai nya lalu kembali berjalan mendekati Vira yang tiba-tiba sudah tidak sadarkan dirinya, Ardian tiba menjadi panik, apalagi setelah melihat panas Vira yang semakin tinggi.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang. Sayang bangunlah." berusaha untuk membangun kan Vira, sambil menghubungi dokter pribadi keluarga nya.

__ADS_1


"Sebelum dokter datang, tidak mungkin aku membiarkan Vira kedinginan dengan pakaian basah ini. tapi bagaimana cara ku untuk menggantinya." Ardian mondar-mandir gusar sambil mengusap wajahnya kasar. dia takut jika nantinya tidak mampu mengendalikan dirinya jika sudah melihat tubuh wanita yang sangat dicintainya ini, atau malah Vira balik mengamuk memarahinya. Ardian perang batin, hingga akirnya dia memutus untuk mengambil selimut, menutupi tubuh Vira, dan mengganti pakaian nya meski dia begitu hati-hati untuk membuka satu persatu kancing baju Safira hingga dalaman nya ikut dilepas.


"Hufft... "


Ardian menarik nafas dalam-dalam, saat satu persatu pakaian Vira berhasil dilepasnya, sekarang tinggal bagian bawah. yang membuat pria itu kembali berjuang Keras melawan gairah, rasa kasihan bercampur panik melihat kondisi sang pujaan hatinya.


"Berhasil juga."


Setelah berhasil memasangkan celana pendek dan kaos nya pada tubuh mungil Vira, Ardian langsung menghubungi pihak Loundry untuk menjemput pakaian Vira, agar langsung dicuci dan dikeringkan.


Perlahan Ardian memindahkan Vira keatas ranjang nya dan membalut tubuhnya dengan selimut tebal. sambil mengulangi kembali menghubungi dokter.


Ardian mulai resah menunggu dokter, dan kembali menatap wajah cantik Vira. hingga bunyi bel apartemen membuyarkan lamunan Ardian, yang langsung berlari menuju pintu.


"Kenapa lama kali, dok.?"


"Maaf Tuan Ardian, dijalan terjadi macet."


"Ya sudah, cepat kamu periksa dan obati kekasih ku."


"Baik Tuan." ucap dokter keluarga yang sudah cukup lama mengabdi diklinik perusahaan besar milik papa Ardian.


Setelah memeriksa dan memerikan resep obat, dokter pamit. dia mengatakan jika daya tahan tubuh Vira terlalu lemah, sehingga dia pun memberikan suntikan obat.


"Dokter Fian, tolong kamu jaga rahasia ini dihadapan papa, termasuk orang-orang terdekat ku, aku tidak ingin ada orang yang berfikiran yang macam-macam tentang kekasihku ini."

__ADS_1


"Baik Tuan, aku sangat mengerti." balas dokter bersiap untuk segera pergi kembali.


Malam ini, Ardian dengan setia menjaga sang kekasih. hingga tanpa sadar dia ikutan tertidur pulas sambil memeluk tubuh mungil yang juga terlihat sangat nyaman berada dalam pelukan dosen tampan itu. hujan yang dturun diluar, membuat keduanya saling merapatkan pelukan mereka berdua.


__ADS_2