Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
10. Kamu Tertarik


__ADS_3

Setelah menyebutkan itu, Noah langsung menariknya pergi ke toko pakaian wanita.


Ilina baru pertama kali melihat pakaian sebanyak itu terpajang di segala sudut. Interior tempat yang juga tampak modern terlalu berbeda dari apa yang matanya biasa lihat.


Diam-diam Ilina menghela napas. Kenapa ia harus melakukan semua ini padahal cuma persoalan baju?


"Pilihlah."


Ilina menarik tangan dari Noah untuk pura-pura membaur.


Jika ia berkata 'tidak tahu' lagi, pria itu akan banyak bicara.


Sepuluh menit ia sengaja diam memilih apa yang tidak dirinya perhatikan, cuma untuk menunggu Ayana secara alami ikut masuk, menyamar sebagai pelanggan lalu pergi ke bilik ganti.


Awalnya Ilina tak tahu bagaimana harus berkomunikasi, tapi lewat celah di bawah, Ayana menyusupkan kertas berisikan sejumlah kalimat lalu pergi.


Baju yang Ilina harus beli berwarna putih, berada di sudut sebelah kanan, dan memiliki harga yang diawali angka lima.


Baiklah. Ini lebih mudah dipahami.


...*...


Celahnya sulit sekali dicari.


Noah tahu sebenarnya dia akan kesulitan dengan situasi di sekitar mereka, dengan mata rabun itu, dan perbedaan suasana entah pencerahan, kebisingan dan lain-lain.


Tapi Lia sedikitpun tidak membuat ekspresi bingung, keluar masuk ke bilik ganti sebelum dia menentukan pilihan pada sejumlah baju berwarna putih.


Seleranya putih, yah?


Padahal baju cokelat yang dia pakai juga cocok di kulitmya.


Noah mendekat ke kasir tapi sengaja melambat untuk tahu apa yang dia lakukan. Lia sedikitpun tidak meliriknya, hanya mengeluarkan sebuah kartu yang dia pandangi penasaran sendiri.


Lucu.


Dia heran melihat kartu digesek bisa menjadi bayaran, padahal dia sendiri yang memberikannya.


"Apa Nonamu yang memberikannya?"


"Asisten Nona." Dia memasukkan benda itu ke tasnya lagi bahkan tanpa dimasukkan ke dompet. "Ayo pergi."


Noah mengikutinya dari belakang. Bingung juga apakah ia harus kembali menggandeng tangan Lia atau tidak.


Tapi sepertinya dia pun tidak sebuta itu. Ritme langkah mereka sekarang ringan, jadi Lia tidak perlu terburu-buru atau takut hilang.


"Di mana toko pakaian dalam?" tanya Ilina, memecah lamunan Noah.


Itu kebutuhan pribadi, jadi Noah cuma menunggu di depan toko sampai Lia muncul dengan satu paperbag di tangannya lagi.

__ADS_1


Dia berkata seluruh kebutuhannya cuma itu, jadi Noah segera menuntun Lia ke supermarket untuk kebutuhan tambahan wanita.


Noah terus mengawasi pergerakan Lia. Bagaimana dia menatap sekitaran seolah dia tak tahu itu apa, dan lumayan sulit gara-gara harus berhenti di satu per satu produk untuk membacanya dari dekat.


Sungguh sulit dimengerti. Kadang dia benar-benar tampak seperti asisten, kadang dia tampak seperti nona yang tidak mengenali apa pun.


...*...


"Bagaimana?"


Ayana yang pura-pura memilih set pakaian dalam menyahut dengan suara samar. "Kami meninggalkan sedikit jejak sesuai instruksi. Pihak keluarga Palmer memperketat keamanan mereka dan menelusuri jejak yang Nona tinggalkan."


"Siapa yang keamanannya paling ketat namun posisinya tidak terlalu kokoh?"


"Nona Muda Selin, cucu kepala keluarga Palmer saat ini, Nona. Gadis itu dimanja sebagai anak dari anak bungsu kepala keluarga."


Hmm, jadi posisinya seperti barang kesayangan yang tidak berguna tapi suka dipandang, kah? Seperti guci mahal yang kegunaannya cuma untuk mengisi kekosongan sudut ruangan.


"Bunuh dia."


"Baik."


Ilina berpura-pura mengecek ukuran bra yang ia pegang. "Kali ini jangan tinggalkan jejak."


"Mengerti, Nona."


