
Wajah Ayana pucat pasi. "NONA!"
Namun Ilina berjalan lemah mendekatinya, menutupi darah yang keluar dengan bunga pemberian Noah.
Bergegas ia masuk ke mobil, menjatuhkan tubuhnya ke kursi panjang bagian belakang.
Sesuatu berputar-putar di kepala Ilina.
Xavier Palmer. Dia mencium Ilina karena tahu bibirnya diolesi racun.
Namun mengabaikan bagaimana seharusnya pria bertindak, Xavier mengalahkan harga diri dan egonya dengan ikut mengolesi racun pada bibirnya sendiri.
Dia pintar.
Dia lebih pintar dari yang Ilina bayangkan.
Orang yang berbahaya karena rela merendahkan egonya, menjadi wanita dengan racun alih-alih menikam seperti pria.
"Nona! Nona mendengar saya, Nona?!"
Ilina membuka matanya yang terasa gelap untuk melihat. "Ini tidak mematikan, Ayana. Tenanglah."
Seseorang yang bermain racun harus tahu seluk-beluk racun itu sendiri. Mahesa yang mengajari Ilina.
Pada dasarnya, untuk melatih kemungkinan terluka akibat senjatanya sendiri, Ilina kerap menelan racun dengan dosis tertentu yang ditingkatkan sesuai toleransi tubuhnya.
Ia menghafal sensasi racun mana yang berbahaya mana yang tidak.
__ADS_1
Ini pelumpuh. Efeknya menjadi kuat karena racun di bibir Ilina sendiri.
"Ayana, dengarkan aku." Ilina menangkap tangan pelayannya yang bergetar ketakutan. "Pergilah dan menjauh dariku sementara waktu. Harja, dan semua orang, bawa mereka pergi. Aku akan bersembunyi dibalik punggung Noah. Aku baik-baik saja. Kembalilah pada Senior sampai aku memanggil kalian."
"Nona—"
"Xavier akan mati." Ilina kesulitan melihat. "Wajahnya membiru. Dia akan segera mati. Saat dia mati, Benedict akan habis-habisan memburuku. Pergi dan bersembunyi. Aku membutuhkan kalian nanti."
Meski ada tangisan tertahan dari Ayana, dia berkata baik dan segera membawa Ilina kembali. Nyaris bersamaan dengan Ilina berbaring di kasurnya, Noah datang dengan wajah pucat pasi.
"Ilina!"
Pandangan Ilina semakin gelap dan napasnya memburu.
"Ilina! Ilina, kumohon! Ilina!"
Wajah Noah yang panik dan suaranya yang gemetar adalah hal terakhir sebelum Ilina terpejam.
*
"Pergilah diam-diam."
Tabios menatap nanar sosok sepupunya yang kini terbaring memutih di atas peti. Tangisan Bella membahana di segala penjuru, tak mampu menahan raungan histeris akibat kakaknya yang menjadi korban selanjutnya.
Tidak. Haruskah ia katakan, bahwa dia melakukannya sendiri?
Kenapa?
__ADS_1
Bahkan kalau Xavier memang kadang aneh dan memikirkan hal tidak jelas, dia bukan pengecut yang bergegas bunuh diri agar tidak dibunuh secara brutal.
Langkah kaki Tabios terhuyung meninggalkan ruangan itu. Berusaha bernapas meski terputus-putus.
"Lakukan untukku." Kepalanya memutar suara Xavier yang sore ini tiba-tiba pergi setelah meninggalkan sesuatu.
Dia tidak memberitahu Tabios. Namun hubungan mereka yang nyaris seperti saudara membuat Tabios memahami apa sebenarnya maksud Xavier.
"Aku muak pada diriku." Xavier satu hari pernah mengatakannya. "Aku muak pada keluarga menjijikan ini. Aku muak pada Ibuku, yang diam melihat kekejaman Ayahku lalu mati setelah diracuni seseorang. Aku muak pada Ayahku, yang setelah Ibuku mati, dia menikahi wanita lain dan wanita itu pun hanya diam melihat tingkah Ayahku. Katakan, Tabios. Apa keluarga ini memiliki harga di matamu?"
Saat itu Tabios masih terlalu kecil untuk membalasnya. Xavier sedang bersedih, baru satu tahun kematian Ibunya berlalu dan ayahnya menikah lagi.
Muak bukan berarti dia harus melakukan ini kan, demi Tuhan!
Tapi ....
"Aku lebih muak padamu." Tabios bergumam, antara kesal dan marah meski kedua matanya memanas.
Kini di tangannya terdapat dokumen bukti yang Xavier serahkah. Dia memilih mati duluan karena tahu dia akan kalah, tapi dia memberi perlawanan dan menyerahkan kotoran pada ayahnya sebagai bentuk balas dendam.
Putrinya Arman Bumantara.
Apa Xavier menyukai gadis itu?
Memang apa enaknya mati di tangan gadis yang dia sukai, dasar orang gila.
*
__ADS_1