
Paginya, hal pertama yang dilihat Bunga adalah ponselnya, dia sangat berharap sekali semalam suami tercintanya menghubungi. namun senyum yang semula mengembang indah disudut bibirnya seketika memudar, sebelah tangan Bunga mengelus-elus lembut perutnya. seakan-akan ingin mengadu pada bayi yang dikandungnya, betapa sedih dan rindunya Bunga pada Arya saat ini.
"Ternyata semalam papa tidak menghubungi kita sayang, ya Allah lindungilah dan jaga suamiku dimana pun dia berada. aku Kawatir dan resah jika terus berjauhan dengan mas Arya, Tuhan permudah lah setiap urusan suamiku nantinya, amiiin."
Bunga menepis pikiran buruk yang tiba-tiba menghantuinya, untuk mengusir kegundahan hatinya. dia berjalan keluar kamar, memilih bermain robot-robotan bersama Cecilio yang juga terlihat sangat merindukan sang maminya Bella.
"Ma, kenapa Mami Cecilio tidak pernah pulang lagi."
"Cio yang sabar ya nak, mungkin Mami masih sangat sibuk sekarang. mungkin saat ini dia juga tengah merindukan Cio, dan akan segera kembali setelah urusan Mami Cio selesai." bujuk Bunga.
"Mudah-mudahan papi bisa menemukan Mami dan membawanya kembali pulang. Cio kangen Mami hu....hu....hu..."
Butiran-butiran bening itu tumpah membasahi wajah tampan Cecilio, walaupun dia berusaha untuk menahanyan dari semula, karena teringat perkataan papa Arya, agar anak laki-laki itu tidak boleh cengeng dan harus kuat.
"Cecilio sayang, kok jadi nangis sih nak."
Bunga menarik Cecilio kedalam pelukan hangat seorang ibu, Cecilio membalas erat pelukan Bunga, seolah-olah itu Bella ibu kandungnya yang sangat dirindukan kehadiran dan kasih sayang nya oleh bocah polos tersebut.
Senyum kembali mengembang dibibir Cecilio, saat pelukan lembut Bunga. mampu membuat nya tenang dan merasa sangat nyaman. sehingga rasa sedihnya juga sudah berangsur-angsur hilang.
"Sayang mau ngak nemenin Mama didapur?" ucap Bunga sambil menghapus sisa- sisa air mata bocah itu.
"Ngapain kita didapur ma?"
"Pagi ini, Mama ingin buatin Cecilio kue coklat dicampur keju mozzarella spesial yang enaaak banget. Mama yakin Cio pasti ngak bakalan nolak dengan kue buatan Mama nantinya." ucap bunga penuh ekspresi lucu, ampuh membuat Cecilio tertawa lepas.
"Mau...mau ma."
__ADS_1
Dengan mata berbinar-binar bahagia dan penuh semangat lagi, Cecilio dan Bunga berjalan menuju dapur. Keseruan didapur bersama anak sambungnya, sedikit banyak membuat Bunga kembali ikut tertawa bahagia, dia melupakan ponselnya yang masih tergeletak tertinggal di kasur.
"Ma, kuenya wangi banget."
"Iya, sayang. bentar lagi juga bakalan matang kok."
"Asyik...."
Cecilio bertepuk tangan, tidak sabaran lagi menunggu kue buatan mamanya.
Mama Sinta tersenyum memperhatikan kedekatan Bunga dan Cecilio dari taman belakang, dia mersa bersyukur mendapatkan menantu sebaik dan setulus Bunga, yang selama ini meawat dan mengasuh Cecilio dan Arya dengan kasih sayang yang tulus.
"Tidak salah, jika Arya sangat mencintai Bunga. aku yakin dihati Arya sekarang tidak ada Bella lagi. kamulah yang muncul sebagai pemenang nya Bunga." Gumam Mama Sinta.
"Aku juga berharap, Bella mendapatkan laki-laki yang baik dan juga mencintai nya.. amiiin."
"Benar-benar tempat yang Indah dengan udaranya yang bersih, bagaimana menurut mu Rey jika aku membangun sebuah Villa mewah diatas perbukitan itu?"