Barang yang tadi disentuh oleh Ayana segera ia ambil untuk dibawa ke kasir. Membayar semua itu dengan kartu kredit atas nama Ayana lalu keluar menemui Noah.


Lagi-lagi dia seperti mencari celah pada Ilina. Itu benar-benar membuatnya sulit bernapas karena terganggu, tapi tidak bisa menolak sebab kewaspadaan memang kebiasaan orang seperti mereka.


Kegiatan belanja itu sulit ia nikmati lantaran pengawasan Noah. Ilina hanya bersyukur mereka bisa segera keluar, menenteng belanjaan untuk pergi ke optik.


Rasanya sangat lama dan menyebalkan hari berjalan. Ilina bernapas lega ketika akhirnya mereka tiba di rumah, niatnya beristirahat saat Marissa malah menyambut mereka.


"Noah, sudah kubilang tetap di apartemen! Kamu tidak mengerti sesuatu yang disebut bahaya?!"


Ilina kabur ke kamar mandi waktu Noah diomeli oleh asistennya itu. Karena terlalu lelah, Ilina jadi lupa ganti baju dan duduk meringkuk kelelahan.


Rasanya benar-benar menyebalkan ketika pintu kamar mandi digedor, menyuruh Ilina keluar.


Ia tak mau keluar. Biarkan sajalah. Lama-lama juga dia lelah sendiri.


Tapi dia seperti maniak. Menggedor pintu tanpa henti sampai kepala Ilina malah tambah sakit.


Terpaksa ia beranjak, keluar untuk mendapati wajah Marissa yang murka.


"Kamu memaksa Noah keluar membelikan pakaian lalu sekarang bersembunyi seperti pemalas?! Aku sudah bilang padamu setidaknya lakukan pekerjaan dengan baik agar tidak beban!"


Alis Ilina berkedut.

__ADS_1


Ia bersumpah, sekali lagi dia mengatakan beban, Ilina tidak akan diam saja.


"Marissa, hentikan."


"Berhenti membelanya, Noah. Aku tahu dia adik temanmu tapi memanjakan dia sampai tidak melakukan apa-apa itu buruk. Lihat, dia bahkan langsung bersembunyi karena tahu aku akan menegurnya."


Ilina tidak menahan tatapan dinginnya pada mereka. Karena posisi Marissa yang membelakanginya sekarang, hanya Noah yang melihat itu.


"Aku akan mendidiknya, aku mengerti. Ayo pergi. Kurasa aku butuh bantuan untuk sesuatu."


...*...


"Marissa, berhentilah bersikap agresif pada tamuku." Noah tak bisa lagi membiarkan Marissa bersikap demikian.


Jika saja Lia hanya diam dan bersabar, bisa saja ia pun diam agar masalah tidak diperpanjang.


Tapi gadis itu berbahaya. Matanya yang tanpa belas kasihan seolah bisa melenyapkan siapa saja yang bisa dia anggap gangguan.


Noah hanya tak ingin ada korban diluar rencana mereka gara-gara persoalan kecil.


"Aku hanya tidak mau dia terlalu menyusahkan." Marissa mengalihkan mata sebagai bentuk pembelaan diri.


"Aku tidak merasa dia menyusahkan, jadi hentikan."


"Kamu menyukai dia?"


"Marissa, ini bukan soal—"


"Kamu tertarik." Marissa berusaha keras menahan kemarahan di rahangnya. "Kamu selalu mengabaikan orang lain. Selalu seperti itu."


"...."


"Aku sudah tahu. Mustahil hanya karena dia adik temanmu, kamu memberinya tempat tinggal. Noah, sadarlah. Kariermu tidak membolehkan kamu punya hubungan dengan sembarang orang, apalagi gadis yang terlihat dari desa terpencil seperti dia."


Noah diam bukan karena tidak bisa membalas. Ia memikirkannya.


Tertarik? Pada Lia?


Noah akui dia memang menarik.


Dia polos dan tampak seperti orang yang gampang dibodoh-bodohi. Seperti kata Marissa, dia benar-benar menggambarkan wajah seorang gadis dari desa terpencil yang kebingungan dengan keramaian kota.


Tapi dia sebenarnya cantik. Jika saja dia tahu cara tersenyum, mungkin dia bisa disebut cantik daripada disebut berbahaya dan menakutkan.


Apa Noah tertarik? Pada gadis yang pernah mau membunuhnya?


Bukan ia dendam, sih. Hanya, mengapa?


*

__ADS_1


__ADS_2