Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
8. Kemisteriusan Ilina


__ADS_3

Pagi hari Ilina bangun, demamnya masih cukup tinggi. Noah tidak nampak bahkan ketika sore menjelang. Ilina yang tidak terbiasa dengan suasana tak tahu harus melakukan apa selain baca buku.


Ini bagian menarik bagi Ilina. Buku koleksi Noah bukan jenis buku biasa. Semua itu buku-buku yang tidak dapat dicerna oleh akal seseorang kecuali telah melewati pembelajaran dasar yang memuakkan.


Dia membaca buku sejenis itu? Buku jenis ini bukan buku yang dibaca untuk hobi.


Ilina terus menunggu sampai hari berganti dan Noah juga belum keluar.


Karena takut dia juga mati di dalam sana, Ilina mengetuk pintu. Sayangnya itu dikunci hingga tak bisa dibuka.


Tiga hari tepatnya ia berdiam di sofa sampai Noah membuka pintu kamar dan keluar dalam kondisi sehabis mandi.


"Aku beristirahat terlalu lama. Maaf, Lia."


"Tidak masalah." Itu justru baik daripada dia menyuruh Lia merawat dia. Meski menyebalkan harus menunggu dan bertanya-tanya tiga hari sendirian. "Lalu?"


...*...


Noah tak menyukai kemisteriusan Lia ini.


Tidak ada yang menyenangkan dari gadis yang sulit ditebak. Terutama gadis yang sempat mau membunuhnya lalu membunuh orang tanpa sedikitpun merasa takut.


Tapi mereka memang tidak berkumpul untuk berdiskusi mengenai rasa bersalah.


Ia duduk, melirik pada rak buku yang posisinya sedikit bergeser.


Mengapa seorang bawahan nona besar membaca buku geoekonomi?


"Apa yang Nonamu perintahkan?"


"Informasi."


"Dia meminta informasiku?"


"Ya."


"Informasi pribadiku?"


"Segala sesuatu yang dibutuhkan mengenai tujuanmu."


Berarti informasi mengenai keluarga Palmer, kah?


"Benedict Palmer bertanggung jawab atas kematian orang tua Nonamu."


Noah sulit menduga dia Ilina, tak peduli bagaimana ia coba memancing dengan informasi orang tua, ekspresi Lia hanya seperti mendengar pemberitaan cuaca.


Dia bahkan tidak terlihat peduli. Apa yang dianggap penting oleh gadis ini? Hanya Nona-nya?


"Bagaimana dia membunuhnya?"


"Kamu tahu mengenai perselisihan setelah Arman Bumantara menolak pengajuan Benedict pada adik bungsunya? Benedict berniat membentuk koneksi dengan Bumantara lewat pernikahan itu, tapi Arman Bumantara menolak."


Informasi ini seharusnya tidak diketahui kecuali oleh sedikit orang. Peristiwa itu terjadi sebelum Ilina Bumantara lahir, jadi kemungkinan besar dia tidak tahu.


Jika gadis ini Ilina, dia pasti bereaksi.


Kenapa dia diam saja seolah itu tidak penting?

__ADS_1


...*...


Sesuatu seperti itu pernah terjadi?


Yah, pada dasarnya itu bukan informasi penting sebab mau karena pernikahan ditolak atau karena cinta terhalang, intinya Ayah dan Ibu terbunuh.


Informasi itu hanya terdengar seperti 'keluarga Palmer adalah musuh Ilina selain keluarga Bumantara itu sendiri'.


Terima kasih saja karena sudah memberinya motivasi baru.


"Siapa orang yang kedudukannya paling lemah di keluarga Palmer?"


"Kurasa itu putra kelima. Dia terkenal tidak terlalu cerdas dan sering berjudi."


"Bunuh dia."


Ilina tidak merasakan keterkejutan yang simpatik dari Noah. Dia biasa saja.


"Bunuh?"


"Jika kamu berharap Nona merebut kekuasaan Palmer, maka satu per satu dari mereka harus lenyap. Tapi untuk memancing kepalanya muncul, bunuh ekornya dulu."


Itu adalah cara tercepat, cara termudah, dan cara tersimpel.


Jika dibiarkan hidup, mereka akan merangkak untuk kembali merebut apa yang menjadi milik mereka.


Tidak seperti itu. Cara bermain di atas catur tidak seperti itu.


Ambil saja kalau ingin. Jangan hormati kepemilikan dan pecundangi mereka.


"Siapa yang akan membunuhnya?"


"Akan kuminta orang membunuhnya. Berikan lokasi dan rincian yang kamu ketahui."


