
"Bungaaa.... oh Bunga. dimanakah kini engkau berada, kamu dimana Sayang?"
Suara lengkingan Vira yang bergema mengisi sudut ruangan Rumah Bunga, membuyarkan keasyikan Bunga dan Cecilio yang tengah menikmati bolu coklat hasil buatannya di pagi menjelang siang ini.
"Vira, aku disini."
Vira yang semula celingak-celinguk mencari arah asal suara Bunga, langsung tersenyum senang ketika melihat wajah cantik Bunga yang masih mengunakan celemek keluar dari arah dapur.
"Bunga, kamu lagi ngapain di dapur?"
"Ya masak makanan lah, emang mau ngapain lagi di dapur."
"Sapa tahu aja kamu dan mas Arya sedang bercinta dengan metode gaya baru."
"Kamu ini ada- ada aja deh Vira."
"Jangan salah lho Bunga, zaman sekarang banyak lho pasangan yang mencoba sesuatu yang baru, misalnya bercinta dibawah panasnya terik matahari langsung, atau diatas kompor gas yang masih menyala. biar tersa lebih gimana gitu..." sambil tersenyum membayangkan nya.
"Astaghfirullah Vira, kamu datang-datang kok jadi aneh gini ya?"
Bunga mengangkat sebelah tangannya, meletakkan diatas kening Safira. mencoba mengecek suhu tubuh sahabatnya.
"Pantesan aneh, sikuntilini mesum masih bersarang di Kepala mu ini." ucap Bunga berusaha menahan tawanya, melihat ekspresi wajah Vira yang berubah ketakutan.
"Jangan ngomong yang macam-macam dong, aku tiba-tiba merinding gini ya mendengar perkataan mu barusan." Vira langsung memegangi tengkuknya yang tiba-tiba tersa dingin.
"Ha...Ha.... giliran ngomongin yang mesum, suaramu langsung kenceng, tapi jika berhubung makluk astral langsung menciut." ledek Bunga.
"Mama."
Cecilio keluar dari dapur karena kelamaan menunggu mamanya, yang keasyikan ngobrol dengan Vira.
"Eh Iya nak."
"Cecilio sayang, sini dong dekat Tante."
Cecilio mendekati Vira yang langsung mengendong tubuh bontot itu kembali menuju dapur, mereka bersama menikmati kue buatan Bunga yang masih hangat dengan wanginya yang menggugah selera.
"Bunga, aku boleh bungkus dan bawa pulang. soalnya kue buatan mu enak dan rasanya beda dengan kue-kue lainya."
"Boleh, ambil dan makan saja sesuka mu."
"Vira kamu kesini sendirian?"
__ADS_1
"Iya."
"Tumben, mana dosen kesayangan mu itu?"
"Maksudmu pak Ardian?"
"Ya siapa lagi, memangnya ada ya dosen lain yang dekat dengan mu, selain dia?"
"Pak Ardian lagi sibuk banget, katanya perusahaan mereka bakal ngeluarin produk baru, sehingga dia ingin fokus dulu sampai produk mereka berhasil dan berjalan dengan sukses dipasaran."
"Jadi sekarang kamu di anggurin dong?"
"Ngak juga, dia masih sering ngubungin aku. atau sekedar ketemuan meskipun ngak bisa berlama-lama."
"Wah Romantis nya."
"Kalau mas Arya mu mana?"
"Mas Arya beberapa hari ini ada tugas kerja keluar kota, makanya aku sengaja nyari kesibukan bersama Cecilio. agar ngak kepikiran mas Arya terus."
"Kamu yang sabar ya, Bunga."
"Ya, Vira."
"Boleh juga."
"Cecilio ikut ngak Sayang?"
"Ikut ma."
"Baiklah, kita izin Oma dulu ya."
Setelah meminta izin pada Mama Sinta, mereka bertiga langsung pergi ke pusat perbelanjaan dan permainan anak-anak, raut kebahagiaan terpancar dari wajah Cecilio. rasa sedih merindukan Mami dan papinya sedikit terobati, apa lagi dia dibelikan banyak mainan baru.
"Cecilio, senang ngak hari ini main sama Tante dan Mama?"
"Senang banget, terimakasih ya Mama dan Tante."
" Iya sayang." jawab mereka berbarengan.