"Ide yang sangat menarik sekali bos, aku yakin keluarga kecil bos pasti sangat senang berlibur ditempat yang bersih dan pemandangan alam yang indah ini."
"Baiklah, setelah permasalahan satu persatu kita selesaikan, aku ingin kamu mengatur semuanya."
"Beres bos, meskipun itu bukan termasuk wilayah perkebunan kita. aku yakin orang yang mempunyai lokasi tersebut pasti mau menjualnya. meskipun kita harus mengeluarkan harga yang fantastis untuk mendapatkan nya." terang Rey.
"Terserah kamu, yang penting aku bisa membangun istana kecil bisa terwujud kan. karena posisi tempat itu begitu Manarik perhatian ku." jawab Arya. mengusap ponselnya yang sudah tidak terdapat signal, karena hanya tempat-tempat tertentu saja yang mampu terjangkau signal jaringan selular.
"Bagaimana kabarnya istri kecilku sekarang, apa dia sudah bangun, aku yakin seperti biasanya dia akan main dengan Cecilio putra tampan ku."
__ADS_1
gumam Arya.
Sebenarnya sebelum mereka berangkat menuju lapangan, terlebih dahulu Arya sudah menghubungi Bunga. karena daerah yang dikunjungi Arya kali ini agak jauh dan setahunya signal ditempat itu sedang mengalami masalah. namun sudah panggilan ketiga Bunga tiga Bunga tidak mengangkat panggilan tersebut, karena dia sedang asyik membuat kue bolu coklat untuk menghibur Cecilio agar tidak sedih lagi.
"Bos, ternyata ditempat ini juga ada baprik lama yang sangat berkembang dengan majunya, apa sebaiknya kita mengajukan berkas kerja sama dengan perusahaan mereka?" ucap Rey.
"Kamu cari tahu pemilik perusahaan itu dulu, dan apa bisa membantu permasalahan perusahaan kita."
"Baik bos, karena aku yakin perusahaan dan produk kita akan berkembang dan maju jika mampu bekerjasama dengan perusahaan mereka ini."
Siang itu Rey datang sendirian menuju perusahaan yang ternyata dipimpin oleh Dani, sedangkan Arya kembali menuju kantor perusahaan nya. dan meminta Rey untuk mengurus semuanya sendiri.
Dani menyambut hangat kedatangan Rey, termasuk memeriksa beberapa berkas perusahaan Arya agar mereka saling mengenal. termasuk sebagai bahan pertimbangan bagi Dani untuk menerima berkas pengajuan kerjasama perusahaan Arya.
Sampai dikantor, Arya langsung memimpin rapat kecil dengan tim audit nya. setelah selesai dia pergi menuju ruangan khusus untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang lelah, dengan berbaring di sofa. seketika pesan masuk kedalam ponsel nya dari sang istri tercinta Bunga.
"Sayang gimana kabarnya sekarang, aku disini sangat merindukan mu.... semangat kerjanya ya mas dan kami disini selalu mendoakan yang terbaik untuk mu. miss You honey."
Dengan segera Arya membalasnya, namun tidak terkirim termasuk notifikasi jika telah terbaca oleh istrinya, akirnya Arya memilih menatap satu persatu foto-foto lucu dan menggemaskan wajah imut Bunga. yang sempat tersimpan di galeri foto ponsel.
"Tok...tok...Rey langsung masuk mengingat tidak ada jawaban dan pintu ruangan Arya yang juga tidak terkunci.
"Maaf bos, aku langsung masuk saja."
"Ngak papa rey, Bagaimana tentang perkembangan perusahaan itu sebelum permasalah diperusahaan kita sendiri muncul? apa ini termasuk tipu muslihat mereka yang ingin menghancurkan perusahaan kita?" tanya Arya saat melihatnya Rey yang fokus memeriksa laporan proyek itu.
"Semula semua berjalan lancar sesuai rencana kita, tapi bos tenang dulu. aku akan membantu bos sebisa mungkin." ucap Rey meyakinkan.
__ADS_1