
Ilina tersentak saat bibir Noah sungguhan menyentuh bibirnya.
Untuk sesaat ia menekan lembut pria itu agar menjauh, namun Noah memegang tangannya, mengarahkan itu ke rambut Noah sendiri.
Dia mencium Ilina lembut. Hanya berupa kecupan demi kecupan kecil.
Sesaat sebelum semua larut, Ilina mendorongnya keras. Bukan untuk menjauh, namun terjatuh ke tempat tidur, dan menindihnya.
Menggemaskan. Menggemaskan, yah?
Bukankah orang yang lebih menggemaskan adalah pria besar dengan pipi bersemu di bawah gadis desa?
"Ilina, boleh aku merayumu?"
Ilina tidak menjawab. Membuat dia menganggap itu sebagai persetujuan.
Tangan Noah terulur. Mengambil sejumput rambutnya yang tetap bertahan di atas pria itu, menyangga tubuhnya dengan tangan agar tetap ada jarak.
Noah yang bebas di bawah memeluk pinggangnya tanpa kesulitan.
"Aku menyukai wangi teh dari tubuhmu." Noah mencium ujung rambutnya dengan mata berkilat penuh rayuan. "Aku merasa sedikit hilang kendali ketika bantalku masih menyisakan wangimu. Aku mau merasakannya setiap saat."
Mulutnya licin juga.
Dia mengangkat sedikit tubuhnya. Mendaratkan kecupan kecil di rahang Ilina sebelum menariknya terjatuh, berbaring menyamping.
"Aku tidak akan bosan meracaukan namamu, Ilina."
Ilina agak terpejam ketika Noah membelai halus pipinya.
"Akan kubawakan apa pun ke tanganmu. Apa pun itu. Jadi, beri aku dirimu."
__ADS_1
Ketika untuk kedua kali Noah menciumnya, Ilina bergerak, tanpa diminta membalasnya.
*
Matahari pagi masih belum muncul ketika Ilina beranjak dari tempat tidur, bermaksud menghirup udara pagi meski tidak sesegar udara di desanya.
Sambil memeluk diri sendiri dengan selendang, Ilina menatap langit yang perlahan-lahan mulai kehilangan kegelapan.
Ada perasaan aneh dalam diri Ilina saat mengingat perbuatan Noah padanya.
Selama hidupnya, Ilina selalu melihat dunia ini sebagai sebuah permainan yang dimainkan oleh banyak orang.
Mungkin Ilina memang tidak terlalu mahir memainkan sesuatu yang disebut emosi.
Orang-orang yang emosional seperti Harsa atau Nina, yang menganggap bahwa manusia harus saling berinteraksi dengan perasaan atau muncul kebencian dan perasaan inferioritas—Ilina tak tahu rasanya menjadi mereka.
Ia hidup sendirian.
Menangis sendirian.
Selalu sendirian.
Satu-satunya yang ia cintai hanya Mahesa Mahardika.
"Jangan menyukaiku."
Apa Mahesa ... mengetahui hal ini?
Ilina tak tahu kenapa tapi ketika ia berbalik melihat Andreas Noah dan kehidupannya, pelan-pelan itu terasa seperti ia melihat dirinya sendiri.
Kesendirian, ketidakpercayaan, kekuatan dari kesepian, dia melalui apa yang Ilina lalui lewat cara yang berbeda.
__ADS_1
"Senior menolakku." Ilina menjatuhkan punggungnya ke tembok dan terpejam. "Apa maksudnya, jika aku tidak memilih pria itu, maka aku akan kehilangan Senior dan kesempatanku memiliki pengganti Senior?"
Mahesa memang selalu kejam.
Lagipula dia yang mengajari Ilina hidup sebagai Ilina yang sekarang.
Dia meninggalkan Ilina, lalu mengancam Ilina, lalu kembali datang dan bermain-main.
Ilina hanya ingin kembali ke desa setelah semuanya berakhir.
*
Noah terduduk setelah kesadarannya terkumpul. Untuk beberapa saat ia terus memejam, sedikit demi sedikit menyusun peristiwa di kepalanya hingga sampai pada pelukan manis dan ciuman sebelum tidur.
Belum cukup.
Masih ada yang mau Noah lakukan.
Tapi tentu saja ia harus bersabar, karena mendapatkan gadis berhati batu itu memerlukan keteguhan sebuah palu.
Noah menunduk. Meraba bekas tempat tidur Ilina yang lagi-lagi menyisakan aromanya.
Ada bekas keringat di tempat tidur juga, karena memang tempat ini belum Noah pasangi pendingin ruangan.
Ditemukan sejumlah rambut Ilina yang rontok, mengingatkan Noah pada gumpalan tisu di kantongnya.
Sambil terus berusaha sadar, Noah mulai meluruskan rambut itu satu per satu.
Rambut Ilina yang panjang memudahkan Noah menyusunnya. Dibagi beberapa bagian rambut itu, lalu mulai mengepangnya agar tidak berhamburan.
Masih butuh banyak helaian rambut. Dan Noah akan bersabar mengambil satu per satu untuk ia jadikan kepangan yang besar.
__ADS_1
*