Menolak Cinta Bos Mafia

Menolak Cinta Bos Mafia
40. Xavier Palmer


__ADS_3

Diluar dugaan, Noah pergi cukup lama. Niatnya Ilina akan pergi besok atau kapan Noah pergi lagi, namun ketika memasuki sore belum ada tanda-tanda Noah akan kembali, Ilina memutuskan untuk langsung bergerak.


Tentu saja, tak mungkin ia tak diawasi.


"Nona."


Ilina menepuk pria yang menghalangi jalannya itu. "Beritahu namamu."


"Ryo."


"Tuanmu, organisasimu, dan dirimu sekarang milikku." Ilina berlalu. "Perkataanku adalah kewajiban."


Dia orang yang cepat mengerti. Padahal Ilina sengaja berkata ambigu.


Tak peduli seomong kosong apa perkataan Ilina, kenyataan kalau Noah menjaganya sudah cukup bagi Oto bergerak mengikuti kemauan Ilina juga.


Oto bukan organisasi yang bergerak atas kepentingan bersama. Mereka bergerak atas kepentingan pribadi Noah dan mendapat keuntungan dari kepuasan Noah.


Tidak sulit memahaminya saat itu sudah berada di tangan.


Ilina masuk ke mobil yang telah disiapkan oleh Harja. Dirinya tak perlu melirik untuk tahu bahwa sejumlah orang mengikuti kendaraannya.


Butuh beberapa waktu untuk mereka sampai di tempat yang Ilina sudah lama bayangkan.


Taman di mana Xavier Palmer sering berlatih memanah.


Sejumlah orang menyebar secara alami ketika Ilina turun dua ratus meter dari lokasi. Ia berjalan seorang diri, memasang kacamatanya dan mengamati sekitaran.


Ada sejumlah penjaga keluarga Palmer. Tapi tidak menyulitkan.


Ada satu hal yang sepertinya menjadi hal tidak penting bagi keluarga Palmer.

__ADS_1


Mereka hanya memerhatikan 'faktor kematian keluarga' mereka. Mereka tidak memerhatikan 'faktor kematian pembunuh' yang mereka kirim.


Apa itu penting?


Mungkin tidak. Kecuali fakta bahwa mereka mengira tempat umum bukanlah tempat di mana Palmer akan dibunuh terang-terangan.


Ilina berjalan tenang memasuki taman. Untuk kedua kali disambut oleh pemandangan ramai pengunjung, namun tempat ini sedikit lebih terawat dan luas.


Sejenak Ilina melihat-lihat sekitar. Memang penasaran dengan bagaimana kondisi lahan hijau di kota yang terlalu penuh gedung-gedung pencakar langit ini.


Cantik.


Ilina terus berjalan. Memperbaiki kacamatanya yang sempat melorot sebelum ia berhenti.


Di sana.


Pemuda berusia dua puluh tahun tengah berdiri, menarik busur panah untuk melesatkan anak panahnya ke papan target.


Jadi begitu. Anaknya Benedict lebih berani dari yang Ilina duga.


"Kekuatan busurmu terlalu ringan."


Pemuda itu menoleh seketika. Untuk sesaat, dia seperti terkejut. Ilina menduga dia jelas sudah tahu wajahnya.


Namun sejurus kemudian, Xavier bertingkah tenang.


"Kamu bisa memanah, Nona?" tanya dia.


"Aku hanya sering melihat dari kejauhan."


Ilina mendekat terang-terangan. Merasakan ada pergerakan dari sekitaran, namun Xavier memberi isyarat untuk mereka diam.

__ADS_1


"Apa boleh kusentuh busurmu?"


Pemuda itu mengulurkan busurnya. "Tentu."


Kesesuaian busur dengan kekuatan tangan adalah hal dasar. Busurnya Xavier besar, namun ringan sementara dilihat dari urat-urat di tangannya meski masih muda, dia mungkin terbiasa mengangkat beban berat.


"Ini tidak akan cocok digunakan berlatih. Tanganmu memerlukan sesuatu yang lebih berat."


Pemuda itu terang-terangan menatap wajahnya. "Siapa namamu?"


"Lia."


"Aku Xavier."


Ilina mengembalikan busur itu ke tangan pemiliknya. "Apa itu hobimu?"


Sikapnya sangat tenang ketika mengangguk. "Aku menyukai permainan yang memerlukan ketenangan."


Jadi begitu. Pantas saja dia cerdas.


"Jika tidak keberatan, Lia, kamu ingin minum bersamaku?"


"Tentu."


Dia mengajak Ilina duduk menyaksikan pemandangan danau. Xavier membuka botol minuman berupa teh apel, lalu dimasukkan masing-masing ke gelas.


Ciri khas Noah yang tajam mengamati rupanya memang keturunan. Anak itu juga mengamati Ilina saat meminum teh apel pemberiannya.


Mungkin dia berpikir Ilina seharusnya khawatir diracuni.


*

__ADS_1


__ADS_2