...*...


Ilina masih berjuang dalam rasa ngilu demam ketika tiba-tiba pintu apartemen Noah dibuka. Dirinya sempat mengira itu Harja atau seseorang yang ia kenal, tapi ternyata seorang gadis muda berkulit putih yang juga terkejut melihat kehadiran Ilina.


"Siapa?" tanya gadis asing itu curiga.


"Marissa." Noah muncul dan memanggil gadis itu.


"Noah!" Marissa menghampiri Noah, lalu seperti mengecek apakah dia terluka atau tidak.


Tentu saja dia tidak sampai menyibak kaus atau pakaian, jadi kemungkinan dia tidak tahu bahwa dibalik pakaian itu Noah terluka.


"Kamu baik-baik saja, Noah? Aku coba menghubungimu berhari-hari!"


Ilina kembali berbaring karena kepalanya pusing. Ia harap apa pun itu pembicaraan mereka dilakukan di dalam kamar saja, tapi keduanya malah tetap di sana hingga Ilina juga dengar semuanya.


"Aku pergi ke suatu tempat dulu."


Bisa ia rasakan Noah meliriknya.


"Kamu sudah lihat berita?"


"Berita?"

__ADS_1


"Lucas Palmer bunuh diri. Noah, kamu belum melihatnya?"


Tentu saja ... sudah.


...*...


Beritanya disiarkan dua hari lebih lambat dari kejadian. Tidak terlalu banyak yang diekspose karena memang Lucas tidak terkenal dan Palmer bukan keluarga artis.


Sekarang ini mereka menunggu respons dari pihak keluarga Palmer.


"Noah, aku sudah minta cuti untukmu. Aku khawatir setelah kamu menghilang berhari-hari lalu tiba-tiba Lucas Palmer bunuh diri. Pria seperti dia tidak mungkin meninggalkan judinya untuk mati."


"Aku mengerti. Terima kasih." Noah hanya menjawab sederhana. "Daripada, Marissa. Bisakah aku minta bantuan? Tamuku memerlukan tempat tidur yang lebih luas."


Gadis itu kemungkinan sedang melihatnya. "Siapa dia?"


".... Adik temanku. Dia menyuruhnya mempekerjakannya sebagai pembantu."


"Noah, kamu punya asisten. Untuk apa menghabiskan dana membayar pembantu?"


"Aku hanya membantu teman. Lakukan saja."


Baguslah. Ilina memang butuh kasur baru karena tidur di sofa membuat tulang lehernya sakit.


...*...


Berpura-pura menjadi orang lain sambil berpura-pura tidak terlalu banyak tahu sementara berpura-pura terbiasa itu membuat seluruh tubuh Ilina gampang lelah.


Kacamatanya masih butuh waktu untuk selesai sebab Harja pun tak bisa setiap hari datang.


Ilina sungguh berharap setidaknya ia bisa terus dikelilingi keheningan, namun setelah gadis itu muncul, rasanya keheningan adalah kemustahilan.


"Kamu mau bekerja sebagai pembantu tapi menyalakan kompor saja tidak tahu?!" Dia marah ketika Ilina disuruh membuatkan kopi namun malah terdiam karena tidak tahu.


Ia hidup dalam persembunyian. Jangankan kompor listrik, kompor gas pun dirinya tak punya.


Memang bisa disebut berlebihan dalam berkamuflase, tapi Ilina tidak mau mengambil risiko. Jadi mana ia tahu mekanisme benda ini.


Ia tahu mekanisme pertahanan negara adikuasa, ia juga tahu cara memonopoli naik turunnya harga saham. Tapi kompor ini, ia tak tahu.


"Noah, bagaimana gadis seperti ini jadi pembantumu? Kurasa daripada membantu, dia lebih seperti beban."


Ilina mengerutkan kening diam-diam.


Beban? Dirinya?


Kata itu sangat menjengkelkan di telinga Ilina, tapi ia diam sebab tak ada pembantu yang melawan majikan saat dimarahi.


"Marissa, ajari dia. Bukan memarahi. Aku tidak suka ada keributan di tempatku."


Sepertinya dia kesal tidak dibela.


Marissa itu sekali lagi menatap Ilina. Memberitahunya bagaimana cara menyalakan kompor meski dengan cara kasar. Tangan Ilina agak sakit saat dia memegangnya tanpa perasaan.


Tidak pernah Ilina diperlakukan kasar oleh seseorang. Tapi Ilina tak marah, sebab dirinya tak minta diperlakukan baik-baik oleh siapa pun di sini.


...*...

__ADS_1


__ADS_2