***
"Bella, kamu kenapa sayang."
__ADS_1
Dani yang hendak berangkat kerja, berjalan mendekati Bella yang terlihat pucat sambil memegangi perutnya yang sering sakit, bahkan dia juga mersa kontraksi ringan diperutnya, padahal dia masih hamil masuk bulan ke Lima.
"Nggak papa kok mas."
Bella berusaha memaksakan senyumnya, menyembunyikan rasa sakit yang sering muncul tiba-tiba dirasakan nya.
"Benar ngak papa. tapi wajahmu terlihat pucat sayang?" Dani kembali memastikan perkataan nya, menatap intens wajah cantik Bella.
"Benar mas, mungkin aku seperti ini kurang tidur aja, Karena beberapa hari ini aku selalu kepikiran Cecilio dan sangat merindukan nya." jawab Bella sendu, dia juga sering memimpikan anak laki-laki hasil pernikahannya dengan Arya.
"Bella maafkan aku, semua ini gara-gara keegoisan dan cintaku yang terlalu besar padamu semenjak dahulu. maafkan aku sayang." nampak sekali rasa bersalah dan penyesalan dari wajah tampan Dani.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah mas, mungkin ini sudah perjalanan hidup dan jodoh kita yang dipertemukan dengan cara yang seperti ini. aku ikhlas mendampingi mu mas."
"Aku janji Bella, setelah kondisimu kembali membaik dan perusahaan kembali normal, aku akan mengajakmu pulang untuk bertemu dengan Cecilio. bahkan aku juga sudah sangat siap dengan resiko dan konsekuensinya atas kemarahan Arya dan keluarga nya nanti."
"Benarkah mas?"
Pancaran mata Bella langsung berbinar-binar bahagia, mengingat dia sudah tidak sabaran lagi untuk bertemu anak satu-satunya nya yang juga sangat merindukan kehadiran sang mami.
"Benar sayang, makanya jaga kesehatanmu ya."
"Iya mas."
"Ya udah, mas berangkat kerja dulu ya sayang. jika ada apa-apa. segera hubungi mas atau beritahukan ke Mama."
Pesan Dani sebelum dia masuk kedalam mobil yang akan membawanya menuju perusahaan dan perkebunan hasil peninggalan orang tuanya dulu. bahkan sekarang Dani susah membuat perusahaan kecil itu perlahan namun pasti berkembang dengan pesat.
Setelah melihat mobil Dani yang menjauh, Bella kembali masuk kedalam rumahnya. namun saat membalikkan badannya, secara tidak sengaja dia seperti melihat mobil Arya melintas di jalanan kecil yang tidak terlalu jauh dari Rumah Dani yang sederhana.
"Ya Tuhan, apa ini halusinasi dan perasaan ku saja. tapi mobil itu benar-benar seperti mobil kesayangan mas Arya, bahkan aku masih ingat plat mobilnya." Bella mengusap dada. dengan pikiran yang berkecamuk tidak menentu, antara senang, takut dan Kawatir jika kedatangan Arya untuk mencari dirinya dan Dani.
"Apa mas Arya mencari kami, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mas Dani dulu. bagaimana dengan kandungan ku jika kami berdua di penjara? ya Allah tolonglah lindungi kami dari kemarahan mas Arya nantinya. meskipun hati kecilku berkata mas Arya tidak bakal mempermasalahkan hal itu lagi, mengingat dia laki-laki yang sangat baik dan pemaaf." Gumam Bella melangkah pelan menuju rumah.
"Bella, kamu kenapa nak?"
"Ngak papa kok ma, Bella istrahat dulu ya dikamar."
"Iya nak,"
Sampai dikamar Bella membaringkan tubuhnya, sebelah tangannya mengusap-usap pelan perutnya yang mulai membesar. rasa bersalah pada sikap egoisnya dulu membuat Bella kini lebih kuat dan mulai berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi, bahkan dia juga rajin menjalankan perintah agama.
"Sayang, semoga kamu tidak kenapa-napa ya nak, mama sangat ingin mengasuhmu bareng kak Cecilio. sebagai bentuk penebus rasa bersalah mama." Gumam Bella ketika perutnya tidak lagi merasa sakit, yang terkadang hanya datang sesekali saja."
__ADS_1